4. Misteri dan Ragam Teori Asal-Usul Sisingamangaraja
Asal-usul sosok Sisingamangaraja dipenuhi oleh berbagai teori yang kontroversial. Beberapa teori yang dianggap kurang memiliki dasar kuat (ilmu cocokologi) antara lain:
- Teori bahwa beliau adalah perwujudan dari Prabu Siliwangi dari Jawa yang mengalami moksa dan memiliki nama asli Singodilogo.
- Teori yang mengaitkannya sebagai keturunan Raja Aceh yang diutus untuk mengislamkan tanah Batak (hal ini berbenturan dengan catatan perjalanan Fernão Mendes Pinto yang menyatakan Raja Batak saat itu dengan tegas menolak masuk Islam).
- Teori yang menyebut beliau keturunan seorang imigran dari India bermarga Singh, sehingga gelarnya “Singh Maharaj” lama-kelamaan berubah lafal menjadi Sisingamangaraja.
Namun, di luar teori tersebut, terdapat tulisan yang memiliki dasar referensi sejarah dari para peneliti Barat, seperti tulisan William Marsden dalam History of Sumatra dan catatan Sir Thomas Stamford Raffles:
Catatan William Marsden
Marsden menuliskan adanya bentuk pemujaan atau penghormatan yang sangat berlebihan dari orang Batak kepada Sultan Minangkabau (tidak disebutkan sultan mana). Orang Batak percaya bahwa padi, ubi, dan kerbau mereka akan mati serta hidup tidak akan sejahtera jika tidak mengirimkan upeti kepada Sultan Minangkabau.
Fenomena ini terjadi di Silindung, di mana mereka percaya Raja Pinangkabau itu adalah manusia suci, abadi, berkuasa, dan merupakan sesosok Dewa juga. Menurut Guru Sinangga, Raja Pinangkabau sendiri sebenarnya adalah gelar lain dari Raja Uti. Berdasarkan tradisi Batak, hal inilah yang membuat mereka harus tetap menghormati Raja Pinangkabau.
Catatan Stamford Raffles
Melalui sepucuk surat kepada William Marsden (bukan di dalam buku History of Java), Raffles mengumpulkan informasi bahwa di antara orang Batak terdapat seorang pemimpin spiritual atau semacam Kaisar yang diakui secara universal dan selalu dihubungkan dengan penanganan kasus bencana alam. Gelarnya adalah Si Singah Maha Rajah yang berkedudukan di Bakkara, distrik Toba.
Informan Raffles menyebutkan bahwa Sisingamangaraja adalah keturunan dari ras Minangkabau yang kuno dan tidak disengketakan, dengan silsilah yang sudah mencapai lebih dari 30 generasi (sekitar 900 tahun). Catatan unik lainnya menyatakan bahwa dalam kesehariannya, Sisingamangaraja tidak hidup dalam kemegahan negara yang besar, namun ia terikat pada aturan ketaatan ritual untuk tidak mengonsumsi daging babi maupun meminum tuak. Masyarakat setempat percaya ia memiliki kekuatan supranatural (hal ini juga ditulis oleh Leonard Y. Andaya dalam buku Leaves of the same tree: trade and ethnicity in the Straits of Melaka).
Mengapa Muncul Klaim Minangkabau?
Kuat dugaan bahwa informasi Marsden dan Raffles dipengaruhi oleh berita sepihak dari Barus. Pada masa itu, Kesultanan Barus secara politik menganggap diri mereka sebagai bagian dari Minangkabau (sebagaimana dicatat Tomé Pires dalam Suma Oriental, bahwa Raja Barus termasuk salah satu Sultan di tanah Minangkabau). Bagi Barus yang sudah memeluk Islam, sangat penting secara politik untuk mengaitkan diri mereka dengan jaringan emporium Islam di Minangkabau atau Aceh. Jane Drakard juga menegaskan bahwa klaim keturunan Minangkabau-Melayu oleh Dinasti Barus Hilir (Sultan Ibrahimsyah) banyak dipengaruhi oleh manuskrip Sejarah Melayu.
5. Jejak Perjalanan Sultan Ibrahimsyah ke Bakkara: Lahirnya Sisingamangaraja I
Kembali pada narasi Kronik Barus, dikisahkan bahwa setelah Sultan Ibrahimsyah Pasaribu mengunjungi Silindung—di mana ia ditolak menjadi raja secara politik dan ajakannya agar rakyat memeluk Islam ditolak (penolakan simbolis yang diperhalus melalui perjanjian upeti hasil bumi)—ia melanjutkan perjalanannya masuk lebih dalam ke pedalaman hingga tiba di Bakkara.
Untuk memahami kondisi Bakkara saat itu, kita perlu melihat latar belakang wilayahnya:
- Sebelum wilayah Bakkara berdiri, daerah Tipang merupakan tanah milik Raja Lontung. Tanah tersebut kemudian diberikan sebagai hadiah pernikahan yang tidak akan pernah usang, yang dikenal dengan istilah Ulos sa boi buruk, kepada menantunya yaitu Raja Sumba II (ayah dari Sihombing dan Simamora).
- Secara teritorial, klan Raja Oloan mendapatkan hak tanah ulayat di Tipang karena pernikahan mereka dengan boru dari Raja Borbor (adik dari Raja Lontung) yang selanjutnya mereka mengafiliasikan diri dengan Pasaribu Barus juga.
- Selanjutnya, keturunan dari Siraja Oloan (kecuali Naibaho dan Sihotang yang tetap tinggal menetap di sekitar Samosir), yaitu marga Bakkara, Sinambela, Sihite, dan Manullang, membuka perkampungan dan tinggal menetap di lembah yang kemudian dinamakan Bakkara. Mereka lahir dari boru Pasaribu yang bermukim di sekitar Tipang, mengingat hubungan persaudaraan awal antara keturunan Saribu Raja (Raja Borbor dan Raja Lontung) masih sangat kuat saat itu.
Menurut catatan Kronik Barus, ketika Sultan Ibrahimsyah Pasaribu masuk ke wilayah Bakkara, ia kemudian menikah dengan boru Sinambela. Dari pernikahan antara Sultan Ibrahimsyah Pasaribu dengan boru Sinambela inilah diklaim lahir seorang putra yang kelak menjadi Sisingamangaraja I (Raja Manghuntal).
6. Analisis Kritis dan Kejanggalan Budaya dalam Kontroversi Sisingamangaraja
Narasi yang menyebutkan bahwa Sisingamangaraja I adalah anak kandung dari Sultan Ibrahimsyah Pasaribu menyisakan tiga kejanggalan besar jika dihadapkan pada hukum adat dan fakta sosiologis masyarakat Batak:
- Pertentangan Garis Keturunan Patrilineal Batak: Suku Batak menganut sistem adat patrilineal (garis keturunan ayah). Secara logika hukum adat, jikalau benar Sultan Ibrahimsyah yang bermarga Pasaribu menikahi boru Sinambela, maka anak mereka (Sisingamangaraja I) seharusnya menyandang marga Pasaribu, bukan marga Sinambela. Nyatanya, seluruh dinasti Sisingamangaraja secara mutlak menyandang marga Sinambela.
- Sudut Pandang Matrilineal Minangkabau dan Hubungan Pariban: Jika mencoba merunut narasi ini menggunakan kacamata adat Minangkabau (di mana suku/marga diwariskan oleh pihak ibu), atau jika asumsinya marga Pasaribu yang disandang Sultan Ibrahimsyah sebenarnya diperoleh dari garis ibunya, maka barulah Sultan Ibrahimsyah bisa menganggap Sisingamangaraja sebagai anaknya. Dalam istilah Batak, hubungan seperti ini membuat mereka disebut marpariban (lahir dari ibu yang bermarga sama atau bersaudara), sehingga secara adat mereka diposisikan setara seperti abang dan adik karena berasal dari satu “rahim” boru yang sama.
- Legitimasi Spiritual dari Raja Uti: Dalam menjalankan roda pemerintahannya, Dinasti Sisingamangaraja selalu menegaskan bahwa mereka memimpin karena mendapat restu spiritual dan mandat langsung dari Raja Uti (sosok yang dianggap sebagai Nabi/Dewa bagi orang Batak). Di sisi lain, klan Raja Borbor sering kali mengidentifikasi bahwa Raja Uti berkerabat dekat dengan marga Pasaribu atau Saribu Raja. Pertalian spiritual inilah yang membuat hubungan antara Dinasti Sisingamangaraja di Bakkara dan kekuatan di Barus terikat sangat kuat secara kultural.
7. Kesimpulan dan Kesaksian M. Joustra (1915): Akhir dari “Bualan” Politik
Hingga hari ini, banyak pihak yang menarik kesimpulan: Sisingamangaraja pada hakikatnya bukanlah seorang Raja Batak dalam pengertian feodal yang berhak mengatasnamakan seluruh tanah Batak, dan ia juga tidak berada di bawah ketundukan politik Kerajaan Minangkabau.
Narasi-narasi sejarah yang ditulis dalam Kronik Barus maupun laporan Marsden dan Raffles cenderung lahir dari proyeksi politik luar perbatasan (frontier) dan diplomasi dagang pada masa itu. Simbol-simbol adat Batak (seperti penghormatan kepada Hula-hula sebagai sumber berkat) diadopsi dan diterjemahkan secara keliru menjadi konsep “upeti ketundukan” oleh pihak kesultanan pesisir yang telah mengalami islamisasi dan melayuisasi. Terlebih jika benar Raja Pinangkabau itu adalah perwujudan Raja Uti, maka sebenarnya tidak ada yang salah dalam kacamata adat. Di kisah Minangkabau sendiri, dikenal pula sosok “Raja Putih” yang dihormati tetapi tidak memiliki keturunan.
Sebenarnya, kontroversi sejarah ini sudah selesai jika tulisan M. Joustra tidak terlewatkan oleh penulis-penulis modern seperti Jane Drakard dan yang lainnya. Cerita pengakuan tersebut secara gamblang disebut sebagai “BUALAN SAJA” oleh M. Joustra dalam laporan perjalanannya hingga ke Sumatera Barat pada tahun 1915. Joustra menyampaikan:
“Boleh dikatakan, dan itu pun hanya sebagian, paling banyak berlaku bagi apa yang biasanya disebut ‘Pasar Baru’, yaitu kawasan perdagangan. Penduduk yang tinggal di sana hampir semuanya orang asing, meskipun kadang masih ada yang berdarah campuran Batak.
Namun Barus yang sebenarnya, yaitu permukiman yang memanjang di sepanjang Sungai Batu Garigis dan jalan utama, hampir seluruhnya berpenduduk Batak, walaupun mereka semua telah memeluk agama Islam. Pemimpinnya, yang bergelar Tuanku, adalah seorang Batak dari marga Pohan. Di Barus Hilir (dahulu merupakan distrik tersendiri, kini digabung dengan Barus Hulu menjadi satu ‘kuria’) tinggal cukup banyak orang ‘Melayu’, yakni sebenarnya orang Minangkabau atau Melayu dari pesisir barat Sumatra. Bandahara Barus Hilir berasal dari Tarusan (di selatan Padang), tempat yang juga disebut dalam kisah tentang Si Singamangaraja sebagai titik awal perpindahan yang berakhir dengan berdirinya Barus. Antara lain, pengangkatan ‘empat raja’ (raja na opat) di Silindung dikaitkan dengan hal tersebut.
Tuanku yang saya sebutkan tadi menyampaikan kepada saya bahwa tokoh Si Singamangaraja sebenarnya tidak ada hubungannya dengan perpindahan penduduk ini. Hubungan keluarga yang disebut-sebut antara para pendatang ‘Melayu’ dengan marga Pasaribu tidak pernah ada, melainkan hanya akal-akalan para kolonis tersebut. Mereka mengatakan bahwa mereka datang ‘beribu-ribu’ (maribu), lalu memanfaatkan kemiripan bunyi antara kata Maribu dan Pasaribu.”
Sejatinya, kita sudah banyak menghabiskan energi untuk membahas hal-hal yang di masa lalu sengaja dimanfaatkan demi kepentingan dan legitimasi politik belaka.
| Kata / Istilah | Jenis / Asal Bahasa | Arti / Penjelasan Singkat |
| Terindianisasi | Istilah Sejarah | Proses penyerapan atau adaptasi unsur-unsur kebudayaan, bahasa, agama, dan sistem tata negara dari India oleh kebudayaan lokal Nusantara. |
| Emporium | Istilah Sejarah / Ekonomi | Pusat perdagangan atau pelabuhan besar tempat bertemunya pedagang dari berbagai belahan dunia untuk bertukar komoditas. |
| Parbaringin | Bahasa Batak Kuno | Lembaga atau korps fungsionaris religius dalam masyarakat Batak tradisional yang bertugas memimpin upacara ritual dan menjaga kesuburan pertanian. |
| Pandetaraja | Bahasa Batak Kuno | Figur pemimpin spiritual tinggi yang menguasai ilmu pengetahuan kuno, hukum adat, dan komunikasi kosmis. |
| Siopat Pusoran | Bahasa Batak | Secara harfiah berarti “Empat Pusaran”. Merupakan konsep legitimasi kekuasaan Sisingamangaraja yang melambangkan penguasaan atas empat penjuru mata angin atau klan utama. |
| Bona Pasogit | Bahasa Batak | Istilah yang merujuk pada tanah asal-usul, kampung halaman, atau tanah leluhur masyarakat Batak. |
| Debata Na I Ida | Bahasa Batak Kuno | Konsep spiritual tentang manifestasi Tuhan atau kekuatan ilahi yang dapat dilihat atau dirasakan kehadirannya di dunia nyata. |
| Mataniari | Bahasa Batak | Kata puitis/kuno untuk Matahari, sering digunakan dalam teks ritual untuk menggambarkan sumber kehidupan dan kekuasaan makrokosmos. |
| Dalihan Na Tolu | Konsep Adat Batak | Sistem kekerabatan dan filosofi hidup masyarakat Batak yang bertumpu pada tiga pilar utama (Somba Marhula-hula, Elek Marboru, Manat Mardongan Tubu) untuk menjaga keseimbangan sosial. |
| Sekuler | Bahasa Indonesia / Serapan | Bersifat duniawi atau kebendaan; tidak bersifat keagamaan atau kerohanian. |
| Makrokosmos | Istilah Filsafat / Sains | Alam semesta yang luas (jagat besar), yang dalam kepercayaan kuno selalu memengaruhi kehidupan manusia (mikrokosmos). |
| Akulturasi | Istilah Sosiologi | Proses perpaduan dua kebudayaan atau lebih yang saling bertemu tanpa menghilangkan ciri khas kepribadian kebudayaan aslinya. |