C. De Haan 1870: 1. Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak

Bagian 1

Pada bulan September hingga Oktober 1870, sebuah ekspedisi resmi pemerintah Hindia Belanda diberangkatkan menuju wilayah Batak merdeka di pedalaman Sumatera. Perjalanan ini didampingi oleh fotografer F. Feilberg dan Pangeran Deli.

Secara geopolitik, wilayah Batak merdeka berada di antara pesisir barat Sumatera dan Kerajaan Aceh. Di pesisir timur, kerajaan-kerajaan Melayu seperti Deli memegang pengaruh politik. Deli sendiri terbagi atas administrasi langsung pangeran dan empat wilayah (suku) yang dipimpin oleh Datuk-suku* (Empat suku).

Berbeda dengan tulisan John Anderson Mission to East Coast Sumatera tahun 1823, di jaman C. De Haan ini keempat Orang Kaya atau Sibayak yang dulu tidak tunduk pada Deli, sudah tuntuk pada Deli, sehingga sudah di beri gelar Melayu Datuk, yakni: Sunggal, Senembah, Sukapiring dan Hamparan Perak.

Di lereng pegunungan yang memisahkan daratan datar Deli dan dataran tinggi Batak, terdapat wilayah transisi yang disebut orang Melayu sebagai “Dusun”. Masyarakat Batak di wilayah Dusun ini secara budaya, agama, dan moral tetap memegang tradisi leluhur dan dipimpin kepala desa sendiri. Namun, dalam urusan sengketa hukum yang besar, mereka tunduk pada keputusan Datu Suku dari Deli, yang membuat adat mereka perlahan berbaur dengan budaya Melayu.

Pengaruh Sultan Deli inilah yang membuat wilayah Deli yang kemudian jadi Kabupaten Deli Serdang, meluas jauh hingga jauh kekaki Gunung tanah Karo, yakni hingga wilayah Gunung Meriah dan Sibolangit.

Catatan Perjalanan Menuju Dataran Tinggi:

  • 19 September (Menuju Tangkahan): Ekspedisi dimulai dari Kampung Baru. Setelah melewati Delitua*, rombongan memasuki perbatasan Dusun Kampung Baru. Berkat jalanan yang mulus untuk dilalui kuda, mereka melewati Desa Jaba, Kampung Tengah, dan Ranbei, sebelum akhirnya beristirahat di Tangkahan.

* Merujuk Kisah Puteri Hijau Di Delitua ini masih terdapak Kramat Puteri Hijau yang dianggap masih terhubung dengan Sultan Deli dan SukaNalu di Kabupaten Karo. Marga Sembiring sub marga Meliala seharusnya punya peranan penting di sini. Sehingga ada istilah Delitua adalah awal Deli yang ada adalah Deli muda.

  • Etape Lantasan: Perjalanan hari berikutnya menuju Lantasan masih didukung jalan yang bagus, meski sesekali terhambat tebing sungai yang curam. Rombongan mencatat populasi rumah tangga di setiap kampung yang dilewati: Suka maliha (40 rumah tangga), Luwei-luwei (8), Lando (8), Rambe (10), Bekukul (25), Lima Mungkor (15), dan Sagum (5).
  • Etape Buluh Awar: Dari Lantasan, medan berubah menjadi lanskap pegunungan yang menanjak dan sulit. Menurut penduduk setempat, topografi yang curam ini membuat lahan pertanian sangat terbatas. Rombongan terus mendaki melewati Betunding (8), Berakhir (8), Bengkurung (10), Sarangpunei (10), Permandian/sebelumnya Rumah Durien (20), Salabulan (20), Rumah-kinangkong (20), LaJa (20), hingga tiba di Buluh Awar (20 rumah tangga).

Terlihat jumlah penduduk tahun 1870 saat itu masih sangat sedikit.

Perubahan Alam di Bulu-aur*: Setibanya di Buluh Awar, rombongan mendapati perubahan ekosistem yang signifikan. Di sinilah mereka melihat sawah untuk pertama kalinya. Suara alam berubah; kemunculan burung anuk menjadi penanda senja. Bulu-aur juga menjadi batas alami fauna liar; harimau masih bisa ditemukan hingga titik ini (meski jarang), namun diyakini sudah tidak ada lagi di dataran yang lebih tinggi.

* Kini dikenal sebagai Buluh Awar dimana disininilah berdiri Gereja Karo pertama Sekali yang kita kenal kini sebagai GBKP (Gereja Batak Karo Protestan) yang merupakan aliran Calvinis yang pemisah sedari awal dari HKBP yang aliran Lutheran.

Melintasi Gerbang Cingkem Menuju Dataran Tinggi Batak

Dari Buluh Awar Menuju Cingkem Melanjutkan perjalanan dari Buluh Awar, rute yang kami lalui cukup baik dan membawa kami melewati berbagai permukiman. Kami mencatat kampung Kuta-Bungkei (12 rumah tangga) yang berada di seberang Rumah-sipilpil. Selanjutnya tampak Katangkuhan dan Merkelu (total 6 rumah tangga) yang berhadapan dengan Kampung-Sikabuen (6 rumah tangga). Di sisi kiri jalan, berturut-turut kami melewati Pagarbatu (40 rumah tangga), Besukun (20 rumah tangga), dan Bukum (11 rumah tangga). Jalanan yang mulus ini kemudian diakhiri dengan jalan menurun yang cukup panjang dan curam, mengantarkan kami turun ke Cingkem (Chingkěm), sebuah permukiman baru yang hanya dihuni 6 rumah tangga.

Terlihat kampung-kampung masih dihuni oleh sedikit penduduk

Pendakian Curam Sang Gerbang Alam Cingkem merupakan gerbang utama menuju negara-negara Battak yang sesungguhnya. Di titik ini, hanya satu punggung gunung yang memisahkan kami dari dataran tinggi. Sesuai dengan peringatan yang kami dengar, pendakian tersebut sangatlah sulit dan curam, memakan waktu hingga empat jam (sebagai catatan, saat perjalanan pulang nanti, kami hanya membutuhkan setengah dari waktu tersebut untuk menuruni jalur yang sama). Pada rute pendakian ini terdapat empat titik peristirahatan. Tepat di perhentian kedua, kami menatap ke arah laut di kejauhan dan menyadari bahwa kami tengah berdiri di garis batas peralihan menuju negara-negara yang merdeka.

Menyambut Hamparan Dataran Luas Setibanya di puncak gunung, jalur mulus yang ada terasa menyulitkan karena terhalang oleh batang pohon tumbang, genangan air, dan lubang. Namun, kondisi jalan akhirnya membaik sehingga kami dapat kembali menunggang kuda. Kami melanjutkan perjalanan beberapa waktu hingga berbelok melewati sebuah celah sempit di hutan. Di sanalah sebuah pemandangan luar biasa menyambut kami: sebuah dataran luas yang bermandikan cahaya matahari, dikurung oleh lingkaran pegunungan, serta dihiasi bukit-bukit dan hutan-hutan kecil yang seolah-olah ditaburkan begitu saja di atasnya.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.