Melihat pasukannya sempat terpukul mundur di gerbang Gangga Nagara, Raja Suran tidak tinggal diam. Ia segera menaiki gajah besarnya dan menerjang maju menuju gerbang benteng. Meski hujan tombak dan panah menyasar dirinya, ia tetap teguh. Raja Suran kemudian menghantamkan senjata sakti chacra-nya ke gerbang tersebut hingga hancur seketika. Ia pun merangsek masuk ke dalam benteng bersama seluruh barisan prajuritnya.
Sumber: Dr. John Leyden: Malay Annals – 1821 – Sejarah Melayu
Di dalam benteng, Raja Ganggi Shah Juana yang melihat kedatangan musuh langsung menarik busur panahnya dan mengenai dahi gajah Raja Suran hingga hewan besar itu tersungkur. Dengan sigap, Raja Suran bangkit, menghunus pedangnya, dan dalam satu gerakan ia memenggal kepala Raja Ganggi Shah Juana. Pasca kematian sang raja, seluruh rakyat Gangga Nagara menyatakan tunduk. Raja Suran pun menikahi Putri Gangga, saudara perempuan mendiang raja yang terkenal kecantikannya.
Tak berhenti di situ, Raja Suran melanjutkan ekspedisinya menuju negeri Glang Kiu. Di masa lalu, Glang Kiu merupakan negeri besar yang memiliki benteng batu hitam kokoh di hulu Sungai Johor. Dalam bahasa Siam, nama ini berarti “Tempat Zamrud”, namun orang yang tidak paham sering salah menyebutnya. Penguasanya adalah Raja Chulan, seorang raja dengan kedudukan tertinggi di antara raja-raja di bawah angin.
Mendengar ancaman Raja Suran, Raja Chulan mengerahkan pasukan raksasa yang tampak seperti laut bergelombang. Barisan gajah dan kudanya terlihat seperti pulau-pulau di tengah samudra, sementara panji-panji mereka rapat menyerupai hutan. Pertempuran pecah di sebuah sungai yang kemudian dinamai Sungai Panggil—diambil dari seruan Raja Chulan saat memanggil pasukannya dalam bahasa Siam.
Suara pertempuran itu begitu mengerikan. Gajah saling hantam, kuda-kuda saling gigit, dan senjata berjatuhan layaknya hujan deras. Debu yang beterbangan menutupi langit hingga siang hari menjadi gelap bak gerhana. Para prajurit mengamuk (amuk) tanpa pandang bulu; dalam kekalutan itu, banyak yang tak sengaja menikam kawan sendiri. Darah tumpah membasahi bumi hingga debu akhirnya mereda dan menyisakan para pejuang yang masih berdiri tegak, tak mau menyerah.
Raja Chulan kemudian memacu gajahnya, menerobos barisan Raja Suran dan membantai pasukan Kling hingga mereka mulai terpukul mundur. Melihat hal itu, Raja Suran yang menunggangi gajah setinggi sebelas hasta segera menghadang. Kedua gajah penguasa itu bertarung hebat dengan raungan seperti guntur dan benturan gading yang memercikkan cahaya seperti petir. Dalam duel maut ini, Raja Chulan melemparkan tombaknya namun meleset. Sebaliknya, Raja Suran melepaskan anak panah yang tepat menembus dada hingga punggung Raja Chulan. Sang raja tewas di atas gajahnya, dan pasukannya pun lari kocar-kocir menuju benteng Glang Kiu. Setelah kemenangan itu, Raja Suran menikahi putri Raja Chulan yang jelita, Putri Onang-kiu, lalu bergerak menuju Tamsak.
Muslihat Bijak dari Negeri Tiongkok
Kabar tentang keperkasaan Raja Suran yang tak terbendung akhirnya sampai ke telinga Kaisar Tiongkok. Sang Kaisar merasa sangat khawatir negerinya akan hancur jika Raja Suran sampai di sana. Namun, seorang menteri Tiongkok yang cerdik menenangkan sang Kaisar dengan sebuah rencana unik.
Menteri itu menyiapkan sebuah kapal yang diisi penuh dengan jarum-jarum halus yang telah berkarat. Di atas dek kapal, ia memerintahkan untuk menanam pohon Casamak dan Bidara. Ia kemudian memilih sekelompok orang tua yang sudah ompong untuk mengawaki kapal tersebut. Misinya satu: berlayar menuju Tamsak untuk menemui Raja Suran dan menjalankan sebuah tipu daya yang akan menentukan nasib negeri Cina.