P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 18
Sipolha merupakan salah satu lanskap yang secara geografis termasuk dalam urung (wilayah induk) Siantar, terletak di lereng gunung yang menghadap dan berada di tepian Danau Toba. Rangkaian lanskap di tepian danau ini meliputi Sipolha, Paribuan, Huta mula, dan Tambu Raya.
Meskipun demikian, wilayah Sipolha juga mencakup beberapa kampung yang terletak di dataran tinggi (plato), di sepanjang jalan yang menghubungkan Sipolha dengan Siantar, yaitu Si Haporas, Gunung Priama, dan Gara. Batas antara wilayah Siantar dan Sipolha terletak di dekat kampung-kampung terakhir ini. Di satu sisi batas ini, masih di sepanjang jalan yang sama, terdapat kampung-kampung seperti Jerlang, Kabeluan, Piningmaratus, dan akhirnya Si Lampuyang, yang semuanya termasuk dalam wilayah Siantar.
Saat kedatangan komisi pemerintah, Tuan dari Sipolha selaku kepala wilayah sedang terlibat perselisihan dan konflik dengan lanskap-lanskap kecil lainnya yang telah disebutkan, baik yang berada di tepian danau maupun beberapa kampung di dataran tinggi, meskipun pihak-pihak tersebut mengakui bahwa sebelumnya mereka semua berada di bawah kekuasaan Sipolha. Komisi kemudian berhasil mempertemukan para kepala dari kerajaan-kerajaan kecil tersebut dan mengupayakan perdamaian dengan Tuan dari Sipolha. Akhirnya, mereka semua mengunjungi kampung Tuan Sipolha dan mengakuinya sebagai kepala mereka. Sebaliknya, mereka sama sekali tidak ingin mengakui kekuasaan Siantar.
Raja dari Siantar dan pamannya, Tuan Anggi, yang telah berulang kali diundang oleh komisi untuk datang ke Sipolha guna menegaskan hak-hak mereka atas lanskap-lanskap ini, tidak memenuhi undangan tersebut. Hal ini secara jelas menunjukkan bahwa Sipolha beserta wilayah-wilayah bawahannya harus dianggap sebagai sebuah kerajaan yang berdiri sendiri dan merdeka dari Raja Siantar. Baik Raja maupun pamannya sendiri sebenarnya telah menyatakan langsung kepada komisi di Siantar bahwa Sipolha sudah cukup lama tidak lagi mengakui kekuasaan tertinggi Raja.
Adapun perkiraan jumlah rumah tangga di wilayah Sipolha adalah sebagai berikut: Sipolha ± 130 rumah tangga, Paribuan ± 80, Huta mula ± 40, TambuRaya ± 40, Sihaporas ± 30, Gunung Priama ± 10, dan Gara ± 30.
Terakhir, perlu disebutkan mengenai lanskap Repa, yang terletak di Danau Toba dan berbatasan dengan Sipolha di sebelah selatan. Lanskap kecil ini, yang terdiri dari 5 kampung dan sekitar 70 rumah tangga, berasal dari marga Sidamanik. Secara historis, Repa selalu berada di bawah kekuasaan Tuan Sipolha dan merupakan bagian dari lanskap tersebut, bahkan Repa terbentuk dari Sipolha. Namun, Tuan dari Repa sempat menempatkan diri di bawah perlindungan Tuan Dolok Paribuan karena sedang bermusuhan dengan Tuan Sipolha.
Saat komisi tiba di Aji Bata, empat orang dari Sipolha sedang ditahan di Repa. Melalui perantara para kepala wilayah Toba dan Parapat, orang-orang ini berhasil dibebaskan, sehingga hubungan antara Repa dan Sipolha pun membaik. Saat ini, Tuan dari Repa terutama merasa takut pada Tuan Dolok Paribuan; jika tidak, dia pasti sudah bergabung kembali di bawah Sipolha. Oleh karena itu, harus diasumsikan bahwa Repa akan kembali berada di bawah kekuasaan Sipolha segera setelah Tuan Dolok Paribuan dapat ditertibkan.
Secara singkat, wilayah yang dikenal dengan nama umum Siantar ini sebenarnya terdiri dari kerajaan-kerajaan mandiri berikut:
- Bandar.
- Siantar, yang mencakup Sidamanik dan Si Lampuyung.
- Sipolha yang mencakup Paribuan, Huta mula, Tambu raja, Si Haporas, Gunung Priama, Gara, dan Repa.