Oleh: Karles H. Sinaga | Putra Si Tua Hinalang/br. Naibaho
Abstrak
Tulisan ini menelusuri riwayat penulisan Tarombo Siraja Batak — silsilah leluhur yang menjadi rujukan asal-usul marga-marga Batak — mulai dari catatan pejabat dan pengelana Eropa pada akhir abad ke-18 hingga tiga karya penting yang terbit pada kurun 1926–1933. Dengan menyusun kronologi lebih dari selusin penulis kolonial secara berurutan, lalu membandingkannya dengan kajian filologis dan antropologis yang lebih baru, esai ini memperlihatkan bahwa tarombo bukanlah teks tunggal yang diwariskan tanpa perubahan, melainkan hasil proses pencatatan panjang yang terus-menerus dibentuk ulang oleh konteks zamannya.
Di banyak kebudayaan agraris Nusantara, kerbau bukan sekadar ternak pengolah sawah. Ia adalah bahasa — bahasa yang dipakai leluhur untuk berunding dengan alam, dengan sesama, dan dengan diri sendiri. Dari Danau Toba hingga lereng Merapi, dari Ranah Minang hingga dataran Lampung, hewan bertanduk ini berulang kali dipilih sebagai medium untuk menyatakan hal-hal yang sulit diucapkan: syukur, penyerahan diri, kehormatan, bahkan kritik atas watak buruk manusia. Esai ini menelusuri jejak itu, dengan perhatian khusus pada satu ritual yang belakangan ramai diperbincangkan publik: prosesi menginjak kepala kerbau dalam Begawi Cakak Pepadun di Lampung, dan bagaimana ia bersinggungan dengan Kedatun Keagungan Lampung serta dengan wacana politik pada akhir Juni 2026. Tujuannya bukan untuk berpolemik, melainkan mengajak pembaca menimbang kembali bagaimana leluhur memaknai sesuatu, dan bagaimana makna itu bisa dijaga — atau justru terdistorsi — ketika berhadapan dengan zaman yang berbeda.
Menjawab pertanyaan, “Siapakah orang Batak itu?” sering kali memunculkan jawaban yang terpaku pada hal-hal di permukaan. Banyak yang mengira identitas Batak sebatas asal daerah di sekitar Danau Toba atau gaya bicara yang lantang dan tegas. Padahal, kebudayaan Batak adalah salah satu warisan peradaban Nusantara yang paling konsisten menjaga tatanan sosialnya. Identitas ini merupakan sebuah ekosistem budaya yang hidup, digerakkan oleh silsilah yang tajam, hukum adat yang dinamis, dan pandangan hidup yang selalu mencari keseimbangan.
Dalam lanskap sejarah kebudayaan Nusantara, batas antara realitas empiris dan mitologi sering kali melebur menjadi sebuah narasi yang tak terpisahkan. Bagi masyarakat adat Batak, mitos bukanlah sekadar dongeng pengantar tidur atau pelipur lara di waktu senggang. Mitos, khususnya yang berkaitan dengan tarombo (silsilah keturunan), merupakan sebuah konstitusi sosial yang mengikat, merumuskan hukum tak tertulis, dan membentuk identitas komunal yang kokoh. Salah satu epos yang menempati posisi sentral, sekaligus paling kontroversial dalam kosmologi Batak, adalah kisah Si Raja Lontung dan ibunya, Boru Pareme. Narasi ini menyimpan lapisan makna yang sangat kaya, memadukan tragedi, keajaiban, dan tabu, yang di baliknya tersembunyi rancangan peradaban yang sangat canggih.
Tulisan ini akan mengupas tuntas filosofi legenda Si Raja Lontung melalui kacamata antropologi struktural dan fungsional, menelaah hukum sebab-akibat yang membentuk konstelasi politik masa lalu, serta mengevaluasi kalkulasi pengorbanan masa lampau demi keuntungan di masa depan. Lebih dari itu, analisis ini bertujuan untuk merekonstruksi cara kita memandang sejarah. Dengan membongkar kausalitas di balik mitos, kita diajak untuk memahami bagaimana leluhur menyandikan resolusi konflik ke dalam cerita tutur, dan bagaimana kita dapat mengadopsi pola pikir tersebut untuk memajukan peradaban, bertahan dari krisis kohesi sosial, dan memastikan nilai-nilai kearifan lokal tetap berkelanjutan melintasi zaman.
Narasi Asal-Usul: Genealogi, Inses, dan Pengasingan
Untuk dapat menganalisis kausalitas dan filosofi legenda ini, pemahaman yang mendalam mengenai alur peristiwanya adalah sebuah keniscayaan. Narasi bermula dari pusat peradaban purba masyarakat Batak, yakni Sianjur Mula-mula, sebuah lembah subur di kaki barat Gunung Pusuk Buhit. Guru Tatea Bulan, generasi kedua dari Si Raja Batak, memiliki sembilan orang anak. Di antara anak-anaknya tersebut, terdapat anak kembar berlainan jenis bernama Saribu Raja">Saribu Raja dan Boru Pareme. Dalam kesunyian Sianjur Mula-mula dan sempitnya populasi manusia pada saat itu, dorongan alamiah dan kedekatan emosional memicu terjadinya pelanggaran batas kosmis yang paling fundamental: hubungan inses (sedarah) di antara keduanya.
Kehamilan Boru Pareme menjadi sebuah aib besar yang meruntuhkan tatanan sosial yang tengah dibangun. Rapat keluarga yang dipimpin oleh saudara-saudaranya—Limbong Mulana, Sagala Raja, dan Malau Raja—memutuskan hukuman mati bagi Saribu Raja">Saribu Raja dan pengasingan bagi Boru Pareme. Saribu Raja">Saribu Raja berhasil melarikan diri dan mengembara, sementara Boru Pareme dibuang ke hutan belantara di daerah Sabulan, di tepi Danau Toba. Di tempat pengasingan yang penuh bahaya ini, dengan bantuan seekor harimau, Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung.
Kausalitas mitos berlanjut ketika Si Raja Lontung tumbuh dewasa. Menyadari ketiadaan populasi manusia lain di Sabulan, Boru Pareme merancang sebuah siasat yang penuh teka-teki. Ia memerintahkan putranya untuk pergi ke sebuah sumber air suci yang kini dikenal sebagai Aek Sipitu Dai (Air Tujuh Rasa) di daerah Sianjur Mula-mula, dengan tujuan mencari seorang wanita yang layak dijadikan pariban (istri ideal dari pihak paman). Boru Pareme membekali putranya dengan sebuah cincin sebagai penanda. Melalui jalan pintas, Boru Pareme mendahului putranya dan tiba di mata air tersebut dengan wujud yang telah berubah menjadi wanita muda yang sangat jelita. Terperdaya oleh ilusi tersebut dan melihat bahwa cincin peninggalan ibunya pas di jari wanita itu, Raja Lontung menikahinya. Dari ikatan inilah lahir tujuh orang putra dan dua orang putri yang kelak menjadi cikal bakal marga-marga raksasa dalam masyarakat Batak.
Versi petama disebut puteri Si Raja Lontung adalah satu menikah dengan Raja Sumba (II), buktinya adalah Tipang sebagai lahar yang diberikan pada Raja Sumba (II). Versi lainya menyebut ada dua puteri: Boru Amakpandan: Menikah dengan Sihombing, bermukim di Lembah Tipang. Boru Panggabean: Menikah dengan Simamora, bermukim di Lembah Tipang.
Kisah tentang Raja Lontung dan hubungan kekerabatan dengan Raja Sumba II serta posisi dua marga besar, Simamora dan Sihombing, adalah salah satu narasi yang hidup dalam tradisi lisan Batak. Sejak lama cerita ini memicu perdebatan di kalangan peneliti dan keturunan, karena terdapat beberapa versi yang saling bersilangan dan masing-masing membawa argumen serta bukti berbeda. Dalam narasi berikut saya susun alur sejarahnya secara runut dan mengalir agar mudah dicerna, tanpa mengurangi detail yang menjadi pokok perdebatan.
Struktur Kompleks Suku dan Marga Batak: Antara Identitas, Larangan Perkawinan, dan Perpecahan Sejarah
Pendahuluan
Kajian mengenai suku dan marga Batak telah lama menjadi perhatian para penulis, baik dari kalangan kolonial maupun akademisi lokal. Tarombo Siraja Batak, sebagai mitologi genealogis, menjadi dasar pemahaman identitas, struktur sosial, dan hukum adat Batak. Esai ini menelusuri perkembangan penulisan tentang marga Batak dari akhir abad ke-18 hingga awal abad ke-20, menyoroti bagaimana para penulis mencatat, menafsirkan, dan menghubungkan marga dengan sejarah serta adat istiadat masyarakat Batak. Butar kini masih tercatat di Desa Banua Luhu, Kecamatan Pangaran, Tapanuli Utara. Dalam bukunya, W. H. K. Ypes (1932) juga menyebut Butar sebagai nama leluhur (Toga Butar) yang disebut sebagai leluhur marga Butar-butar.
Pernahkah Anda mendengar istilah “Bangso Batak”? Bagi masyarakat Batak, khususnya Batak Toba yang masih konsisten mempertahankannya, kata “Bangso” (Bangsa) bukan sekadar sebutan. Identitas ini mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan abadi dalam nama organisasi kemasyarakatan, seperti Horas Bangso Batak (HBB) yang didirikan dan dipimpin oleh Bapak Lamsiang Sitompul saat ini.
4. Misteri dan Ragam Teori Asal-Usul Sisingamangaraja
Asal-usul sosok Sisingamangaraja dipenuhi oleh berbagai teori yang kontroversial. Beberapa teori yang dianggap kurang memiliki dasar kuat (ilmu cocokologi) antara lain:
Teori bahwa beliau adalah perwujudan dari Prabu Siliwangi dari Jawa yang mengalami moksa dan memiliki nama asli Singodilogo.
Teori yang mengaitkannya sebagai keturunan Raja Aceh yang diutus untuk mengislamkan tanah Batak (hal ini berbenturan dengan catatan perjalanan Fernão Mendes Pinto yang menyatakan Raja Batak saat itu dengan tegas menolak masuk Islam).
Teori yang menyebut beliau keturunan seorang imigran dari India bermarga Singh, sehingga gelarnya “Singh Maharaj” lama-kelamaan berubah lafal menjadi Sisingamangaraja.
Kisah ini merupakan sebuah penelusuran mendalam mengenai asal-usul Sisingamangaraja I. Di dalamnya penuh dengan dinamika sejarah, mitos, pergeseran politik, serta perbenturan antara tradisi adat Batak Toba dengan catatan kronik dari Kesultanan Barus dan catatan para penjelajah Eropa.
1. Hubungan Kuno Silindung dan Barus: Kisah Penebusan Dosa Siopat Pusoran
Jauh sebelum dinasti Islam berdiri di Barus, diperkirakan sejak paruh kedua abad keenam, sudah ada indikasi kuat mengenai keberadaan kerajaan kuno di wilayah Barus. Kerajaan ini umumnya diterima sebagai sebuah kerajaan Batak. Sebagai bandar dunia, sedikit banyak telah menerima pengaruh budaya India (terindianisasi) dan jejaknya masih bisa ditemukan hingga paruh pertama abad keenam belas.
Berdasarkan perpaduan tradisi Batak dan Melayu, hubungan antara wilayah pedalaman (Silindung) dan penguasa pesisir (Barus) bermula dari sebuah konflik adat: