Dunia mungkin akan melihat wajah Asia Tenggara yang berbeda hari ini seandainya Belanda menerapkan kebijakan ekonomi liberal di masa lalu. Jika saja kondisi lokal di Batavia tidak menghambatnya, kebijakan yang terbuka bisa saja membawa kemajuan peradaban dan kemakmuran yang merata di seluruh kepulauan ini. Namun sayangnya, sejarah mencatat jalan yang berbeda.
Sumber: Dr. John Leyden: Malay Annals – 1821.
Kita justru menyaksikan kebijakan serakah yang menelan sumber daya luas Kepulauan Malaya ke dalam sistem monopoli yang sempit dan kaku. Alih-alih membiarkan perdagangan berkembang secara alami di pusat-pusat pasar tradisional, Belanda justru memaksakan aturan sewenang-wenang yang membatasi gerak para pedagang. Peraturan ini terbukti menjadi malapetaka, tidak hanya bagi penduduk pribumi yang tercekik, tetapi pada akhirnya juga merugikan pihak Belanda sendiri. Karena ambisi yang terlalu besar untuk menguasai segalanya, mereka justru kehilangan potensi keuntungan jangka panjang yang jauh lebih besar.
Bangsa-bangsa pribumi yang kehilangan hak perdagangan yang adil perlahan mulai menyerah. Mereka meninggalkan segala upaya niaga dan tenggelam ke dalam kondisi yang tidak berarti. Inilah pemandangan yang ditemukan oleh para pedagang Inggris ketika mereka mulai berlayar dari Madras dan Bengal menuju laut-laut di nusantara.
Kehancuran perdagangan pribumi akibat kebijakan yang melemahkan ini merupakan akar dari banyak masalah besar, termasuk maraknya praktik pembajakan laut yang sering dikeluhkan. Bayangkan sebuah bangsa maritim dan pedagang yang tiba-tiba kehilangan mata pencaharian jujur mereka. Mereka terjebak dalam kelesuan dan kemalasan, atau justru meluapkan energi alami mereka dengan cara kekerasan. Mereka mencoba merebut kembali melalui penjarahan apa yang telah dirampas dari mereka lewat tipu daya kebijakan kolonial.
Dalam masa kemunduran ini, energi bangsa Melayu seolah padam, hingga akhirnya kedatangan para pedagang Inggris kembali membangkitkan semangat kewirausahaan mereka. Seiring memudarnya kekuasaan Belanda di Timur, pengaruh Inggris mulai masuk. Jauh sebelum penaklukan Jawa, Inggris sebenarnya telah menguasai sebagian besar jalur perdagangan di wilayah ini.
Jika kita melihat betapa luasnya kepulauan yang tak tertandingi ini, karakter unik penduduknya, serta kekayaan sumber dayanya yang tak terhingga, potensinya sangat luar biasa. Kedekatannya dengan Tiongkok dan Jepang, ketenangan lautnya, serta keteraturan musimnya adalah fasilitas alam yang sempurna bagi perdagangan dunia. Sulit membayangkan seberapa tinggi tingkat peradaban yang bisa dicapai jika saja arus perdagangan dibiarkan mengalir bebas di bawah perlindungan pemerintahan yang lebih tercerahkan dan liberal.
Perdagangan yang dijalankan dengan benar pasti akan memberikan keuntungan timbal balik. Saat satu pihak menjadi kaya, pihak lain akan terangkat derajat peradabannya melalui terciptanya kebutuhan baru, industri, dan persaingan yang sehat. Kini, prasangka buruk yang selama ini melekat pada orang Melayu mulai memudar. Tidak seperti bangsa-bangsa di daratan India yang lebih kaku, masyarakat di Kepulauan Timur ini—mulai dari suku Harafora yang sederhana hingga masyarakat Jawa dan Siam yang lebih maju—memiliki satu kesamaan yang kuat: mereka tidak memiliki prasangka yang mengakar dan memiliki semangat kebebasan yang sangat tinggi untuk menerima gagasan-gagasan baru.