Van Dijk 1893: 15. Tinjauan Ringkas Kerajaan Tanjung Kasau

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 15

Tanjung Kasau merupakan sebuah kerajaan kecil yang berdiri sendiri dan diperintah oleh seorang Raja yang diangkat oleh Pemerintah Hindia Belanda. Wilayahnya berbatasan langsung dengan Bandar, distrik Melayu Pagurawang, dan onderafdeeling Padang Bedagai, dengan batas-batas yang telah resmi ditetapkan dan dinyatakan dengan jelas.

Penduduk kerajaan ini berjumlah sekitar 50 kepala keluarga dan seluruhnya memeluk agama Islam. Dalam hal adat istiadat dan pakaian, mereka telah banyak mengadopsi budaya orang Melayu di pesisir. Meskipun demikian, secara genealogis mereka berasal dari keturunan Batak, tepatnya dari marga si Hambing . Besar kemungkinan asal-usul mereka bermula dari Panguruan, sebuah lanskap di Pulau Samosir yang terletak dekat tanah genting si Ogung Ogung di Danau Toba.

Sihambing = Sihombing – Sihombing ini juga adalah termasuk boru dari Raja Lontung, jadi ada kemungkinan terbesar mereka ada sebagai perantara antara Batubaru dan Tanah Jawa.

Para kepala suku setempat tidak dapat memberikan banyak informasi mengenai silsilah dan asal-usul mereka. Namun, berdasarkan keterangan yang dihimpun dari berbagai sumber, terdapat narasi bahwa orang-orang dari suku (marga) ini telah mendiami urung Siantar bahkan sebelum kedatangan marga Sinaga dan Si Damanik. Karena marga Sinaga dan Si Damanik mendesak mereka ke arah timur laut saat tiba, marga si Hambing akhirnya menetap di wilayah yang kini menjadi wilayah Bandar dan Tanjung Kasau. Akibat sejarah perpindahan ini, muncul klaim saling silang di mana masing-masing pihak menyatakan bahwa tanah dari satu kerajaan merupakan bagian dari kerajaan lainnya. Meski demikian, teori mengenai asal-usul marga Si Hambing dari Samosir dianggap sebagai penjelasan yang paling mendekati kebenaran.

Dalam menjalankan pemerintahannya, Raja Tanjung Kasau membawahi beberapa KarajaƤn kecil yang tidak terlalu signifikan. Sebaliknya, kerajaan ini memiliki wilayah tanah rawa tak berpenghuni yang sangat luas. Sebagian dari lahan basah ini telah disewakan oleh Raja kepada pengusaha-pengusaha Eropa untuk dibuka sebagai perkebunan budidaya tembakau.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.