Secara umum, jumlah hewan ternak besar di wilayah ini sangat sedikit. Populasi kerbau tergolong sangat rendah, demikian pula dengan “jawi” (sapi)1 yang jumlahnya tidak signifikan, meskipun sebenarnya tersedia lahan penggembalaan yang luas, terutama di sekitar kampung-kampung. Beberapa ekor kerbau terlihat utamanya di Bandar, Siantar, dan lanskap-lanskap di tepian danau, di mana juga ditemukan beberapa kawanan “jawi”. Sebaliknya, hewan ternak kecil seperti kambing, ayam, dan babi sangat banyak ditemukan. Di setiap tempat yang dikunjungi, penduduk setempat seringkali memberikan persembahan berupa kambing atau ayam2, mencerminkan harganya yang umumnya sangat murah. Populasi kuda juga rendah dan hanya ditemukan di beberapa tempat tertentu, jumlahnya tidak dapat dibandingkan dengan populasi kuda di wilayah Tanah Tobaen. Angka pasti mengenai jumlah ternak ini tidak dapat disajikan karena kurangnya catatan.
Mengenai hasil hutan, terdapat perdagangan yang cukup ramai dengan Pesisir Timur untuk beberapa produk utama seperti rotan, damar, getah-percah3, kemenyan, dan lain-lain. Atas semua produk perdagangan ini, dibayarkan hak (pajak/bea) kepada para kepala wilayah. Sebagai contoh, di Padangan, sebuah pusat perdagangan pedalaman yang terletak di wilayah Tuan dari Bandar—di mana saat ini telah berdiri semacam passar (pasar)—baik Tuan dari Bandar maupun Raja dari Siantar menempatkan perwakilan mereka. Para perwakilan ini bertugas memungut hak ekspor atas produk-produk yang berasal dari wilayah kerajaan mereka masing-masing. Pajak yang dikenakan, jika tidak salah ingat, adalah satu per sepuluh dari semua produk, atau sekitar 10 persen dari nilainya.
Sumber: P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893
Catatan tambahan (lihat Daftar Pustaka ) oleh KHaS:
- J. L. VAN DER TOORN 1891 – Kamus Bahasa Minang-Melayu Belanda: jawi: 1. aku sapi ; 2. jawi-djawi nama tanaman ficus.
Saya tidak menemukan kata “jawi” dalam bahasa Simalungun (Kamus: Zubeirsyah M. Hasyim dkk,
Sementara Kamus Karo – Belanda M. Joustra – 1907 menyebut: jawi, Melayu, Melayu; Muslim. njawikin, menyunat.
Dan kamus Toba-Jerman J. Warneck dan H. J. Eggink juga tidak ada kata “jawi”.
Sehingga kemungkinan ini masalah terjemah oleh dari translator yang diperkerjakan Van Dijk. ↩︎ - Faktor inilah kemungkinan membuat dalam adat dikenal Dayok Binatur, atau Manuk Binatur atau Manuk Naniatur yang menjadi simbol makanan ekslusive Simalungun hingga kini.
Dayok Binaturu menurut Andrianus Prananta Barus:
Dayok Binatur bukan hanya sekadar makanan tradisional, tetapi juga memiliki peran penting sebagai simbol budaya yang memiliki makna filosofis, sosial, dan spiritual. Berdasarkan temuan penelitian tentang nilai-nilai budaya dan filosofis Dayok Binatur dalam masyarakat Simalungun, dapat disimpulkan bahwa Dayok Binatur merupakan representasi dari nilai-nilai adat, moral, spiritual, dan sosial yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. Dayok Binatur memiliki makna filosofis dan budaya dalam upacara pernikahan dan acara penting lainnya sebagai tradisi. ↩︎ - Sumatera dulu juga di kenal sebagai Pulau Perca termasuk tertulis dalam naskah Pustaka Alim Kembaren juga History of Sumatera-nya William Marsden.
Menurut Tati Karliati dkk: Getah perca merupakan Salah satu elastomer (jenis polimer (material berukuran panjang) yang memiliki sifat viskoelastis, artinya sangat elastis dan fleksibel seperti karet, serta mampu kembali ke bentuk asalnya setelah ditarik atau diregangkan) yang ramah lingkungan, renewable dan biodegradable adalah karet trans-1,4-isoprena atau dikenal dengan getah perca (gutta percha) (Febrianto et al. 1999). Getah perca tergolong hasil hutan non-kayu yang diperoleh dari hasil ekstraksi daun dan penyadapan batang pohon genus Palaquium yang termasuk famili Sapotaceae terutama Palaquium gutta Burck dan P. oblongifolium Burck. Di Indonesia, pohon-pohon penghasil getah perca tersebar di Kepulauan Riau, Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Irian Jaya dan daerah lainnya. ↩︎