Van Den Bor 1893: Legenda Goa Liang Namuap Bagian 1

R. C. Van Den Bor: De Liang Na Muap En De Legende Daaraan Verbonden – 1893 Bagian 1

Kira-kira tiga palen1 di sebelah timur kampung Handio, yang termasuk dalam lanskap Sosa Julu di afdeeling Padang Lawas, terdapat sebuah gua yang sangat luas bernama Liang Na Muap, yang berarti Gua Berbau. Nama ini diberikan karena tumpukan kotoran (guano) yang sangat banyak di dalamnya, yang berasal dari tak terhitung jumlahnya kelelawar yang bersarang di sana.

Untuk mencapai Handio dari Gunung Tua, ibu kota afdeeling tersebut, seluruh perjalanan dapat ditempuh dengan menempuh jarak sekitar 56 palen; namun, dari Handio, perjalanan harus dilanjutkan dengan berjalan kaki.

Gua ini diselimuti oleh ketakutan takhayul dan, menurut legenda, dihuni oleh apa yang disebut Halak Bunian2 atau Halak Bonar, sejenis makhluk antara manusia dan roh, yang hidup mandiri dan tidak terlihat, namun mampu menampakkan diri.

Dahulu, sebelum “Kompeni” (pemerintah kolonial) menancapkan kekuasaannya di daerah ini, Halak Bunian masih sering menampakkan diri kepada manusia3, dan orang-orang biasa memberikan persembahan kepada mereka. Akan tetapi, sejak saat itu, mereka telah menarik diri ke dalam persembunyian mereka dan tidak pernah muncul lagi. Meskipun demikian, rasa takut terhadap Halak Bunian ini masih tetap tertanam di hati masyarakat.

Gua tersebut memiliki dua lubang masuk. Lubang yang kami gunakan untuk masuk terletak cukup terbuka dan menghadap ke tempat tidur sungai kecil yang telah mengering. Sebelum gempa bumi dahsyat pada tanggal 17 Mei 1892, air masih mengalir keluar dari sana, namun setelah tanggal tersebut air berhenti mengalir, dan tempat asal air di dalam gua tersebut tidak dapat dilacak.

Lubang masuk tadi tingginya kira-kira setinggi dua orang dewasa dan lebarnya satu depa4 . Lantai gua sangat tidak rata, di mana-mana menonjol bongkahan-bongkahan batu besar dan kecil, sehingga orang harus berjalan dengan hati-hati. Bongkahan-bongkahan batu itu semuanya tumpul, begitu pula dinding dan langit-langitnya, yang jelas merupakan akibat dari kerja air yang menyebabkan terbentuknya gua ini. Lantainya tertutup lapisan guano hitam yang tebal, yang di beberapa tempat tingginya lebih dari dua kaki.

Kerangka gua ini kemungkinan besar terdiri dari granit, yang sebagian besar tertutup oleh endapan kapur, terkadang lunak, terkadang sekeras batu. Stalagmit[efn_note] Stalagmit adalah endapan kalsium karbonat berbentuk kerucut yang tumbuh dari lantai gua ke arah atas. Terbentuk dari kumpulan mineral (terutama kalsit) yang terbawa oleh air tetesan dari langit-langit gua, stalagmit sering ditemukan berpasangan tepat di bawah stalaktit[/efn_note] dan stalaktit pun ditemukan dalam jumlah banyak, dan pembentukan batu tetes masih terus berlangsung, terbukti dari air yang menetes di mana-mana.

Lebar lorong-lorong gua bervariaSiantara kira-kira setengah meter hingga dua, tiga, atau empat meter; lebar terkecil hanya ditemukan beberapa kali. Pada jarak sekitar 60 meter dari pintu masuk, lorong bercabang menjadi tiga. Cabang sebelah kanan adalah jalan buntu, dengan panjang kira-kira 90 meter. Cabang tengah berakhir di ruang berbentuk kubah dengan lebar kira-kira 15 meter dan tinggi kira-kira 3 meter.

Di dinding samping yang tegak lurus di sini, muncul lagi sebuah lorong samping, yang berhulu di percabangan sebelah kiri. Setelah berjalan sekitar 100 meter di lorong ketiga ini, tibalah di sebuah aula raksasa yang kira-kira berbentuk telur, yang panjang terbesarnya adalah 38 meter, sedangkan tingginya diperkirakan mencapai 20 meter; langit-langit di sini berbentuk kubah.

Berjalan lebih jauh dari aula ini, tibalah di sebuah lorong melingkar dengan empat percabangan, di mana dua di antaranya bertemu kembali pada jarak yang tidak seberapa jauh. Bentuk gua selanjutnya tidak beraturan, dan menampilkan beberapa percabangan kecil yang buntu.

Di beberapa tempat, cahaya siang samar-samar menembus masuk melalui celah-celah di dinding batu, yang sering kali menyebabkan pancaran fantastis dan tidak pasti memecah kegelapan; di satu tempat, cahaya siang penuh masuk. Di sini tampaknya telah terjadi reruntuhan, yang menciptakan semacam cerobong setinggi empat atau lima meter, sehingga semak-semak yang tumbuh di atasnya terlihat.

Tidak jauh dari sini, gua berakhir; bagian terakhirnya cukup menanjak. Lantainya di sini terutama ditaburi bongkahan batu, sehingga berjalan di sana cukup sulit. Pintu keluarnya tersembunyi di bawah semak belukar yang lebat.

  1. Satuan palen mungkin maksudnya Batu yakni 1.6km
  2. Dalam banyak legenda ini bisa jadi penanda dari orang yang asal usulnya tidak jelas atau tidak dikenal diluar sebagai mahluk yang bukan manusia biasa.
  3. Sehingga belum ada bisa bukti nyata menunjukkan keberadaan mereka.
  4. Satu depa umumnya disetarakan dengan 1,8288 meter. Depa adalah satuan panjang tidak baku yang diukur dari ujung jari tengah tangan kanan hingga ujung jari tengah tangan kiri saat kedua lengan direntangkan lurus. Meskipun sering dianggap sekitar 1,5 hingga 1,8 meter, standar internasional atau konversi metrik mengukurnya sekitar 1,83 meter (2 yard atau 6 kaki).-wikipedia.com

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.