Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847
Setelah meneliti tetangga terdekat di Sumatra, kita perlu melebarkan pandangan jauh melintasi lautan. Membandingkan bangsa Batak—yang merangkum kekayaan budaya dari kelompok Toba, Karo, Pakpak, hingga Dairi—dengan bangsa-bangsa di Asia daratan adalah kunci untuk mengungkap jati diri dan asal-usul asli mereka.
Pertama, mari kita lihat bangsa Melayu dan Jawa. Kedua bangsa ini jelas memiliki kesamaan tipe fisik. Kita bisa mengenali ciri khas Melayu dari bentuk wajah yang lebar, hidung yang cenderung datar, tulang rahang bawah yang kokoh, serta bibir yang tebal. Namun, jika kita melihat tipe fisik murni dari orang Batak, khususnya masyarakat Toba yang paling menjaga isolasi di masa lalu, kita justru menemukan hal yang sebaliknya. Fitur fisik bangsa Batak murni sangat bertolak belakang dengan ciri khas Melayu tersebut.
Membedah Jejak Ras Mongolia
Jika bukan ras Melayu, apakah bangsa Batak memiliki akar dari ras Mongolia? Ras Mongolia sejati memiliki postur tubuh yang sangat kekar, tengkorak silindris, tulang pipi yang menonjol luas, wajah datar yang membulat, serta rambut hitam yang sangat tebal.
Untuk memastikannya, para peneliti masa lalu membandingkan bangsa Batak dengan berbagai bangsa berdarah Mongolia:
- Orang Tionghoa: Tersebar jutaan jiwa di Nusantara pada masa itu, memiliki ciri khas mata sipit yang mengarah miring ke atas.
- Orang Siam (Thailand): Memiliki tengkorak silindris yang khas, wajah sangat lebar, dan batas pertumbuhan rambut yang rendah di wajah.
- Orang Anam (Vietnam): Merupakan tipe fisik Mongolia bertubuh kecil dengan tengkorak yang bulat.
- Orang Burma (Myanmar): Kelompok ini sebenarnya justru lebih banyak mewarisi ciri ras Melayu daripada ras Mongolia sejati, sama halnya dengan suku Aracanese di wilayah tersebut.
Setelah mengamati semua ciri tersebut, kesimpulannya sangat jelas: Bangsa Batak benar-benar berbeda dari semua kelompok ras Mongolia ini.
Kemiripan Unik dengan Suku Khyen di Burma
Meskipun secara fisik berbeda, pencarian di Kerajaan Burma justru menemukan sebuah anomali budaya yang luar biasa menarik. Di wilayah pegunungan liar antara Sungai Ava dan Aracan, hidup sebuah kelompok masyarakat merdeka bernama Suku Khyen.
Secara budaya, suku Khyen seolah memantulkan gaya hidup bangsa Batak kuno. Suku Khyen menutup rapat wilayah mereka dari pengaruh politik luar, tidak memiliki satu pemimpin tertinggi yang absolut, dan menjalankan sistem pemerintahan patriarki murni. Menariknya lagi, mereka tidak memiliki sistem kultus keagamaan yang terstruktur—mirip dengan kepercayaan purba Batak—dan mereka memiliki tradisi meRaya atau menato tubuh.
Akar Bahasa dan Kekerabatan Hindu-Kaukasia
Lalu, di manakah posisi bangsa Batak dalam pohon keluarga manusia? Dari sisi bahasa, kita belum bisa menarik garis keturunan yang pasti karena penelitian tentang akar bahasa Batak kuno pada masa itu masih sangat terbatas. Namun, satu hal yang pasti: bahasa Batak sangat minim kesamaannya dengan bahasa Melayu.
Fakta paling mengejutkan justru muncul dari struktur anatomi tubuh dan raut wajah mereka. Para peneliti menyimpulkan bahwa fitur fisik bangsa Batak justru lebih mendekati karakteristik ras Hindu-Kaukasia. Temuan ini memaksa kita untuk mengalihkan pandangan dari daratan Asia Timur menuju bangsa-bangsa Kaukasia, demi menemukan kepingan terakhir teka-teki asal-usul nenek moyang bangsa Batak.