Bagian 7: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)
1. Kehidupan di Dalam dan Luar Rumah Adat Di dalam rumah komunal Batak, sebuah rak besar untuk menyimpan peralatan dapur digantung tepat di atas perapian. Terkadang, dua keluarga harus berbagi satu perapian yang sama. Saat malam tiba, ruang antarkeluarga disekat menggunakan tikar yang pada siang harinya digulung kembali. Pintu dan jendela selalu ditutup rapat di malam hari demi keamanan dan untuk menangkal roh angin yang dianggap jahat. Akibatnya, asap perapian terjebak dan menyebar ke seluruh ruangan, hanya bisa keluar perlahan melalui celah dinding, atap, atau bukaan kecil di fasad. Bagi orang asing, uap panas dan asap yang mencekik ini membuat pengalaman menginap terasa kurang nyaman.
Meski pengap di dalam, dari luar rumah adat ini tampak megah. Atapnya terbuat dari ijuk (atau ilalang di daerah Tongging) yang sering ditumbuhi lumut. Puncak atap dihiasi ukiran kepala kayu bertanduk hewan asli. Beberapa rumah memiliki struktur rumah mini di tengah atap yang disebut anjung-anjung; ini hanyalah ornamen estetika belaka dan bukan penanda rumah seorang kepala desa (panghulu). Satu-satunya hal yang membedakan rumah panghulu adalah ukirannya yang dicat dengan warna berbeda.
Fasad depan dan belakang sering dilengkapi galeri atau serambi bambu. Di sekitar area rumah, terdapat lumbung padi yang dihiasi ukiran dan figur dari ikatan tali ijuk. Bagian kolong rumah digunakan untuk mengandangkan ternak. Jika pemiliknya memiliki kuda, kandang kayu terpisah dibangun di samping rumah. Sementara itu, kandang ayam diletakkan sangat tinggi di atas tiang dengan tong di kedua sisi dan sarang yang menggantung di bawahnya agar tetap hangat.
2. Akomodasi Ekspedisi dan Biaya Pembangunan Bangunan Rombongan ekspedisi tidak selalu menginap di rumah adat. Di daerah Dusun, Siberaya, dan Barus Jahei, mereka tidur di gudang bambu yang dibangun khusus dan cukup memuaskan. Di Nagasaribu, mereka menempati kamar tamu di depan rumah Sibayak yang awalnya dibangun untuk menyambut kedatangan pangeran pulau.
Membangun sebuah rumah ternyata tidak membutuhkan biaya yang terlalu mahal. Sebagai contoh, sebuah rumah di Sukanaloe dengan ukuran panjang 11 hasta dan lebar 6,50 hasta, seluruh konstruksinya diborongkan kepada tukang kayu seharga 120 dolar (biaya ini di luar upah penarikan kayu).
3. Keragaman Bahasa, Angka, dan Aksara Bahasa yang digunakan memiliki kemiripan dengan bahasa Melayu, yang terlihat dari nama tempat dan kosakata sehari-hari. Pengaruh Jawa sangat kental terlihat pada sistem angka satu hingga sepuluh: sada, dua, telu, ampat, lima, ěněm, pitu, wolu, sembilan, sapuluh.
Masyarakat Batak memiliki aksara sendiri yang ditulis dari bawah ke atas dan dari kanan ke kiri. Namun, tidak ada satu bahasa Batak yang seragam. Bahasa di wilayah ini sangat beragam dan tidak saling dipahami antarwilayah: dari Purba ke timur (Tran) menggunakan bahasa Karaw-karaw (Karo); di Tran sendiri ada bahasa lain; di pesisir utara danau menggunakan Toba; di pesisir selatan menggunakan Pakpak; dan di pegunungan barat daya Tenggion menggunakan bahasa Alas.
4. Literatur, Penanggalan, dan Sistem Kepercayaan Tulisan-tulisan Batak kuno hanya membahas ilmu pengobatan, sihir, astronomi, dan prediksi hari baik/buruk. Mereka tidak memiliki literatur sejarah tertulis; sejarah hanya diwariskan secara lisan oleh para tetua tentang apa yang terjadi pada masa hidup mereka atau satu generasi sebelumnya.
Mereka juga tidak memiliki sistem tahun kalender baku atau perhitungan minggu. Setahun dihitung sebanyak dua belas bulan (disebut berurutan: bulan pertama hingga kedua belas), di mana setiap bulan selalu terdiri dari tiga puluh hari. Uniknya, setiap tanggal memiliki namanya sendiri, yaitu:
- Aditia,
- Sumà,
- Gará,
- Budaha,
- Beraspati,
- Cukra Sinang brangin,
- Bělah naik,
- Titian naik,
- Sumana Siwah,
- Anggara sapuluh,
- Gudaha ngàděp,
- Beraspàti tangkap,
- Cěkra lalayaw,
- Belah purnoma,
- Tulak,
- Sumka,
- Garà,
- Mudaha,
- Beraspàti sapulu siwah,
- Cukra si duwa puluh,
- Bělah turun,
- Aditia turun,
- Suma,
- Anggara sembilan,
- Budahagok,
- Beraspati měděm,
- Cěkra namàtei,
- Mati bulan,
- Dàlen bulan,
- Sami sahara.

Dari segi moral dan etika, ajaran didasarkan murni pada petuah turun-temurun (“apa yang diajarkan orang tua kami yang baik, kami ajarkan kepada anak-anak kami”). Tidak ada rumah ibadah, pendeta (hanya ada guru), atau upacara keagamaan publik selain ritual pemakaman yang disebut paku aloeh. Konsep mereka tentang Tuhan bersumber murni dari tradisi lisan tentang penciptaan dunia.