Van Vuuren 1910: 14. Menelusuri 2 dari 5 Jantung Pakpak Silima Suak: Jejak Alam Kelasan dan Kampung Karo

Laporan L. Van Vuuren – Eerste Maatregelen In Pas Geannexeerd Gebied – 1910.

Melanjutkan penjelajahan di Tanah Pakpak, kita akan menemukan dua wilayah yang letaknya berdekatan namun memiliki karakter alam dan kehidupan yang sangat bertolak belakang. Di satu sisi, ada wilayah Kelasan dengan alamnya yang liar dan suram. Namun tak jauh dari sana, terbentang wilayah Karo-Kampong yang cerah dan makmur. Berikut adalah kisah dari dua dunia yang berbeda di pedalaman Pakpak.

1. Kelasan: Negeri Lembah Curam dan Hutan yang Suram

Jika wilayah Simsim sudah dianggap terjal, maka bentang alam wilayah Kelasan jauh lebih liar dan menantang. Wilayah ini dibelah oleh sungai-sungai besar yang mengamuk di dasar jurang.

Dua sungai utama, yakni Lai Rambé (yang bermata air di dekat Danau Toba) dan Lai Semungoh, mengalir dan bersatu membentuk sungai raksasa bernama Lai Tjenendang. Sungai ini kemudian mendapat tambahan debit air yang luar biasa dari Lai Gundur. Sungai-sungai ini mengukir lembah dan jurang yang sangat lebar dan dalam ke dasar bumi. Saking curamnya, penduduk lokal sering kali hanya bisa turun ke arah sungai dengan cara bergelantungan pada tali-tali rotan. Di beberapa titik yang memungkinkan, mereka membentangkan jembatan rotan di atas jurang, dihiasi oleh pemandangan jeram yang buas dan air terjun megah yang membelah tebing.

Kehidupan di Balik Hutan Purba Ciri utama dari Kelasan adalah hutan purba yang sangat lebat. Berbeda dengan dataran Toba yang tandus, begitu Anda memasuki wilayah Kelasan, Anda akan langsung disambut oleh lautan pepohonan raksasa.

Kesan pertama bagi siapa pun yang memasuki wilayah ini adalah rasa suram. Kampung-kampung suku Kelasan Pakpak selalu tersembunyi, dikelilingi oleh jurang dalam, dan atap rumah mereka yang terbuat dari serat ijuk hitam pekat membuat suasana semakin gelap.

Masyarakat Kelasan membuka hutan untuk dijadikan ladang pertanian dengan cara menebang dan membakar semak belukar. Namun, mereka memiliki kebiasaan unik: membiarkan pohon-pohon yang sangat besar tetap berdiri. Akibat pembakaran itu, pohon-pohon raksasa tersebut mati, menyisakan batang dan cabang putih pucat tanpa daun yang menjulang ke langit, menambah kesan mistis di area perladangan.

Di tengah ladang yang suram ini, mereka membangun gubuk-gubuk kecil beratap bambu untuk berteduh. Di sinilah mereka menanam padi kering, pisang, tebu, dan umbi-umbian yang mereka sebut gadung. Anehnya, pohon kelapa hampir tidak bisa ditemukan di wilayah ini.

Namun, kekayaan sejati Kelasan bukan pada ladangnya, melainkan pada hutannya. Hutan tropis ini menyimpan harta karun berupa Pohon Kemenyan (keminjen), yang menjadi sumber penghidupan utama warga. Selain itu, hutan ini sangat kaya akan pohon karet getah (sirongit rongit), getah perca (meang), serta pohon palem penghasil ijuk. Untuk urusan buah, mereka hanya mengandalkan mangga asam liar dan buah durian ukuran kecil (tarutung).

2. Karo-Kampong: Oasis Kemakmuran di Hilir Sungai

Perjalanan menurun mengikuti aliran sungai Lao Reun ke arah hilir akan membawa kita ke sebuah wilayah yang disebut Karo-Kampong. Begitu menginjakkan kaki di sini, pemandangan suram hutan purba Kelasan seketika lenyap.

Sebagai gantinya, mata kita akan dimanjakan oleh hamparan padang ilalang yang luas dan cerah. Pemandangannya sangat indah dan hidup. Jika di Kelasan kelapa sulit tumbuh, di sini kampung-kampungnya justru tersembunyi di balik rimbunnya kebun kelapa dan pohon pinang. Di padang rumputnya yang luas, kawanan sapi dan kerbau gemuk merumput dengan tenang, memberikan kesan kuat bahwa ini adalah wilayah yang sangat subur dan kaya.

Perpaduan Budaya dan Kekayaan Alam Meski bernama Karo-Kampong, penduduk di wilayah hilir Lao Reun ini sangat beragam:

  • Di tepi kiri sungai (daerah Batu-Gun Gun hingga RantĂ©-Besi), pemukimannya didirikan oleh para perantau dari wilayah Pakpak Kepas dan Simsim.
  • Di tepi kanan sungai, bermukim keturunan dari Pakpak Pegagan.
  • Barulah semakin ke hilir (melewati Huta Pinang), kita akan menemukan pemukiman keturunan asli Karo.

Meski medannya tetap menantang, tanah ini menyimpan kekayaan luar biasa. Di sebuah punggung gunung dekat daerah Buluh Laga, pernah ditemukan bijih timah berkualitas tinggi yang juga mengandung perak.

Lebih menakjubkan lagi, di daerah Lao Perimbun, terdapat satu-satunya area sawah (padi basah) di seluruh bentang alam ini. Masyarakat di sana sangat pandai bercocok tanam. Selain padi, mereka menanam tembakau dengan kualitas nomor wahid, memanen aneka buah seperti pepaya, jambu, dan jeruk nipis unggulan, serta secara mandiri mulai membudidayakan pohon karet (Ficus elastica) yang tumbuh subur di ladang-ladang mereka.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.