Dr. J. Leyden 1821: 3. Asal-usul Raja Melayu dan Kisah Legenda Raja Secander

Seorang penulis sejarah sejati harus memulai karyanya dengan niat tulus untuk menyampaikan kebenaran berdasarkan informasi terbaik yang ia miliki. Begitu pula dengan kisah ini, yang lahir dari sebuah pertemuan istimewa antara para cendekiawan dan bangsawan.

Sumber: Dr. John Leyden: Malay  Annals – 1821 – Sejarah Melayu

Dalam pertemuan itu, seorang tokoh penting menyampaikan bahwa ia mendengar sebuah cerita Melayu yang baru saja dibawa oleh seorang bangsawan dari negeri Gua. Sang tokoh menyarankan agar seseorang mengoreksi dan menyusun kembali cerita tersebut sesuai dengan adat istiadat dan institusi Melayu, agar menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang.

Mendengar hal itu, penulis terdorong untuk memulai pekerjaan besar ini. Saat itu, hadir pula para pembesar kerajaan, di antaranya Tun Mahmud yang bergelar Paduka Raja, seorang Bendahara yang memiliki garis keturunan mulia hingga ke para leluhur di Gunung Sagantang Maha Miru. Peristiwa ini terjadi pada pagi hari kelima, tanggal 12 Rabiul-awal, tahun Dal, Hijrah 1021.

Kala itu, wilayah Aceh dipimpin oleh Sultan Ala-ed-din, seorang penguasa dengan silsilah panjang yang mencapai Sultan Mansur Shah hingga Sultan Muhammed Shah. Di tengah suasana tersebut, Raja Dewasayit mendatangi sang penulis, Bendahara Sri Narawangsa Tun Mambang, membawa perintah dari penguasa tinggi Sultan Abdallah. Perintahnya jelas: susunlah sejarah raja-raja Melayu beserta catatan lembaga-lembaga mereka agar tidak hilang ditelan zaman. Setelah merenung dan memohon pencerahan kepada Tuhan, penulis akhirnya menyusun karya ini dengan judul Sillaleteh-al-salatin atau Sala-silah Peraturan Segala Raja-Raja.

Legenda Raja Secander dan Putri Kida Hindi

Kisah ini membawa kita jauh ke masa lampau, saat Raja Secander, putra Raja Darab dari Rum yang dikenal sebagai Zulkarneini, memiliki keinginan besar untuk melihat tempat terbitnya matahari. Dalam perjalanannya, ia mencapai perbatasan tanah Hind (India). Di sana, ia berhadapan dengan Raja Kida Hindi, seorang penguasa perkasa yang menguasai separuh daratan Hindostan.

Pertempuran hebat segera pecah antara kedua pasukan besar tersebut. Namun, sesuai catatan sejarah, Raja Kida Hindi akhirnya kalah dan ditawan. Setelahnya, ia memeluk agama yang benar sesuai hukum Nabi Ibrahim sebelum akhirnya dikembalikan ke negerinya sebagai sekutu.

Raja Kida Hindi memiliki seorang putri bernama Shaher-ul Beriah. Kecantikannya luar biasa; wajahnya bersinar seperti matahari, dengan kecerdasan yang setara dengan keindahannya. Melalui perundingan antara menteri utama dengan Nabi Khizei (penasihat Raja Secander), disepakati bahwa Raja Secander akan menikahi putri tersebut. Dengan mahar sebesar 300.000 denar emas, pernikahan agung itu pun berlangsung.

Raja Secander tinggal selama sepuluh hari untuk menghormati upacara pernikahan sebelum melanjutkan perjalanannya menuju tempat terbitnya matahari. Sekembalinya dari sana, Raja Kida Hindi memohon agar putrinya tetap tinggal bersamanya untuk sementara waktu, dan Raja Secander mengabulkannya.

Tanpa diketahui oleh Raja Secander maupun sang putri sendiri pada awalnya, Putri Shaher-ul Beriah ternyata telah mengandung. Baru sebulan setelah kepulangan Raja Secander, sang putri menyadari bahwa ia telah berhenti haid selama dua bulan. Kabar ini disambut dengan sukacita luar biasa oleh Raja Kida Hindi, yang bangga karena janin di rahim putrinya adalah keturunan dari penguasa besar Raja Secander Zulkarneini.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.