C de Haan 1870: 9. Geopolitik dan Demografi Konfederasi Desa Batak

Bagian 9: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C De Haan 1870)

Selain mengatur urusan internalnya, sebuah kampung (desa utama) juga memiliki wewenang hukum untuk mengadili perselisihan antar-dusun (desa bawahan) yang ada di bawahnya. Konsep pemerintahan berjenjang ini terlihat jelas pada tata kelola beberapa konfederasi dan kerajaan kecil Batak yang memiliki dinamika politik serta demografi yang unik pada tahun 1870.

1. Konfederasi Sitělukuru (Tiga Bersatu) Berbatasan dengan Tran, Sitělukuru adalah kerajaan Batak paling barat. Meski merdeka, mereka memiliki ikatan erat dengan Děli dan kerap mengandalkan bantuan raja Děli serta kepala suku tetangganya untuk menyelesaikan sengketa. Wilayah ini dikenal tunduk atau “mendengarkan Sunggal”. Pemerintahan dipegang oleh tiga pemimpin bersaudara: Sibayak dari Lingga, Penghulu Surbakti, dan Penghulu Gajah. Populasi dihitung berdasarkan “tangga” (satu rumah dihuni sekitar 8 keluarga), dengan total populasi mencapai 2.632 tangga:

  • Wilayah Lingga (448 tangga): Kampung Lingga (384) dan dusun Kacaribu (64).
  • Wilayah Surbakti (712 tangga): Kampung Surbakti (352), Pětěguhan (24), Beganding (216), Parang (64), dan Jeraja (56). Pada masa ekspedisi, wilayah ini sempat dibakar oleh penderita gangguan jiwa yang menghanguskan 34 rumah.
  • Wilayah Gajah (1.472 tangga): Kampung Gajah (184) dan 12 dusun bawahan: Ujung (24), Lingga Julu (152), Rajapayong (48), JumaRaja (352), Suka-Sibakti (128), Klung (176), Pecarayan (56), Turung bernah (64), Běpala (16), Bulan-Sënëmbah (128), Nanmelawan (104), dan Jěrmuda (40).

2. Sepuluh Dua Kuta (XII Kuta) Berada di bawah yurisdiksi Hamperanperak, XII Kuta diperintah oleh tiga Sibayak, dengan Sibayak Kaban Jahei sebagai pemimpin utama. Wilayah Pecarayan tunduk pada Brastagi, namun keduanya dipimpin oleh Sibayak yang berstatus kakak-beradik. Tidak ada pasar di wilayah ini maupun di Sitělukuru, sehingga penduduk berdagang ke Sampun, Sukanalu, Kabande-Batak, atau Ajiraja. Total populasinya adalah 1.700 tangga:

  • Kampung: Kaban Jahei (600), Brastagi (200), dan Pecarayan (120).
  • Dusun: Burusinga (300), Raja (200), Sumbul (120), Kabar (100), dan Samura (60).

Sepertinya pernyataan Sepuluh Dua Kuta (XII Kuta) Gunung/gugung Berada di bawah yurisdiksi Hamperanperak tidak tepat karena Hamparan Perak dikuasi Marga Sembiring Pelawi, sementara Sepuluh Dua Kuta (XII) Gugung dikuasi merga Karo-karo Purba.

3. Sukapiring dan Dewan Tujuh Panghulu Sukapiring berbatasan dengan XII Kuta dan secara politis mengikuti Kepala Suku Kampungbaru. Wilayah ini hanya memiliki satu kampung utama, yaitu Siberaya, yang secara unik dipimpin oleh dewan yang terdiri dari tujuh panghulu: Panghulu utama (Rumah Karo), Panghulu muda (Rumah Juluan), Senina (Rumah Saribu), serta empat Anakberu dari Rumah Tjuliah, Rumah Pandia, Rumah Maliala, dan Rumah Mětju. Tiga pemimpin pertama memiliki pengaruh terbesar. Total populasinya adalah 1.296 tangga, dengan pasar utama di Sampun:

  • Tepi Kanan Sungai (Rumah Karo, 584 tangga): Ajibuhara (88), Aji Sěmbělang (56), Aji jahei (132), Aji Julu (132), Jungadi (24), Negri-Jawa (48), Samura (56), dan Kuta-Raja (48).
  • Seberang Sungai (Rumah Juluan, 352 tangga): Sampun (80), Kubu (48), Bukit (96), Ujung Sampun (48), Sagihan (48), dan Mělas (32).
  • Pusat Kampung Siberaya: 360 tangga.

4. Sieněm (VI) Kuta dan Pusaka Meriam Sukanalu Wilayah VI Kuta secara politis mengikuti Sěněmbah dan dipimpin oleh Panghulu Sukanalu. Total populasinya 900 tangga: Kampung Sukanalu (200), SukaJulu (200), Bulan Jahei (200), Sinaman (150), Rěmamies (80), dan Raja Sěněmbah (70). Panghulu Sukanalu menyimpan pusaka suci berupa setengah potongan meriam dari masa pengepungan pasukan Aceh di Delitua. Potongan lainnya dibawa ke Děli. Diletakkan di bawah kanopi bertiang empat dan dikelilingi tanaman Bungaraya, meriam ini dipercaya dapat menunjuk arah musuh dan menjadi simbol ikatan tak terpisahkan antara Děli dan Batak.

5. Siputu (VII) Kuta dan Pergeseran Kekuasaan Wilayah ini juga mengikuti Sěněmbah, tetapi para Senina (dari Rumah Sěberas, Barusapintu, Rumah Sěgedang, dan Rumah Jaheiyan) telah mengambil alih kendali pemerintahan dari tangan Sibayak. Peran Anakberu (dari Mhunte) juga sangat lemah, dan hal ini telah menjadi adat setempat. Total populasinya mencapai 1.834 tangga:

  • Kampung Barus Jahei: 200 tangga.
  • Di bawah Rumah Sěberas (292 tangga): Pekartěbu (40), Kabung (100), Gurisan (40), Tanjung pamah (12), dan Rumahrich (100).
  • Di bawah Barusapinto (180 tangga): Kuta Imbaru (170) dan Bulanjulu (60).
  • Di bawah Rumah Sěgedang (792 tangga): Julung padang (100), Tangkiedih (60), Ujung Balei (10), Paribuan (100), Ujung Bandar (80), Tanjung Barus (20), Baru Julu (80), Basam (80), Ujunggòròh (12), dan Buntu (150).
  • Di bawah Rumah Jaheiyan (370 tangga): Serdang (150), Penampayan (100), Sěmbertěng (100), dan Tanjung Maréhan (20).

6. Kerajaan Silimakuta: Kemandirian di Utara Danau Toba Terletak di pesisir utara danau, tepi kanan sungai Laubiang, Silimakuta berdiri mandiri tanpa ikatan dengan negara pesisir Melayu. Wilayah ini dipimpin oleh Raja dari ibu kota Nagasaribu. Penguasa kedua adalah Tuhan Bangunsaribu yang dibantu dua Sanina (Tuhan Saribudolok dan Tuhan Bagei). Wilayah bawahan diadili oleh dewan Empatsuku (Panghulu Dolok Paribuan, Panghulu Seribujandi, Tuhan Rakutběsi, dan Panghulu Mardinding).

Jika pengadilan Empatsuku tidak memuaskan, warga bisa banding ke Tuhan Bangun Saribu, dan puncaknya ke Raja Nagasaribu yang dibantu dewan khusus (Kasorang-raja, Sibelas, Nagódang, Sipakal, Perchara, Turpukwarna, Rumaparik, Rumah-jòjòng, Guru-Sahuta, Rumagurga, dan Rumah Anjung-anjung). Pusat perdagangan berada di Tigaraja (Pasar Raja). Total demografinya mencapai 1.930 rumah tangga yang tersebar di 32 wilayah (Nagasaribu 250, Bangunsaribu 180, Seribujandi 160, Dolok Paribuan 160, Bagei 100, Si-Paribuan 100, Rakutběsi 90, dan puluhan dusun lainnya).

7. Wilayah Suka dan Kerajaan Tertutup Tengging/Tongging Di selatan Sukapiring, terdapat wilayah Suka yang dipimpin triumvirat: Sibajak Rumah Ligei, Panghulu Rumah Panghulu, dan Panghulu Sapilihan. Ada 13 daerah dengan total 360 tangga (seperti Dankam 112, Pangambatan 112, Kutabaru 128) yang secara administratif masuk wilayah Suka, namun diklaim oleh penguasa Tongging meskipun tanpa otoritas nyata.

Tongging sendiri adalah kampung besar di tepi danau yang dihuni 360 keluarga, diperintah oleh seorang Raja dan Raja Si-Bòkòt. Masyarakatnya sangat tertutup sehingga struktur pemerintahannya sulit diketahui pasti. Tenggieng menguasai dua kampung pesisir: Sibaulangit (48 tangga) dan Sikòdòn-kòdòn (40 tangga).

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.