Junghuhn 1847: 8. Misteri Pegunungan India: Menemukan Kembaran Leluhur Bangsa Batak pada Suku Tuda

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Setelah membandingkan bangsa Batak dengan berbagai ras di Asia Timur, mari kita alihkan pandangan ke daratan Asia Selatan, tepatnya pada bangsa Hindu. Secara fisik, bangsa Hindu memiliki postur tubuh sedang, meramping, dengan anggota gerak yang sangat lentur. Bentuk kepala mereka memanjang, menghiasi wajah oval dengan hidung yang mancung, serta proporsi wajah yang teratur nan menawan. Rambut dan mata mereka umumnya berwarna gelap, meski banyak juga yang memiliki rambut kecokelatan. Karakteristik ini melekat kuat pada masyarakat Hindu di Malabar, Deccan, Hindustan, hingga para leluhur emigran yang berlayar ke Sri Lanka maupun Kepulauan Sunda.

Fenomena Suku Terasing: Dari Sumatra hingga Hindustan Bangsa Batak—yang merangkum keragaman luhur sub-etnis Toba, Karo, Pakpak, Dairi, Simalungun, Mandailing, dan Angkola—tampil begitu unik dan berbeda di tengah dominasi bangsa-bangsa Melayu di Nusantara. Menariknya, daratan Hindustan juga menyimpan fenomena sejarah yang sama persis.

Di daerah pegunungan India yang terpencil, para penjelajah menemukan kelompok-kelompok masyarakat kecil yang ciri fisik, raut wajah, bahasa, hingga adat istiadatnya sangat menyimpang dari jutaan manusia yang mengelilingi mereka. Hingga detik ini, para ahli etnografi masih kebingungan melacak dari mana asal-usul masyarakat pegunungan ini. Dua di antara kelompok misterius tersebut adalah Suku Puharri di Pegunungan Rajmahal dan Suku Tuda di Pegunungan Biru (Nilgiri) Malabar.

Suku Tuda: Pantulan Cermin Budaya Batak di India Ketika orang Inggris pertama kali menemui Suku Tuda sekitar 40 tahun yang lalu, mereka begitu takjub hingga menjuluki suku ini sebagai “malaikat duniawi” yang hidup di negeri nirwana.

Secara fisik, Suku Tuda memancarkan pesona yang luar biasa. Pria-pria mereka bertubuh sekuat Herkules, mewarisi profil wajah Kaukasia yang menyerupai siluet patung Yunani klasik. Mereka memiliki hidung mancung ala Romawi, mata yang besar, dan rambut yang ikal. Pembawaan mereka selalu riang dan penuh keanggunan.

Jika kita membedah tradisi dan keseharian Suku Tuda, kita seolah sedang melihat bayangan cermin dari peradaban kuno bangsa Batak:

  • Pakaian dan Perhiasan: Sama seperti kebiasaan leluhur Batak, Suku Tuda membiarkan kepala dan tubuh bagian atas mereka terbuka. Mereka juga gemar menghiasi lengan dan leher dengan tumpukan cincin logam.
  • Gaya Hidup: Keduanya adalah masyarakat yang sangat dekat dengan alam dan menggembalakan ternak sebagai denyut nadi kehidupan.
  • Sistem Sosial: Suku Tuda menjalankan sistem tata negara patriarkal yang murni, sama halnya dengan sistem marga dan adat pada masyarakat Batak.
  • Kepercayaan: Mereka tidak menganut kultus agama formal tertentu dari bangsa-bangsa besar di sekitarnya.
  • Bahasa: Gaya tutur bahasa Suku Tuda menghasilkan banyak bunyi serak (guttural) yang menggema dari kedalaman dada, sebuah karakteristik pelafalan yang juga kental dalam bahasa Batak.
  • Ritual Kematian: Persamaan ini mencapai puncaknya pada upacara adat. Saat melepas kepergian seseorang, Suku Tuda mengkremasi jenazah dan menyembelih banyak kerbau—sebuah ritual sakral yang gema dan nuansanya sangat identik dengan kemegahan upacara pemakaman adat Batak.

Sama halnya dengan misteri bangsa Batak di Sumatra, asal-usul Suku Tuda seolah terputus dari rantai sejarah tetangga-tetangganya, menjadikan mereka sebagai salah satu teka-teki antropologi paling menawan di daratan Asia.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.