Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847
Dalam penelusuran sejarah peradaban masa lalu, para penjelajah juga menyoroti Suku Gond di dataran tinggi Gondwana (India) serta Orang Samang (atau Udai) di Semenanjung Malaya. Nama Orang Samang sering kali muncul karena adanya rumor gelap yang menyebutkan bahwa mereka mempraktikkan kanibalisme, seperti memakan anggota keluarga yang sakit.
Namun, banyak ahli sejarah dan antropolog masa itu sangat meragukan cerita tersebut karena bertentangan dengan nurani dasar manusia. Ironisnya, narasi kelam yang sama pernah digunakan untuk menyudutkan bangsa Batak. Banyak catatan kolonial awal yang memfitnah masyarakat Batak dengan tuduhan serupa. Faktanya, para peneliti yang melihat lebih dekat menemukan kebenaran yang jauh berbeda. Bangsa yang menjunjung tinggi tatanan hukum adat ini tidak pernah memakan daging manusia sebagai kebiasaan sehari-hari. Praktik ekstrem tersebut murni hanya terjadi sebagai hukuman mati atau di tengah pusaran perang yang brutal—ketika amarah dan dendam sesaat menggelapkan akal sehat.
Pengukuran Fisik: Bukti yang Membedakan
Untuk memastikan posisi bangsa Batak di antara bangsa-bangsa Asia, para peneliti bahkan melakukan perbandingan anatomi tubuh secara teliti. Menggunakan standar pengukuran klasik Eropa masa lalu, mereka membandingkan tinggi badan serta proporsi tubuh penduduk Sunda di Jawa, orang Melayu, dan masyarakat Batak.
Hasilnya sangat tegas: bangsa Batak menampilkan karakteristik yang sangat khas dan berdiri sendiri. Mereka nyaris tidak memiliki kesamaan fisik yang identik dengan ras Melayu maupun Jawa yang mengelilingi wilayah mereka.
Data Kelompok Etnis
Berikut adalah data yang tercantum dalam tabel tersebut:
| Kelompok Etnis | Tinggi Badan (Kaki (Fuß), Inci (Zoll), dan Garis (Linie)) | Lingkar Dada (Kaki (Fuß), Inci (Zoll), dan Garis (Linie)) | Lebar Bahu (Kaki (Fuß), Inci (Zoll), dan Garis (Linie)) | Lebar Wajah (Kaki (Fuß), Inci (Zoll), dan Garis (Linie)) | Panjang Wajah (Kaki (Fuß), Inci (Zoll), dan Garis (Linie)) |
|---|---|---|---|---|---|
| Singhalesen (Suku Sinhala) | 5-0-0 s/d 5-1-0 | – | – | – | – |
| Chinesen (Orang Tionghoa) | 5-0-0 | – | – | – | – |
| Siamesen (Orang Thailand) | 4-11-1 | – | – | – | – |
| Battaër (Suku Batak) | 4-11-0 | – | – | – | – |
| Maleien (Orang Melayu) | 4-10-2 | – | – | – | – |
| Anamesen (Orang Vietnam) | 4-10-2 | 2-6-11 | – | – | – |
| Sundanesen (Suku Sunda) | 4-9-7 | 2-6-0 | 1-2-6 | 0-4-8 | 0-6-2 |
| Niasser (Suku Nias) | 4-9-0 | – | – | – | – |
Kesimpulan Akhir: Penduduk Asli yang Murni dan Merdeka
Lalu, apa kesimpulan dari semua perbandingan ini? Jika kita menyatukan kepingan teka-teki—mulai dari bentuk tengkorak, raut wajah, arsitektur, hingga bahasa—fitur fisik bangsa Batak memang memancarkan jejak ras Hindu-Kaukasia kuno.
Namun, kita tidak boleh terjebak dalam hipotesis tanpa bukti. Ketiadaan catatan sejarah masa lampau maupun legenda lokal yang menceritakan tentang migrasi besar leluhur mereka dari daratan India atau Arab membawa kita pada satu konklusi yang megah.
Bangsa Batak—dengan segala keragaman subsukunya yang kaya mulai dari Toba di wilayah tengah, hingga saudara-saudara mereka yang mengakar kuat seperti Batak Karo, Batak Pakpak, dan Batak Dairi—bukanlah kaum imigran yang menumpang di Sumatra. Mereka adalah entitas bangsa yang murni, khas, dan merupakan penduduk asli sejati yang lahir, tumbuh, dan merdeka di tanah yang mereka diami saat ini.