C. De Haan 1870: 15. Siklus Pesta Panen dan Ritual Kematian Masyarakat Batak

Bagian 15: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Empat Fase Pesta Pertanian Batak Siklus pertanian padi masyarakat Batak selalu diiringi oleh empat perayaan (feesten).

Pesta Pertama (Membuka Lahan): Ketika musim tanam tiba, pria dan wanita pergi ke ladang dengan membawa satu gantang beras per orang. Di sana, mereka bersepakat dengan sesama warga desa atau desa tetangga untuk bergotong royong membalikkan tanah rumput (plaggen). Setelah kesepakatan tercapai, mereka kembali ke salah satu kampung, menumbuk beras yang dibawa menjadi tepung, mencampurnya dengan air dan garam, lalu memakannya bersama. Puncak keseruannya adalah saat para pemuda dan pemudi saling mengusapkan sisa tepung ke wajah satu sama lain dengan penuh canda tawa, sementara pria dan wanita yang sudah menikah dilarang ikut campur di area lesung. Setelah itu, pemuda dan pemudi mandi di tempat terpisah. Saat kembali, para gadis telah menghias diri dengan bunga, dedaunan hijau, dan melumuri wajah mereka dengan kunyit kuning. Pesta pembuka ini berlangsung selama satu hari.

Baca Selengkapnya

C. De Haan 1870: 10. Struktur Sosial Batak: Legenda Lima Marga, Sanina, dan Anakběru

Bagian 10: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Filosofi Lima Marga dalam Masyarakat Batak Kehidupan sosial masyarakat Batak sangat lekat dengan pembagian suku (marga) serta peran Sanina dan Anakběru. Pada dasarnya, terdapat lima marga utama. Dalam kelompok Karo-karo (Karo), marga tersebut adalah Ginting, Perangin-angin, Sembiring, Tarigan, dan Karo-Karo. Sementara dalam kelompok Tébatěbasch (Toba), namanya adalah Muntei, Sinaga, (Nai) Suanon, Girsang, dan Nébàgho (Naibaho).

Baca Selengkapnya

C de Haan 1870: 9. Geopolitik dan Demografi Konfederasi Desa Batak

Bagian 9: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C De Haan 1870)

Selain mengatur urusan internalnya, sebuah kampung (desa utama) juga memiliki wewenang hukum untuk mengadili perselisihan antar-dusun (desa bawahan) yang ada di bawahnya. Konsep pemerintahan berjenjang ini terlihat jelas pada tata kelola beberapa konfederasi dan kerajaan kecil Batak yang memiliki dinamika politik serta demografi yang unik pada tahun 1870.

1. Konfederasi Sitělukuru (Tiga Bersatu) Berbatasan dengan Tran, Sitělukuru adalah kerajaan Batak paling barat. Meski merdeka, mereka memiliki ikatan erat dengan Děli dan kerap mengandalkan bantuan raja Děli serta kepala suku tetangganya untuk menyelesaikan sengketa. Wilayah ini dikenal tunduk atau “mendengarkan Sunggal”. Pemerintahan dipegang oleh tiga pemimpin bersaudara: Sibayak dari Lingga, Penghulu Surbakti, dan Penghulu Gajah. Populasi dihitung berdasarkan “tangga” (satu rumah dihuni sekitar 8 keluarga), dengan total populasi mencapai 2.632 tangga:

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.