Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847
Menggali akar religi bangsa Batak kuno ibarat berjalan dalam kegelapan. Tidak seperti peradaban lain yang meninggalkan jejak megah, kita justru menemukan ketiadaan yang mencolok pada aspek kultus keagamaan. Bangsa Batak hampir tidak meninggalkan monumen besar, patung arca, atau kuil kuno yang bisa menjelaskan keyakinan masa lalu mereka. Satu-satunya momen yang memperlihatkan upacara sakral dan khidmat hanyalah ritual pemakaman—itu pun sangat unik dan sulit dibandingkan dengan bangsa lain.
Keadaan ini sebenarnya memiliki kemiripan menarik dengan wilayah Sunda (Priangan) di Jawa sebelum masuknya Islam. Di sana, masyarakatnya juga tidak memiliki sistem kultus atau bangunan kuil yang dominan. Bahkan jika kita menelisik tradisi kanibalisme yang sering dikaitkan dengan orang Batak, kita harus melihatnya secara proporsional. Praktik tersebut bukan sifat bawaan sejak awal, melainkan berkembang kemudian di wilayah Toba. Karena itu, aspek ini bukanlah petunjuk kuat untuk melacak asal-usul mereka.
Kemiripan Arsitektur dengan Tanah Sunda
Jika kita mengalihkan pandangan dari sisi religi ke bentuk fisik bangunan, barulah kita menemukan titik terang yang mengejutkan. Perhatikanlah konstruksi rumah adat Batak:
- Ujung atap pelana yang sempit dan menghadap ke depan.
- Bagian tengah bubungan atap yang melengkung cekung.
- Sudut-sudut atap runcing yang berhias serat Ijuk (enau).
- Empat tiang penyangga utama di sudut bangunan.
Detail arsitektur ini memiliki kemiripan yang luar biasa dengan rumah-rumah penduduk pegunungan di wilayah Sunda. Kesamaan ini tidak berhenti pada bangunan saja. Alat musik tembaga serta gerakan tubuh saat mereka menari mengikuti irama gong sangat menyerupai gaya orang Sunda. Hal ini memicu dugaan kuat bahwa bangsa Batak kemungkinan besar mengadopsi cara membangun tempat tinggal dan seni tari (tantakken) dari kebudayaan Sunda.
Sentuhan Budaya yang Beragam
Selain pengaruh yang menyerupai budaya Sunda, bangsa Batak juga menunjukkan keterkaitan dengan budaya lain. Alat musik seperti klarinet dan biola kecil bersenar dua yang mereka gunakan justru sangat mirip dengan instrumen milik orang Tionghoa.
Menariknya, meskipun para peneliti menemukan beberapa batu prisma atau kolom trachyte di makam para kepala suku—seperti yang ada di Batu Tulis atau wilayah Sukabumi—batu-batu itu sebenarnya terbentuk secara alami. Masyarakat hanya mendirikannya sebagai penanda makam agar lokasinya tetap terjaga, bukan sebagai objek pemujaan yang rumit. Pola-pola sederhana ini semakin mempertegas bahwa identitas bangsa Batak terbentuk dari perpaduan unik antara kemandirian tradisi dan pengaruh budaya luar yang terserap secara alami.