Van Dijk 1893: 18. Siantar: Peta Politik dan Kedaulatan Sipolha dalam Wilayah Siantar

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 18

Sipolha merupakan salah satu lanskap yang secara geografis termasuk dalam urung (wilayah induk) Siantar, terletak di lereng gunung yang menghadap dan berada di tepian Danau Toba. Rangkaian lanskap di tepian danau ini meliputi Sipolha, Paribuan, Huta mula, dan Tambu Raya.

Baca Selengkapnya

Van Vuuren 1910: 14. Menelusuri 2 dari 5 Jantung Pakpak Silima Suak: Jejak Alam Kelasan dan Kampung Karo

Laporan L. Van Vuuren – Eerste Maatregelen In Pas Geannexeerd Gebied – 1910.

Melanjutkan penjelajahan di Tanah Pakpak, kita akan menemukan dua wilayah yang letaknya berdekatan namun memiliki karakter alam dan kehidupan yang sangat bertolak belakang. Di satu sisi, ada wilayah Kelasan dengan alamnya yang liar dan suram. Namun tak jauh dari sana, terbentang wilayah Karo-Kampong yang cerah dan makmur. Berikut adalah kisah dari dua dunia yang berbeda di pedalaman Pakpak.

Baca Selengkapnya

T. J. Willer 1846: 11. Sejarah Adat Pernikahan Batak Kuno

T. J. Willer Verzameling Der Battahsche Wetten En Instellingen In Mandailing En Pertibie, Gevolgd Van Een Overzigt Van Land En Volk In Die Streken – 1846

Dalam tatanan masyarakat tradisional kita, pernikahan bukan sekadar penyatuan dua insan, melainkan sebuah urusan hukum dan adat yang sangat terstruktur. Peran ayah, aturan silsilah marga, hingga tradisi pertemuan pemuda-pemudi memiliki aturan main yang unik dan penuh makna.

Baca Selengkapnya

Junghuhn 1847: 11. Kejayaan Melayu dan Fakta Kedaulatan Kuno Bangsa Batak

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Dari pelabuhan sibuk Malaka, bangsa Melayu—yang akar leluhurnya berasal dari dataran tinggi Minangkabau atau wilayah Agam kuno—mengepakkan sayapnya ke seluruh penjuru Nusantara dan mencapai puncak kejayaan. Namun, roda sejarah berputar tajam ketika armada Portugis di bawah komando Afonso de Albuquerque menyerang dan merebut Malaka pada tahun 1511. Terdesak oleh invasi asing ini, Sultan Mahmud Shah membawa rakyatnya melarikan diri ke arah timur Semenanjung Malaya, tempat mereka kemudian membangun pusat kekuasaan baru yang tangguh bernama Kesultanan Johor.

Baca Selengkapnya

C. De Haan 1870: 18. Aksara, Daftar Kampung Pulau Toba, dan Hukum Pidana Batak

Bagian 17: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Aksara Karo-Batak dan Mantra Pemanggil Roh Sistem penulisan masyarakat Karo-Batak menggunakan alfabet yang terdiri dari 19 huruf utama.

Aksara Batak Karo / Surat Batak

Baca Selengkapnya

Van Dijk 1893: 17. Siantar: Enklave Silampuyang dalam Struktur Siantar

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 17

Si Lampuyang merupakan sebuah kota kecil dengan populasi sekitar 100 rumah tangga yang letaknya terkurung (enklave) di antara wilayah Dolok Paribuan, Siantar, dan Sidamanik. Secara historis, tanah wilayah ini merupakan bagian dari wilayah langsung Raja Siantar, namun oleh salah satu raja terdahulu, tanah tersebut dihadiahkan kepada Tuan Si Lampuyang.

Baca Selengkapnya

T. J. Willer 1846: 10. Sejarah Hukum Perdata Batak dan Tuhor

T. J. Willer Verzameling Der Battahsche Wetten En Instellingen In Mandailing En Pertibie, Gevolgd Van Een Overzigt Van Land En Volk In Die Streken – 1846

Dalam tatanan masyarakat tradisional kita, hukum perdata bukan sekadar deretan aturan kaku, melainkan sebuah jembatan keadilan yang berpijak pada dua pilar utama: Adat (adat) dan Akal Sehat. Jika suatu persoalan belum memiliki aturan dalam Adat, maka logika dan akal budi menjadi penentu keputusan hukum.

Baca Selengkapnya

Van Vuuren 1910: 13.Menelusuri Tiga Jantung Pakpak Silima Suak: Jejak Alam Pegagan, Kepas, dan Simsim

Laporan L. Van Vuuren – Eerste Maatregelen In Pas Geannexeerd Gebied – 1910.

Wilayah Tanah Pakpak secara tradisional terbagi ke dalam pembagian wilayah adat yang dikenal luas, meski pada rute penjelajahan ini, kita akan membedah tiga bentang alam utamanya terlebih dahulu: Pegagan, Kepas, dan Simsim. Masing-masing wilayah ini tidak dipisahkan oleh tembok buatan manusia, melainkan oleh aliran sungai yang buas, jurang yang menganga, dan punggung gunung yang menjulang tinggi.

Baca Selengkapnya

Junghuhn 1847: 10. Menguak Jejak Peradaban Kuno: Dari Candi di Sumatra Hingga Lahirnya Singapura dan Malaka

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Jauh sebelum para perantau Minangkabau membangun peradaban baru di Singapura pada tahun 1160, dan jauh sebelum Malaka berdiri pada tahun 1252, Nusantara telah menyimpan jejak koloni Hindu-Buddha yang jauh lebih tua. Para peneliti menemukan petunjuk kuat bahwa para pedagang dan pelaut kuno telah membangun permukiman di Pulau Singapura, pantai barat Semenanjung Malaya, hingga menyusuri pedalaman pesisir timur Sumatra di antara muara Sungai Siak dan Asahan.

Baca Selengkapnya

C. De Haan 1870: 17. Hukum Pernikahan, Waris, dan Dinamika Sosial Perempuan Batak

Bagian 17: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Perceraian dan Hukum Jual-Beli Istri Dalam adat Batak, perceraian dapat terjadi melalui kesepakatan bersama yang disertai dengan pengembalian uang mas kawin (koopprijs). Begitu Pengulu mengucapkan putusan, perceraian langsung sah tanpa ada masa pisah ranjang sementara. Anak-anak biasanya mengikuti ayah, namun bisa juga disepakati untuk tinggal bersama ibu. Meskipun bukan adat baku, terkadang dengan persetujuan bersama (termasuk persetujuan istri), seorang suami dapat “menjual” istrinya kepada pria lain.

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.