C. De Haan 1870: 2. Menembus Dataran Tinggi Batak -Dari Cingkem hingga Danau Toba

Bahagian 2: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Cingkem*: Gerbang Menuju Tanah Merdeka Perjalanan dari Bulu-aur berlanjut melintasi rute yang relatif mulus, melewati desa-desa seperti Kuta-Bungkei, Katangkuhan, Merkelu, Sikabuen, Pagarbatu, Besukun, dan Bukum. Jalur ini berujung pada turunan curam menuju Cingkem, sebuah permukiman baru berisi enam rumah tangga. Cingkem merupakan gerbang perbatasan geografis dan politis menuju wilayah Batak yang sepenuhnya merdeka, di mana daratan tinggi hanya terhalang oleh satu punggung gunung.

* Cingkem seperti ditulis merupakah daerah yang hanya ditinggali hanya 6 rumah tangga, sepertinya harusnya ada di daerah sekitah Bandar Baru kini.

Merujuk pada Tulisan Jhon Anderson 1823, maka kedatangan Orang-orang Karo dari Gunung adalah untuk bertana di dataran rendah, jadi kampung-kampung diantara Deli dan Gunung sepertinya adalah tempat transit, sehingga penduduk di wilayah ini jauh lebih sedikit dari dataran rendah dan di Gunung.

2. Pendakian Terjal dan Penyambutan di Dataran Tinggi Untuk mencapai dataran tinggi, rombongan harus menempuh pendakian curam selama empat jam. Tepat di titik peristirahatan kedua, garis pantai perbatasan masih terlihat di kejauhan. Setelah melewati jalan setapak puncak yang tertutup pohon tumbang dan celah hutan sempit, hamparan dataran luas yang bermandikan cahaya akhirnya menyambut mereka. Di sana, kerumunan besar beserta Panghulu Kampung-Jawa** dan Sampun telah menanti dengan upacara penyambutan, musik, dan tarian. Namun, hujan deras disertai angin kencang tiba-tiba turun, memaksa rombongan segera memacu kuda dan bermalam di Sampun.

** Menarik melihat ada nama kampung jawa tertulis. Saya juga belum menemukannya asal muasal nama Kampung jawa ini, di daerah Deli ditulis Jhon Anderson dalam Mission to East Coast Sumatra 1823 ada bekas koloni Jawa sebanyak 5000 orang yang tidak diketahui lagi keberadaannya atau kisahnya.
Menariknya melayu juga di sebut Jawi, yang beberapa penulis menyebut ini adalah versi Arabisasi Jawa, menariknya lagi Tome Pires dalam Suma Oriental 1515 juga menyebut kata Melayu adalah dari bahasa Jawa yang artinya Melarikan dari.

3. Panorama Pegunungan dan Kegagalan Fotografi di Danau Toba Dataran tinggi ini dikelilingi oleh jajaran pegunungan yang menakjubkan. Di utara terdapat Gunung Baros dan rangkaian perbukitannya. Di sisi lain, menjulang Gunung Sibayak yang menyemburkan asap belerang keemasan, Gunung Raja Kinayan, serta Sinabung sebagai puncak tertinggi. Dari lereng Gunung Pisau-pisau (Piso-piso), pesona air biru Danau Toba di Teluk Tenggieng (Tongging) terlihat memukau, berbatasan dengan Pulau Tebah* (Toba) di kejauhan. Fotografer F. Feilberg sempat mencoba memotret lanskap megah ini, namun gagal akibat kepadatan udara/kabut. Di kaki gunung ini pula berhulu Sungai Lau biang, yang kelak mengalir hingga ke pesisir menjadi Sungai Langkat.

** Saat ini Samosir belumlah menjadi Pulau, dan belum bernama Samosir, dimana Pulau itu dulunya masih menyatu dengan sumatera, tetapi masyarakat Karo sudah mengenalnya dengan nama Pulau Toba, yang ditulis Pulau Tebah.

4. Geologi Vulkanik dan Taktik “Bumi Hangus” Secara geologis, wilayah tersebut didominasi tanah liat berpasir kuarsa, sawah-sawah yang dipenuhi batu besar, serta tanah putih berminyak di sekitar Siberaya. Jejak vulkanik sangat kuat, ditandai dengan sumber belerang dan mata air panas di kaki gunung-gunung. Wilayah ini sangat miskin mineral tambang, sehingga kapur sirih harus diimpor dan sendawa diekstrak dari kolong rumah tua. Uniknya, lanskap pegunungan yang tandus tanpa hutan lebat bukanlah fenomena alam.

Penduduk setempat dengan sengaja dan rutin membakar pepohonan serta semak belukar agar musuh tidak bisa menyusup tanpa terlihat***. Akibat taktik pertahanan ini, ekosistem yang tersisa hanyalah padang ilalang keras, pakis, dan herba beraroma mint.

*** Di Daerah Batak terkenal sebagai daerah yang independen dan demokratis, termasuk satuan unit terkecil seperti kampung, sehingga perseturuan antar kampung bisa sering terjadi, karena para penguasa umumnya juga berasal dari marga atau satu keturunan atau bisa dikatakan keluarga paling dekat, sehingga penguasa lebih tinggi juga terkadang jadi sulit mencampuri.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.