Melihat pasukannya sempat terpukul mundur di gerbang Gangga Nagara, Raja Suran tidak tinggal diam. Ia segera menaiki gajah besarnya dan menerjang maju menuju gerbang benteng. Meski hujan tombak dan panah menyasar dirinya, ia tetap teguh. Raja Suran kemudian menghantamkan senjata sakti chacra-nya ke gerbang tersebut hingga hancur seketika. Ia pun merangsek masuk ke dalam benteng bersama seluruh barisan prajuritnya.
Sumatera
Van Alkemade 1887: 7. Menyusuri Batas Alam dan Gugusan Pulau Milik Kerajaan Pulau Lawan
Upaya para peneliti Hindia Belanda untuk memetakan pedalaman Sumatra sering kali menemui jalan buntu. Peneliti J.G. Schot rupanya menjadi orang pertama yang berani menembus dan mengulas kawasan perbatasan Sungai Danai secara terperinci.
Dr. J. Leyden 1821: 4. Silsilah Agung Raja Suran dan Ambisi Penaklukan Cina
Waktu terus bergulir hingga akhirnya Putri Shaher-ul Beriah melahirkan seorang putra. Raja Kida Hindi memberi bayi itu nama Araston Shah. Anak ini tumbuh menjadi pemuda yang sangat mirip dengan ayahnya, sang penguasa dunia, Raja Secander Zulkarneini. Kelak, Raja Araston Shah menikahi putri dari raja Turkestan dan dikaruniai putra bernama Raja Aftas.
Van Alkemade 1887: 6. Mengurai Benang Kusut Perbatasan Pulau Lawan: Dari Pulau Penjaleian Hingga Sungai Kampar Kecil
Perdebatan mengenai nama-nama wilayah di sekitar Sungai Kampar juga terekam jelas pada berbagai peta masa itu. Mari kita ambil contoh sebuah pulau yang sempat membingungkan banyak pihak. Pada peta navigasi lama, pembuat peta mencatatnya sebagai Pulau Mendol atau Penjaleh. Sementara itu, dalam peta buatan Havenga dan tim Stemfoort, namanya tertulis sebagai Mendol atau Penjaleian. Dari semua versi ini, bentuk “Penjaleian” tampaknya menjadi ejaan yang paling akurat.
Dr. J. Leyden 1821: 3. Asal-usul Raja Melayu dan Kisah Legenda Raja Secander
Seorang penulis sejarah sejati harus memulai karyanya dengan niat tulus untuk menyampaikan kebenaran berdasarkan informasi terbaik yang ia miliki. Begitu pula dengan kisah ini, yang lahir dari sebuah pertemuan istimewa antara para cendekiawan dan bangsawan.
Dr. J. Leyden 1821: 2. Monopoli Belanda dan Runtuhnya Kejayaan Perdagangan Melayu
Dunia mungkin akan melihat wajah Asia Tenggara yang berbeda hari ini seandainya Belanda menerapkan kebijakan ekonomi liberal di masa lalu. Jika saja kondisi lokal di Batavia tidak menghambatnya, kebijakan yang terbuka bisa saja membawa kemajuan peradaban dan kemakmuran yang merata di seluruh kepulauan ini. Namun sayangnya, sejarah mencatat jalan yang berbeda.
Dr. J. Leyden 1821: 1. Jejak Melayu dalam Catatan Sejarah
Menghadirkan sebuah karya sejarah ke hadapan publik tentu memerlukan latar belakang yang jelas. Kita perlu memahami dalam kondisi apa tulisan ini dibuat, apa tujuan sang penerjemah, serta bagaimana karakter masyarakat yang kisahnya terekam dalam lembaran-lembaran ini.
Van Alkemade 1887: 3. Jejak Minangkabau di Kampar Barat dan Jatuhnya Pulau Lawan ke Tangan Belanda
Aliran Sungai Kampar Kanan tidak hanya menghidupi wilayah pesisir, tetapi juga mengairi daerah pedalaman yang sejak lama dianggap sebagai bagian dari Dataran Tinggi Padang. Wilayah pedalaman ini meliputi Kampar Hulu (Kampar di Oeloe), Kampar Tengah, Kampar Hilir (Kampar di Ilir), serta Pangkalan Kota Baru yang berlokasi di Sungai Mahat (cabang dari Kampar Kanan). Masyarakat secara kolektif sering menyebut kawasan ini sebagai wilayah Kampar Barat.
Van Alkemade 1887: 2. Melacak Jejak Kerajaan Kampar: Dari Pulau Lawan Hingga Filosofi Perbatasan “Belut”
Sejarawan Van Rijn van Alkemade bersikeras menulis nama daerah ini sebagai “Poeloe Lawan”. Namun, bagi mereka yang lebih mahir berbahasa Melayu, ejaan yang paling tepat sebenarnya adalah “Pulau Lawan”. Meski begitu, dalam menelaah catatan sejarah, kita sering kali membiarkan perbedaan ejaan ini karena maknanya tetap merujuk pada tempat yang sama.
Van Alkemade 1887: 1. Misteri di Balik Nama Pelalawan: Antara “Pulau Musuh” dan “Titik Penghalang”
J. A. Van Rijn Van Alkemade: Perjalanan dari Siak ke Pulaulawan – 1887
Menentukan nama yang tepat untuk sebuah wilayah sering kali membuat para sejarawan pusing kepala, apalagi jika mereka tidak benar-benar memahami akar sejarah wilayah tersebut. Prof. P.J. Veth pernah menyoroti kebingungan ini saat mengkaji sebuah daerah di tepian Sungai Kampar. Masalahnya berpusat pada satu pertanyaan sederhana: apakah nama daerah itu Pulau Lawan atau Pelalawan?