DaiTo: Dairi Toba dan Dinamika Identitas Kebudayaan

Menarik sekali berdiskusi dengan Amang lewat akun TikTok Live @moratuagajah. Dari hasil diskusi tersebut, kita bisa melihat bahwa di antara Adat Dairi di daerah tertentu, terdapat perbedaan yang cukup nyata dengan adat Toba maupun Pakpak.

Perbedaan Mencolok Adat Dairi dan Toba

Salah satu perbedaan yang paling menonjol antara Dairi dan Toba terletak pada hak ibu dari pengantin perempuan yang disebut “Surung-surung Inang Pangintubu”.

  • Bentuk Tradisional: Hadiah ini biasanya berbentuk barang berharga seperti emas.
  • Modernisasi: Saat ini, bentuknya sudah bisa digantikan dengan uang, tergantung pada kesepakatan kedua belah pihak.

Selain itu, dalam setiap pesta pernikahan adat Dairi, keberadaan lemang sangat penting dan bisa termasuk sebagai jambar (bagian hak daging/makanan adat) untuk orang-orang tertentu. Secara esensial, hal ini tidak terlalu berbeda jauh dengan Toba, karena keduanya sama-sama termasuk dalam payung besar kebudayaan Batak.

Asal-usul Istilah “DaiTo” dan Polemik Historis

Kata DaiTo (Dairi Toba) sebenarnya sudah terbilang lama terdengar. Istilah ini kembali mencuat akibat kerisihan di media sosial yang dipicu oleh pernyataan segelintir orang. Mereka menyatakan diri sebagai budayawan, lalu menyuarakan narasi bahwa “Pakpak bukan Batak”.

Sejauh penelusuran sejarah, kata Pakpak, Dairi, Toba, Karo, Simalungun, Angkola, dan Mandailing baru terdengar dan tertulis secara administratif pada tahun 1800-an melalui catatan para penjelajah barat:

  • Radermacher yang melihat dari sisi Pantai Barat Sumatra.
  • William Marsden yang mencatat seluruh Sumatra.
  • J. Leyden, MD & De Scheemaker dari Pantai Timur sekitar Asahan.
  • John Anderson dari seluruh Pantai Timur Sumatra Utara dan Riau.

Kritik Terhadap Akademisi: Miskinnya literasi di tengah masyarakat serta terlibatnya oknum akademisi dalam memantik sentimen isme (fanatisme kesukuan) telah membutakan sejarah itu sendiri. Menghadapi kekisruhan ini, para akademisi seolah enggan mengambil tanggung jawab. Banyak dari mereka yang justru mengikuti arus, bahkan ikut membangun opini yang keliru.

Banyak pihak menonjolkan hal-hal yang sama sekali tidak memiliki basis sejarah, sekadar agar sukunya dianggap “lebih tua” dari Batak. Padahal, catatan sejarah sahih dari Fernão Mendes Pinto (1539) menyebutkan bahwa pada tahun tersebut, terjadi perang besar di mana koalisi Batak melawan Aceh membawa 15 tentara dengan 8.000 orang Batak, didukung oleh pasukan bantuan dari Minangkabau, Indrapura, Jambi, Luzon, hingga Burma.

Kebungkaman para sejarawan saat ini tampaknya demi menjaga pamor semata di mata mereka yang memiliki fanatisme suku berlebihan. Atau, mungkin mereka sulit “menjilat ludah sendiri” karena sejak awal ikut memantik kekisruhan ini. Lebih runyamnya lagi, para penolak identitas Batak ini mampu membangun narasi sejarah tanpa bukti, sementara para akademisi memilih diam atau malah memanfaatkannya.

Klaim Wilayah dan Kedekatan Budaya

Kembali ke persoalan klaim “Pakpak Bukan Batak”. Mereka mengaku datang dari India Tondal sebagai rading beru (menantu laki-laki) dari pihak marga Pekan atau Pohan—yang hingga kini masih solid sebagai bagian dari Batak (meski aslinya tidak semua boru tersebut berasal dari Pohan).

Pihak Pakpak Bukan Batak ini kemudian memasukkan seluruh wilayah Dairi hingga ke Humbang sebagai wilayah mereka karena keberadaan patung yang disebut Mejan. Padahal, bahasa dan adat di wilayah tersebut berbeda. Wilayah dari Silalahi Nabolak, Parbuluan, hingga Tarabintang secara budaya justru jauh lebih dekat ke Toba. Ini menjadi keunikan tersendiri: daerah yang diklaim sebagai wilayah Pakpak justru masyarakatnya berbahasa dan berbudaya lebih dekat ke Toba.

Persoalan identitas Dairi atau Pakpak ini sebenarnya bukan barang baru:

  1. Tindi Raja Manik (seorang Pakpak Pegagan) juga mencatat dinamika ini saat menyusun Kamus Batak Pakpak Dairi.
  2. Pemekaran Kelembagaan: Hal ini juga terlihat pada pemekaran HKBP menjadi GKPPD (Gereja Kristen Protestan Pakpak Dairi).

Nama Dairi Pakpak atau Pakpak-Dairi akhirnya dianggap sebagai jalan tengah agar bisa diterima oleh semua pihak. Faktanya, Dairi dan Pakpak sangat terikat dalam relasi kemargaan satu sama lain, meskipun terkadang sesama satu marga pun bisa berbeda pendapat mengenai asal-usul mereka.

Faktor Hilangnya Pengetahuan Asal-usul Marga

Dalam diskusi tersebut, memicu pembahasan mengenai bagaimana seseorang atau sekelompok keturunan bisa kehilangan pengetahuan tentang asal-usul silsilah (tarombo) aslinya. Setidaknya ada 4 faktor utama:

  1. Hak Kepemilikan Tanah: Tanah tradisional hanya boleh diwariskan kepada anak kandung/anak angkat, menantu laki-laki (rading beru/boru), atau didapatkan lewat jalur peperangan.
  2. Adopsi Marga Akibat Luasnya Wilayah: Mengingat luasnya wilayah Dairi Pakpak terdahulu dengan jumlah penduduk yang sedikit, seseorang bisa merantau dan mendapat tanah sebagai hak hidup di wilayah tersebut dengan cara diangkat menjadi anak (anak angkat) oleh marga setempat. Melalui padan (sumpah adat), mereka menjadi bagian dari marga tersebut, sehingga keturunannya kelak kehilangan silsilah marga aslinya.
  3. Pernikahan Politis: Menjadi menantu laki-laki dari penguasa setempat, di mana ada tekanan atau kewajiban adat untuk mengikuti marga dari pihak saudara perempuan (memberu/amanborunya).
  4. Faktor Peperangan: Perang saudara sesama satu marga sering kali memaksa terjadinya koalisi baru yang tidak sedarah. Mereka kemudian mengikat diri dan melebur ke dalam marga lain demi keselamatan dan aliansi politik, yang membuat semakin mengaburkan asal usul.
  5. Seperti di Toba yang sudah meninggalkan ini, terjadi juga pernikahan semarga yang tidak satu leluhur puncak, untuk pengikat atau menghindari musuh menjadi kula-kula/hula-hula hingga berada diatas kita, dimana di Batak Toba dulu disebut istilahnya Tompas Bombong dimana syaratnya 7 generasi tidak boleh satu leluhur.

Kesimpulan

Provokasi dan perbedaan yang terus dibakar ini membuat istilah “Kalak Dairi” dan “Adat DaiTo” (Dairi Toba) kembali mencuat. Bagaimanapun, orang-orang Dairi adalah orang Batak sejatinya yang secara kultural masih sangat dekat dengan Batak Toba, terutama kawasan Samosir.

Masyarakat Dairi asli disebut tidak mengenal sistem suak-suak (pembagian wilayah suku Pakpak) dan mereka bukan bagian dari Suak Kelasan. Ada perbedaan adat yang sangat mencolok: di adat Pakpak, pihak rading beru (menantu laki-laki penerima perempuan) yang justru “mangulosi” (memberikan ulos/kain adat). Hal ini berbanding terbalik dengan adat Toba dan Dairi, di mana pihak kula-kula/hula-hula (keluarga pemberi perempuan) yang berhak memberikan ulos kepada menantu.

Pada akhirnya, polemik narasi “Pakpak Bukan Batak” ini justru semakin membelah dan merugikan hubungan persaudaraan antara Dairi dan Pakpak itu sendiri.

#DaiTo #DairiToba #Batak #BatakToba #Pakpak #Dairi #BudayaBatak #SejarahBatak #HalakBatak #MargaBatak #Tarombo #Samosir #Sidikalang #PakpakBharat #BudayawanBatak #TikTokBatak

Tinggalkan komentar