Junghuhn 1847: 6. Tali Persaudaraan Batak dan Nias: Mengungkap Kesamaan Fisik, Budaya, dan Bahasa


Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Mengamati jejak sejarah bangsa Batak—yang merangkum keragaman sub-etnis yang kaya seperti Toba, Karo, Pakpak, Dairi, Simalungun, Mandailing, hingga Angkola—kita akan menemukan sebuah ikatan persaudaraan yang luar biasa erat dengan masyarakat Nias. Kesamaan di antara kedua bangsa ini bukan sekadar kebetulan letak geografis, melainkan bukti kuat akan kedekatan akar leluhur mereka di masa lampau.

Fisik Berbeda yang Menyerupai Kaukasia Dari segi fisik, orang Batak dan Nias berbagi karakteristik yang membedakan mereka dari bangsa lain di sekitarnya. Tengkorak mereka cenderung bulat seperti orang Eropa, tidak silindris seperti ras Mongol, dan tidak pipih seperti bangsa Melayu. Wajah mereka tampil menawan dengan dahi yang tinggi, tulang pipi yang proporsional, serta bibir yang tipis. Rambut mereka sangat halus dan sering kali memancarkan warna kecokelatan.

Warna kulit mereka memancarkan rona cokelat muda yang cerah. Hal yang paling menarik adalah catatan para penjelajah masa lalu—seperti Horner—yang takjub melihat wanita Nias dan Batak (khususnya Toba) memiliki rona merah muda alami yang merona di pipi mereka.

Secara postur, mereka tampil lebih tinggi dan ramping dengan ukuran tangan yang lebih kecil. Peneliti mencatat rata-rata tinggi orang Nias sekitar 144 cm, sementara orang Toba mencapai 149 cm. Perpaduan karakteristik fisik ini membuat antropolog masa lalu menyimpulkan bahwa mereka memiliki kedekatan ciri dengan ras Hindu-Kaukasia.

Jejak Arsitektur dan Sosial yang Identik Ikatan ini semakin nyata ketika kita melihat budaya bendawi mereka. Baik orang Batak maupun Nias sama-sama menghiasi diri dengan perhiasan khusus, seperti gelang lengan Bima atau Kima.

Ketika memasuki kampung halaman mereka, kita akan disambut oleh tata letak desa yang identik: kampung berbentuk persegi panjang memanjang dengan ruang terbuka yang luas di bagian tengah. Di sekelilingnya, berdiri megah rumah-rumah adat yang bertumpu pada tiang pancang. Empat pilar besar di sudut rumah penuh dengan ukiran indah, menyangga atap rumah yang menjulang sangat curam.

Sistem kemasyarakatan mereka digerakkan oleh struktur demokrasi-patriarkal yang nyaris kembar. Hukum adat (Adat) yang mereka junjung tinggi sangat selaras, termasuk aturan sejarah mengenai sistem perbudakan di masa lalu. Keduanya juga memegang nilai moral yang sama kuatnya, terbukti dari tidak dikenalnya praktik perempuan penghibur (prostitusi) dalam tatanan masyarakat kuno mereka.

Kepercayaan Purba dan Akar Bahasa Di masa lalu, masyarakat Batak dan Nias menunjukkan perlawanan gigih terhadap masuknya agama luar yang baru. Mereka memilih menjaga sistem kepercayaan kuno yang meyakini keberadaan roh-roh (seperti Begu) sebagai penyebab penyakit, yang kemudian disembuhkan melalui ritual adat. Jejak ritual ini juga terlihat pada upacara pemakaman kuno mereka yang sering menggunakan patung-patung kayu berukir simbol Lingga (kesuburan purba).

Namun, bukti keterikatan yang paling tak terbantahkan justru terdengar dari lisan mereka. Bahasa Nias dan Batak bersaudara sangat dekat—bahkan, para ahli bahasa memperkirakan bahwa tiga perempat dari kosakata bahasa Nias murni berakar dari bahasa Batak. Kedekatan ini disempurnakan dengan tradisi sehari-hari, di mana kedua bangsa ini memiliki kegemaran memelihara babi yang kandangnya diletakkan tepat di bawah kolong rumah mereka.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.