Van Dijk 1893: 1. Sejarah dan Batas Wilayah Simalungun Kuno

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 bagian 1

Geografi dan Batas Wilayah Si Balungun/Simalungun*

* Nama yang dikenal dan kini di Gunakan adalah Simalungun.

1. Makna di Balik Nama Si Balungun Sebagian wilayah tanah Batak yang menaungi tiga lanskap utama (Raya, Purba, Hinalang**, dan Naga Saribu***) dikenal di kawasan Toba dengan nama umum Si Balungun. Dalam bahasa Tobasch, kata Lungun memiliki makna ganda: sebuah daratan yang jarang penduduknya, atau dapat pula berarti sebuah kesulitan besar (susah). Sebaliknya, terdapat kata Melungun yang maknanya serupa dengan mesihal, yakni suatu negeri yang sangat dirindukan hingga mampu membuat seseorang menitikkan air mata. Dalam konteks wilayah historis ini, nama Si Balungun diyakini merujuk pada arti pertamanya: sebuah daerah dengan populasi yang jarang, di mana penduduknya harus menghadapi banyak kesulitan dan tantangan alam.

** Hinalang kini di kenal sebagai Hinalang berada di Kec. Purba Kabupaten Simalungun menurut catatan ini saat itu adalah kerajaan independen, tidak termasuk dalam Kerajaan Purba meski dikuasi oleh marga yang seketurunan yaitu Purba yang di identifikasi sebagai Purba Pakpak, hal ini meruntuhkan pendapat bahwa awalnya ada 4 kerajaan (Raja Maropat) di Simalungun, yang kemudian jadi 7 (Raja Marpitu).

*** Nagasaribu masih lebih dikenal dari Silima Kuta saat itu, dimana Raja Saribu adalah Raja Silimikuta juga.

2. Perbatasan Timur, Selatan, dan Wilayah Merdeka Berdasarkan peta besar tanah Batak masa itu, batas-batas wilayah Si Balungun terpetakan dengan cukup jelas di beberapa sisi. Di sebelah Timur dan Selatan, wilayah ini berbatasan langsung dengan sub-distrik Padang Bedagai dan Batu Bahara****. Batas ini kemudian memanjang bersinggungan dengan wilayah kekuasaan Sultan Asahan serta sebuah daratan merdeka yang diapit oleh sungai Soengapa dan hilir Danau Toba (Danau Toba). Wilayah merdeka ini membentang di kedua sisi tepian sungai Boven-Asahan.

****Batu Bahara kini di kenal sebagai Batubara, yang sejarahnya tidak terlepas dengan Perantau Minangkabau, Tanah Jawa dan Asahan.

3. Rangkaian Pegunungan Si Manuk-Manuk dan Ralat Peta Batas alam di sebelah Selatan dan Barat Daya dikawal oleh benteng pegunungan Si Manuk-Manuk. Rangkaian gunung ini membentang mendekati aliran sungai Boven-Asahan, lalu berbelok ke arah Barat Laut hingga menyentuh tepian danau di sekitar lanskap Sipolha, yang menjadi penanda batas wilayah Raya. Puncak Dolok Matjaroendoeng (di kawasan Raya) merupakan titik akhir dari sabuk pegunungan ini sebelum benar-benar bertemu dengan perairan danau. Mulai dari lanskap Aji-Bata bergerak ke Utara, tepian danau berubah menjadi tebing-tebing curam, dan dataran tinggi yang memisahkan gunung dari danau pun menghilang.

Terdapat ketidakakuratan pada peta besar tanah Batak terkait kawasan pegunungan ini. Peta tersebut menggambarkan Si Manuk-Manuk hanya sebagai satu garis puncak gunung yang memanjang. Padahal, formasi aslinya terdiri dari dua puncak menjulang: Dolok Boeboengan (nama yang terlewatkan di peta) yang berada di ujung paling Selatan, dan puncak Si Manuk-Manuk itu sendiri. Menelusuri rangkaian ini dari Selatan ke Utara, berjejer puncak-puncak gunung yang dihormati: Dolok Animuan, Dolok Si Batu Loteng, Dolok Na Bolon, Dolok Si Maringa, Dolok Si Marbelatuk, hingga D. Marjarundung.

Kesalahan peta tersebut juga berdampak pada kelirunya garis batas antara Si Balungun dan sisa wilayah Tanah Toba. Garis batas di peta hanya akurat pada ruas yang mengikuti aliran sungai Aek Silau Tua. Di luar itu, batas yang sesungguhnya cukup ditarik mengikuti garis rangkaian pegunungan hingga menyatu dengan tepi Danau Toba.

4. Batas Utara: Tao Silalahi dan Tanah Karo Dari lekukan teluk lanskap Aji-Bata, bagian utara Danau Toba—yang lebih dikenal dengan sebutan Tao Silalahi—berfungsi sebagai batas perairan bagi Si Balungun. Batas danau ini memanjang hingga menyentuh kawasan lanskap Tongging, sebuah daerah yang bernaung di bawah kekuasaan Raja Pa Mbelgah***** dari Kaban Jahe di wilayah Tanah Karo. Dari Tongging terus ke arah Utara, Tanah Karo dan sub-distrik Serdang menjadi dinding pembatas selanjutnya, yang akhirnya melingkar kembali menyambung dengan sub-distrik Padang Bedagai.

***** Raja Pa Mbelgah adalah penguasa atau di kenal sebagai Sibayak Kaban Jahe di tanah Karo, ada kesalahan informasi disini karena Tongging dalam bahasa karo disebut Tengging bukanlah bagaian dari Sibayak Kabanjahe, di jaman Kolonial Tongging masuk dalam wilayah Sibayak Suka, daerah ini berbudaya dan berbahasa sangat mirip dengan Toba.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.