J. J. Sporrij 1918: 6. Melacak Jejak Gunung Purba dan Asal-Usul Danau di Tanah Gayo

J. J. Sporrij: Tanah Gayo Barat Laut (Wilayah Danau) – 1918

Bergeser sedikit ke arah selatan, kita akan disambut oleh kegagahan Gugusan Pegunungan Biös yang sebenarnya merupakan sisa-sisa gunung berapi purba. Punggung utama pegunungan ini membentang melewati Gunung Salah-Nama dan Bur-ni-Pupandji menuju utara dan timur laut. Pemandangan ini menciptakan ilusi optik seolah-olah kita sedang melihat sebuah rantai gunung berapi yang tak terputus. Garis pegunungan ini kemudian melengkung ke arah timur, membentuk Gunung Bur-ni-Bëboeli dan Bur-ni-Tanggang Kambéng yang kokoh membentengi tepi utara danau. Tepat di lembah yang memisahkan Poepandji dan Bëboeli, Jalan Gayo mencapai titik tertingginya pada elevasi 1.485 meter di atas permukaan laut.

Sebuah lembah memisahkan pegunungan tersebut dengan kompleks Geureudöng. Di sanalah Sungai Bidén, yang bermuara ke Sungai Djambö Ajé, mengalir membelah daratan. Sementara itu, aliran air dari Gunung Bur-ni-Tèlöng yang nyaris tak kasatmata bertugas memisahkan daerah aliran Sungai Bidén dengan Sungai Peusangan.

Menilik lebih jauh ke sebelah selatan Pegunungan Biös, lembah Peusangan yang sempit memisahkan wilayah ini dari Pegunungan Pëgasèng. Rangkaian pegunungan ini terus menyambung hingga ke Pegunungan Kliötön yang memeluk tepian selatan danau.

Berkah Endapan Lumpur di Tepi Selatan

Tepi danau bagian selatan memiliki karakter yang jauh berbeda dari sisi utaranya. Jika tepi utara menjulang angkuh menyerupai dinding tebing curam langsung dari permukaan air, sisi selatan justru menawarkan banyak teluk dan kelokan yang menjorok jauh ke daratan. Teluk Towéran menjadi kelokan yang paling besar di kawasan ini.

Selama berabad-abad, aliran sungai-sungai kecil membawa dan mengendapkan lumpur subur dari pegunungan ke teluk-teluk ini. Endapan lumpur inilah yang kemudian masyarakat lokal manfaatkan untuk membuka area persawahan, yang pada gilirannya memicu berdirinya permukiman-permukiman permanen di sekitar danau.

Menguak Misteri Kelahiran Danau Laut Tawar

Saat kita menatap hamparan air megah sepanjang 16 kilometer dan lebar 4 kilometer yang bertengger di ketinggian 1.200 meter ini, sebuah pertanyaan besar pasti terlintas: bagaimana danau sebesar ini bisa tercipta di tengah kepungan gunung?

Profesor Volz, seorang ahli geologi, menawarkan teori yang sangat menarik. Ia meyakini bahwa danau ini tercipta akibat proses pembendungan air skala raksasa. Pada masa lampau, Gunung Biös yang masih sangat aktif memuntahkan material vulkanik dalam jumlah luar biasa besar ke lereng selatan dan baratnya. Tumpukan material ini bertindak seperti bendungan alam yang menahan laju air dari pegunungan di sekitarnya.

Seiring dengan naiknya permukaan air yang terbendung, alam secara otomatis menjebol celah-celah baru sebagai jalur pembuangan air. Kita bahkan masih bisa melihat jejak bekas dasar sungai purba tersebut hingga hari ini. Perlahan-lahan, derasnya aliran air mengikis celah-celah ini semakin dalam hingga permukaan danau mulai menyusut turun. Pada akhirnya, satu celah aliran berhasil menjadi jalur terdalam yang mengalirkan air danau hingga masa kini.

Teori Profesor Volz tentang banjir besar kuno ini mendapat dukungan kuat dari bukti fisik di lapangan. Jika kita amati seksama, terdapat teras-teras tanah atau undakan di tepi danau yang membuktikan bahwa pada masa lalu, permukaan air pernah berada 60 meter lebih tinggi dari posisinya saat ini. Kesimpulan ini semakin masuk akal karena usia geologis pembentukan Gunung Biös bertepatan dengan masa tersebut. Bukti penguat lainnya adalah keberadaan teras-teras tanah di bagian atas lembah Ketöl yang posisinya berada pada ketinggian yang persis sama dengan undakan di tepi danau.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.