Meskipun wilayah Si Balungun/Simalungun memiliki potensi luar biasa untuk pengembangan sawah irigasi1 yang indah, praktik ini hampir tidak ditemukan, kecuali di lanskap-lanskap sepanjang tepian danau. Penduduk setempat memenuhi kebutuhan pangan mereka dengan membuka ladang di tengah hutan. Proses pembukaan ladang dimulai dengan menebang pohon-pohon besar dan vegetasi lainnya, yang kemudian dibiarkan mengering sepenuhnya di bawah terik matahari sebelum dibakar. Tanah tidak diolah lebih lanjut, hanya dibersihkan seadanya, dan ladang pun siap ditanami. Ladang-ladang ini hanya dikerjakan selama beberapa tahun sebelum ditinggalkan karena penduduk tidak mengenal sistem pemupukan. Saat kesuburan tanah habis2, mereka mencari lahan hutan baru yang cocok, sebuah praktik pemanfaatan lahan yang merusak hutan-hutan terindah di negeri ini. Ladang yang ditinggalkan perlahan berubah menjadi padang alang-alang, sebelum akhirnya tertutup kembali oleh semak belukar dan kerumunan pohon muda.
Ikuti kami di: Youtube Sejarah Batak
Komoditas utama yang ditanam di ladang-ladang ini meliputi padi, jagung, keladi, dan sedikit sayuran, yang menjadi makanan pokok penduduk. Selain itu, ditemukan juga tanaman tebu, kopi (sangat jarang), kapas dalam jumlah cukup besar, serta perkebunan lada, tembakau, dan getah percha, bahkan pohon pala. Tanaman kapas, yang tampaknya dari jenis yang sama dengan kapas di Palembang dan berkualitas baik, dulunya ditanam lebih luas, terutama di Tanah Jawa, yang pernah menjadi lumbung kapas bagi wilayah Toba. Namun, posisi kapas mentah kini mulai tergeser oleh benang Eropa yang didatangkan dalam jumlah besar dari Siboga ke Baligé dan tempat-tempat lain di wilayah kekuasaan kita di tepian danau, yang kemudian menyuplai benang kapas ke hampir seluruh daerah di sekitar danau. Kapas mentah kini hanya didatangkan dari Tanah Jawa oleh penduduk dari lanskap Girsang, Sipangan Bolon, dan Dolok Paribuan, serta dibawa ke Onan Tiga Raja di Aji Bata, di mana kapas tersebut mulai tersisih oleh benang Eropa yang didatangkan dari wilayah kekuasaan kita.
Tanaman tembakau tumbuh sangat baik di daerah ini, terutama di Tanah Jawa, namun kualitas dan permintaan pasarnya belum dapat dinilai. Perkebunan lada ditemukan di hampir semua tempat, namun budidayanya tampaknya baru diperkenalkan dalam beberapa tahun terakhir, dan harganya dilaporkan telah turun drastis. Pohon kelapa dan pohon buah-buahan lainnya tumbuh di sekitar kampung, tetapi pohon kelapa banyak menderita karena parasit, kemungkinan akibat kurangnya perawatan. Budidaya palem aren3 cukup umum, demikian pula nibung dan pinang. Nibung digunakan untuk membangun rumah, sedangkan pinang digunakan untuk menyirih. Kebiasaan menyirih sangat umum di Si Balungun/Simalungun, baik di kalangan pria maupun wanita. Penduduk di sini, seperti halnya di Toba, jarang merokok, tetapi tembakau selalu dikunyah, dengan atau tanpa sirih. Para pria biasanya mengunyah tembakau sepanjang hari, membiarkannya setengah menjulur dari mulut, dan tidak membuangnya bahkan saat berbicara. Di ladang-ladang Tanah Jawa, terlihat contoh-contoh tanaman jagung dan keladi dengan pertumbuhan luar biasa dan ukuran raksasa, bukti kesuburan tanah yang luar biasa. Kopi hampir tidak ditemukan, tetapi wilayah ini berpotensi besar untuk pengembangan perkebunan kopi, tebu, dan tembakau yang indah. Sulit membayangkan lahan yang lebih indah dan cocok untuk budidaya: hutan-hutan yang luas, berat, dan subur dengan pengairan yang melimpah dan topografi yang hampir sepenuhnya datar.
Penduduk yang hidup terlalu mudah di negeri ini cenderung malas untuk menekuni budidaya sawah atau kopi secara sungguh-sungguh4, kecuali jika nantinya dipaksa. Hambatan besar lainnya adalah jumlah penduduk yang masih sangat sedikit, mengingat luasnya wilayah ini. Meskipun demikian, tugas utama pemerintah haruslah mendorong penduduk untuk mulai membangun sawah irigasi5 yang teratur, karena inilah satu-satunya cara untuk menyatukan mereka dalam permukiman yang lebih besar atau kecil. Saat ini, penduduk hidup tersebar di ladang-ladang mereka, yang seringkali terletak jauh dari kampung. Tidak heran jika mereka lebih memilih tinggal menetap di sana daripada harus bolak-balik ke kampung setiap malam. Gaya hidup seperti ini menimbulkan kesulitan besar bagi pemerintah dan para kepala wilayah dalam jangka panjang; dibutuhkan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, hanya untuk mengumpulkan sebagian penduduk. Kesulitan ini akan semakin terasa saat jalan, jembatan, dan infrastruktur lainnya harus dibangun di masa mendatang.
Menurut pandangan saya, penduduk tidak mampu melakukan semua ini, dan tentu saja tidak dapat perlahan-lahan mengolah seluruh tanah yang indah ini; untuk itu, industri pertanian Eropa harus dilibatkan, setidaknya jika ditemukan orang-orang yang masih ingin mencoba peruntungan dengan berbagai budidaya di daerah ini pada masa sekarang. Lahan kosong yang tak ter-olah tersedia sangat luas untuk tujuan ini, dan para kepala wilayah memiliki hak dan wewenang untuk menyewakan atau meminjamkan lahan tersebut kepada siapa pun yang mereka kehendaki, sebuah praktik yang juga berlaku di hampir seluruh wilayah Toba. Bedanya, di daerah sekitar danau dan di dataran tinggi yang telah berada di bawah pemerintahan kita, hampir tidak ada lagi lahan kosong yang subur yang tersedia.
Sumber: P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 7
Catatan tambahan (lihat Daftar Pustaka ) oleh: KHaS.
- Simalungun saat itu kecuali di daerah tepi danau Toba belum mengenal sistem irigasi atau pengairan, jadi pertaniannya tergantung cuaca, ditepian Danau Toba juga karena anugrah alam akan adanya parit atau sungai-sungai kecil sebagai pembuangan air ke danau, sehingga pemanfaatannya yang diatur Raja Bondar. ↩︎
- Teknologi pemupukan baik kompos dan kimia belumlah dikenal, hingga begitu kesuburan tanah menurut, yang mengakibatkan hasil panen menurut, maka dilakukan perlandangan berpindah, meskipun cara pandang perlandangan berpindah sebagai cara merawat alam bisa dipertimbangkan. Menurut Yohanes Kamakaula & Darmawanto Uria ada beberapa faktor yang mendasari keputusan petani masih melakukan ladang berpindah, meliputi faktor kultural, faktor ekonomis, faktor ekologis, dan faktor sosial. Sementara faktor pendorong dari manusianya disebut yaitu faktor
umur, faktor tingkat pendidikan, faktor jumlah tanggungan keluarga, faktor luas lahan, serta
faktor pendapatan rumah tangga. Meski dilakukan perlandangan berpindah, bukan tidak ada aturan, pertanian berpindah itu juga ada aturan adat/norma termasuk didalamnya pemilihan lokasi, hak kepemilikan lahan, penebasan dan penebangan, pembakaran, pengolahan tanah, penanaman, pemeliharaan, panen, pemanfaatan hasil panen. ↩︎ - Pohon ini dikenal sebagai Bagot atau Pola merupakan sumber minuman ber-alkohol yakni tuak, terlihat betapa kayanya alam yang menyediakan minuman keras berkualitas yang tidak perlu prose panjang, meski tidak bisa di simpan dalam jangka panjang. ↩︎
- Pertanian sepertinya masih untuk kebutuhan sehari-hari kecuali beberapa produk yang bisa perdagangkan dengan harga yang masih menguntungkan seperti Lada. Faktor infrastruktur transportasi tentunya jadi penentunya. ↩︎
- Pada akhirnya Pemerintah Kolonial Belanda mengundang petani-petani padi handal dari Toba, untuk membangun dan menjadi petani padi di Simalungun, tempat yang saat itu petani-petani Simalungun tidak berminat, hingga munculnya konflik karena Orang Batak Toba menganggap sejajar dengan orang Simalungun termasuk raja-rajanya, bandingkan dengan konflik yang terjadi dalam surat Andreas Aimangunsong dengan Raja-raja Simalungun. ↩︎