Jejak Batak di Catatan Kuno Dunia", "Dari Nama Wilayah Menjadi Nama Etnis
Pernahkah Anda mendengar istilah “Bangso Batak”? Bagi masyarakat Batak, khususnya Batak Toba yang masih konsisten mempertahankannya, kata “Bangso” (Bangsa) bukan sekadar sebutan. Identitas ini mengakar kuat dalam kehidupan sehari-hari, bahkan abadi dalam nama organisasi kemasyarakatan, seperti Horas Bangso Batak (HBB) yang didirikan dan dipimpin oleh Bapak Lamsiang Sitompul saat ini.
Namun, mengapa saat ini kita lebih sering menyebutnya “Suku Batak” daripada “Bangsa Batak”?
Peralihan ini terjadi sejak berdirinya NKRI (Negara Kesatuan Republik Indonesia) sejak berdiri 17 Agustus 1945. Demi persatuan negara baru, konsep “Bangsa” dilekatkan pada Indonesia, sementara identitas erat seperti Batak disesuaikan tingkatannya menjadi suku bangsa, yang secara tersirat mengakui bahwa awalnya Batak itu adalah Bangsa sebelum Indonesia merdeka. Menariknya, jauh sebelum republik ini berdiri, nama Batak telah melanglang buana dalam catatan sejarah dunia dengan berbagai dinamika unik.
Jejak Batak di Catatan Kuno Dunia
Menurut sejarawan Daniel Perret, istilah Batak sudah terekam sejak abad ke-13 dalam dialek Cina lewat kata “Pa’ta” atau “Ma-da”. Jejak digital masa lalu ini ditemukan dalam dua sumber utama:
- Awal Abad ke-13: Chau Ju-Kua mencatat dalam buku laporannya bahwa Negeri “Pat’a” merupakan salah satu dari 15 wilayah bagian di bawah kekuasaan Kerajaan Sriwijaya.
- Tahun 1285: Catatan resmi Dinasti Yuan (Yuanshi) merekam kedatangan utusan dari “Ma-da” ke istana Kublai Khan. Dalam dialek Fujian, kata ini dibaca “Bata”.
Seiring waktu, penjelajah Barat mulai ikut mencatat. Pada tahun 1430, Nicolo de’ Conti, penjelajah asal Venesia (Italia), tinggal setahun di “Sciamuthera” (Samudra Pasai). Ia menjadi orang Eropa pertama yang menulis tentang wilayah “Batech”, yang saat itu digambarkannya dengan stereotip ekstrem: dihuni oleh manusia yang gemar berperang dan pemburu kepala.
Dari Nama Wilayah Menjadi Nama Etnis
Nama Batak sempat berubah-ubah dalam literatur asing—seperti Pa’ta, Ma’da, Battech, Batas, Butas, Bata, hingga Batta—akibat perbedaan dialek penerjemah. Barulah pada awal tahun 1800-an, Radermarcher dan William Marsden lewat mahakaryanya The History of Sumatra (1811), memantapkan penulisan yang benar: Batak.
Pada masa itu, istilah-istilah yang kita kenal sekarang sebenarnya merujuk pada nama wilayah (territory), bukan nama suku:
- Tahun 1778: Charles Miller dan Giles Holloway mengunjungi pedalaman Tapanuli dan mencatat nama tempat seperti Angkola, Padang Bolak, Pinang Sori, dan Batan Onan.
- Tahun 1811: Marsden melaporkan bahwa wilayah Batak membentang luas dari Tamiang (pantai timur Aceh) hingga Singkil, serta dari Air Bangis hingga Rao (Sumatera Barat). Marsden juga mencatat nama daerah seperti Papa (Pakpak), Diri (Dairi), Silindung, Toba, Karo, Angkola, Mandailing, dan Padang Bolak.
- Tahun 1862: Netscher pertama kali menulis istilah Timor untuk merujuk wilayah Batak Timur (Simalungun).
Pemetaan Bahasa yang Mengubah Segalanya
Lantas, bagaimana nama-nama wilayah ini berubah menjadi sub-suku? Jawabannya ada pada kesamaan bahasa.
Para peneliti asing mulai mengelompokkan wilayah-wilayah ini berdasarkan kemiripan budayanya. Puncaknya terjadi pada tahun 1926, ketika Pdt. M. Joustra membuat peta linguistik. Wilayah yang memiliki akar bahasa yang sama akhirnya dikelompokkan menjadi enam kelompok besar:
- Batak Karo di bagian utara.
- Batak Pakpak / Dairi di barat laut Tapanuli.
- Batak Timur / Simalungun di timur Danau Toba.
- Batak Toba di bagian tengah dan Padang Lawas Utara.
- Batak Angkola di Angkola, Sipirok, Padang Lawas Tengah, dan selatan Sibolga.
- Batak Mandailing di Mandailing dan Padang Lawas Selatan.
(Catatan: M. Joustra tidak memasukkan wilayah Alas sebagai bagian dari Batak, berbeda dengan pandangan Wijngaarden pada tahun 1893).
“Suku” dan “Puak”: Istilah yang Hilang dalam Kamus Asli
Hasil pemetaan bahasa milik Joustra inilah yang diadopsi oleh kaum cendekiawan dan birokrat kolonial. Ketika Batak ditetapkan sebagai satu ethnic group (Suku Bangsa), maka wilayah-wilayah di atas otomatis diturunkan statusnya menjadi “rumpun”, “sub-suku”, atau “puak-puak” Batak.
Uniknya, kata Suku atau Puak sebenarnya tidak dikenal dalam kosa kata asli bahasa Batak. Jika kita memeriksa kamus-kamus klasik berikut:
- Kamus Karo – Belanda (M. Joustra, 1906)
- Kamus Batak Toba – Jerman (J. Warneck, 1906)
- Kamus Batak Angkola – Mandailing (H. J. Eggink, 1936)
Definisi “suku” dan “puak” baru kita temukan maknanya setelah diserap ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), yang akarnya berasal dari bahasa Melayu dan Minangkabau. Dalam konsep Melayu/Minang, kata “suku” justru merujuk pada klan atau marga.
Hal ini menjelaskan catatan John Anderson pada tahun 1823 saat mengunjungi seputaran Deli dan Langkat. Ia menulis tentang orang Batak “bersuku Karo-karo”. Mengapa? Karena penguasa di luar wilayah Labuhan saat itu adalah orang Batak yang memang memegang marga Karo-karo.
Lalu bagaimana Belanda mempengaruhi itu:
Termasuk point penting Belanda berdiri tahun 1648, dan tiba di Nusantara pada 22 Juni 1596 tepatnya di Banten dan masuk ke pedalaman Sumatera Utara setelah tahun 1800an.
Kesimpulan yang bisa kita pegang saat ini.
Dari rekam jejak sejarah ini, kita bisa menarik satu kesimpulan penting: identitas “Batak” itu sendiri bukanlah ciptaan kolonial atau asing karena namanya sudah eksis sejak abad ke-13. Sebaliknya, konsep pembagian wilayah menjadi sub-suku, sub-etnis, atau puak-puak itulah yang lahir dari standarisasi dan pemetaan yang dilakukan oleh para peneliti dan pemerintah kolonial.