Van Dijk 1893: 18. Siantar: Peta Politik dan Kedaulatan Sipolha dalam Wilayah Siantar

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 18

Sipolha merupakan salah satu lanskap yang secara geografis termasuk dalam urung (wilayah induk) Siantar, terletak di lereng gunung yang menghadap dan berada di tepian Danau Toba. Rangkaian lanskap di tepian danau ini meliputi Sipolha, Paribuan, Huta mula, dan Tambu Raya.

Baca Selengkapnya

Van Dijk 1893: 16. Sejarah Pembagian Politik Wilayah Siantar: Munculnya Bandar dan Si Damanik

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 16

Mengenai pembagian politiknya, dari kerajaan Siantar telah lahir dua wilayah baru, yaitu Bandar dan Si Damanik. Kisah bermula pada masa lampau di Siantar, ketika terdapat tiga orang bersaudara, atau setidaknya kerabat dekat, yang memiliki pangkat dan keturunan yang setara. Di antara mereka, yang termuda adalah yang paling kurang berkembang kemampuannya dan paling sedikit kekayaannya. Dua saudara lainnya kemudian memutuskan untuk memisahkan diri dari Siantar dan masing-masing mendirikan kerajaan sendiri, namun mereka sepakat untuk menetapkan saudara termuda mereka sebagai Raja di Siantar. Salah satu dari mereka pindah ke hilir dan mendirikan Bandar (menjadi Tuan Bandar), sementara yang lain pindah ke hulu dan mendirikan Si Damanik (menjadi Tuan Si Damanik).

Baca Selengkapnya

Van Dijk 1893: 15. Sejarah Asal-usul Penduduk Siantar

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 15

Mengenai asal-usul penduduknya, kisah tutur menyebutkan bahwa populasi asli kerajaan Siantar awalnya tergolong dalam marga Lontung (Sinaga). Namun, mereka kemudian didesak dan diusir dari wilayah tersebut menuju Tanah Jawa oleh para kepala wilayah dari Antar Matia yang bermarga Si Damanik.

Baca Selengkapnya

Van Dijk 1893: 9. Industri dan Perdagangan di Simalungun: Sebuah Potret Ekonomi Sejarah

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 9

Industri kerajinan pribumi di wilayah ini tergolong tidak signifikan. Aktivitas utamanya terbatas pada penenunan kain-kain Batak oleh kaum wanita, serta pengerjaan besi, tembaga, perak, dan emas oleh kaum pria. Dalam hal arsitektur rumah, terlihat sedikit sekali cita rasa seni. Perhiasan emas dan perak juga sangat jarang ditemukan; para kepala wilayah yang berkedudukan tinggi maupun rakyat jelata pada umumnya berpakaian sangat sederhana. Hadiah-hadiah kecil seperti jam tangan, kain Jawa, potongan kain laken biru, lampu, senapan tromplaad, cermin, dan berbagai pernak-pernik murah yang kami bawa sebagai barang hadiah, diterima dengan sangat gembira, bahkan oleh para tokoh terkemuka.

Baca Selengkapnya

Van Dijk 1893: 3. Peta Wilayah Simalungun dan Lanskap-lanskapnya 1893

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 3

Secara keseluruhan, wilayah Si Balungun/Simalungun merupakan hamparan dataran yang sangat luas, subur, dan tertutup hutan, yang perlahan landai naik dari arah pesisir menuju tepian Danau Toba. Kenaikan elevasi ini terjadi begitu bertahap* sehingga hampir tidak terasa bagi para pelancong; bentang alam baru mulai terasa bergelombang ketika mendekati pegunungan perbatasan.

* Kelandaian jalan dari Pantai Timur ke Parapat sangat terasa saat kita berkendari, sangat kontras dengan dibandingkan rute Medan-Tongging atau Barus-Toba yang ekstrem. Rute Siantar dominan datar hingga Parapat, lalu menanjak moderat. Sebaliknya, rute dari Medan ke Tongging dan Barus menyajikan turunan/tanjakan curam ketika kita ke Danau Toba atau saat turun langsung menuju bibir danau (kaldera).

Baca Selengkapnya

Sejarah Marga dan Pemerintahan Simalungun

Marga Raja Simalungun sering disingkat SiSaDaPur (Sinaga, Saragih, Damanik & Purba).

Menurut J Tidemen – Asistent Residen Simalungun tahun lewat bukunya yang diterbitkan tahun 1922, Struktur masyarakat dan pemerintahan tradisional Simalungun bertumpu pada empat marga utama, yakni Damanik, Sinaga, Saragih dan Purba*. Keempat marga inilah yang membagi wilayah dan urusan kependudukan menjadi empat wilayah kekuasaan yang direpresentasikan dalam posisi duduk di balai musyawarah (Bale): Silo di kanan depan, Tanah Jawa di kiri depan, Siantar di kanan belakang, dan Pane di kiri belakang.

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.