Van Dijk 1893: 3. Peta Wilayah Simalungun dan Lanskap-lanskapnya 1893

P. A. L. E. Van Dijk: Rapport Betreffende De Si Baloengoensche Landschappen Tandjoeng Kasau, Tanah Jawa En Siantar – 1893 Bagian 3

Secara keseluruhan, wilayah Si Balungun/Simalungun merupakan hamparan dataran yang sangat luas, subur, dan tertutup hutan, yang perlahan landai naik dari arah pesisir menuju tepian Danau Toba. Kenaikan elevasi ini terjadi begitu bertahap* sehingga hampir tidak terasa bagi para pelancong; bentang alam baru mulai terasa bergelombang ketika mendekati pegunungan perbatasan.

* Kelandaian jalan dari Pantai Timur ke Parapat sangat terasa saat kita berkendari, sangat kontras dengan dibandingkan rute Medan-Tongging atau Barus-Toba yang ekstrem. Rute Siantar dominan datar hingga Parapat, lalu menanjak moderat. Sebaliknya, rute dari Medan ke Tongging dan Barus menyajikan turunan/tanjakan curam ketika kita ke Danau Toba atau saat turun langsung menuju bibir danau (kaldera).

Di zona transisi ini, ditemukan banyak perbukitan dan jurang-jurang dangkal, yang tidak sedalam jurang di Tanah Toba pada umumnya. Sebagian besar wilayah luas ini, termasuk Tanah Raya dan daerah- daerah yang lebih ke utara, diselimuti oleh hutan berat, baik hutan primer maupun hutan sekunder yang lebih muda dan semak belukar. Menariknya, mendekati pegunungan perbatasan, bentang alam diselingi oleh padang alang-alang yang luas.

Keberadaan padang alang-alang ini menjadi pertanda bahwa pegunungan, dan dengan demikian juga danau, sudah dekat. Namun, berbeda dengan padang alang-alang yang gersang di Toba (yang juga mulai terlihat di sisi pegunungan ini), padang alang-alang di Si Balungun/Simalungun tetap sangat subur. Di bagian utara dataran ini, beberapa puncak gunung yang berdiri sendiri menjulang di tengah lanskap, di antaranya yang paling menonjol adalah Dolok Parapat, Dolok Singalang, dan Dolok Simbolon (puncak yang terakhir berada di wilayah Raya). Puncak-puncak yang terletak lebih utara dan terlihat dari arah danau, seperti Tanduk Banuwa dan Dolok Měrereng, sudah termasuk ke wilayah Tanah Kara.

Lanskap Tanah Jawa, Siantar, dan Tanjung Kasau hampir sepenuhnya datar, kecuali di bagian di mana Tanah Jawa dan Siantar terhubung ke pegunungan perbatasan. Setelah menuruni pegunungan dari sisi ini, kita sampai pada sebuah dataran tinggi (bergplateau) yang merupakan kelanjutan dari dataran tinggi Toba yang mengelilingi seluruh danau. Di dataran tinggi yang benar-benar gundul ini—hanya ditumbuhi alang-alang dan berbagai jenis rumput—terdapat beberapa lanskap yang termasuk dalam wilayah Si Balungun/Simalungun (Tanah Jawa); wilayah lainnya, termasuk yang berada di sisi Si Manuk-Manuk (Uluan), sepenuhnya merupakan wilayah Toba.

Selain itu, seluruh negeri ini dialiri oleh aliran sungai-sungai gunung yang tak terhitung jumlahnya dengan arus cepat serta air yang sangat jernih dan dingin. Lebar sungai-sungai ini bervariasi antara 3 hingga 20 meter. Di daerah hilir, beberapa sungai ini dapat dilayari, namun hanya oleh sampan-sampan kecil; mereka tidak sebanding dengan Sungai Asahan, misalnya. Dari Perdagangan (Bandar) hingga ke pantai, Sungai Bah Hapal adalah salah satu sungai yang dapat dilayari**. Namun, pelayaran di sungai ini menghadapi banyak kesulitan; sungai ini kadang-kadang benar-benar hilang ke dalam pasir atau rawa, membentuk anak sungai kecil yang tak terhitung jumlahnya yang seringkali sangat sulit dilewati, bahkan oleh perahu kecil sekalipun. Mengenai kelayakan pelayaran di sungai-sungai lain (yang secara lokal disebut “Bah”), sedikit informasi yang tersedia, meskipun kemungkinan besar keadaannya serupa dengan Bah Hapal.

** Sesuatu yang tidak bisa dilakukan saat ini, banyak sungai-sungai menjadi dangkal atau hilang akibat masifnya pembukaan hutan baik untuk persawahan, pertanian maupun perkebunan.

Jurang di mana sungai-sungai ini mengalir sangat dangkal; jurang terdalam yang ditemukan di sepanjang rute perjalanan mungkin hanya berkedalam +20 meter. Di sebagian besar sungai, permukaan air hanya mengalir beberapa meter di bawah tepi sungai, sehingga sangat mudah untuk mengalirkan air ke tanah di sekitarnya dengan membuat saluran pendek. Tanah yang sepenuhnya datar ini akan dapat dengan mudah diubah menjadi sawah yang, mengingat kesuburan tanahnya, akan memberikan hasil panen yang melimpah***.

*** Catatan lainnya menyebut Simalungun saat itu mengenal ladang berpindah-pindah, air melimpat tapi sebagaian besar (diluar lembah-lembah seputaran Danau Toba) tidak begitu menguasai teknologi irigasi seperti di lembah-lembah seputaran Danau Toba, yang sebahagian sudah mengelola pembagian air lewat pejabat yang bernama Raja Bondar.
Pembangunan persawahan masih di jaman Kolonial saat Belanda mengundang petani-petani dari Toba untuk membuka lahan di Simalungun untuk memenuhi kebutuhan beras, bandingkan laporan
Andreas Simangunsong dikenal sebagai Kepala Kaum Batak Toba yang mengorganisir penggarap sawah dari Tapanuli di wilayah Simalungun.

Hampir semua sungai (kecuali beberapa sungai sangat kecil yang menembus pegunungan perbatasan yang berfungsi sebagai pembagi air dan bermuara ke Danau Danau Toba) mengalir dari arah barat daya ke timur laut dan bermuara di pesisir timur Selat Malaka. Arah aliran sungai ini secara alami menentukan arah perdagangan wilayah tersebut. Hubungan dengan wilayah Toba yang sebenarnya sangat sedikit dan cukup sulit, hanya digunakan oleh penduduk lanskap di dataran tinggi yang masih termasuk dalam Tanah Jawa.

Sebaliknya, hubungan dengan Pesisir Timur sangat banyak dan mudah. Selain sungai-sungai (sejauh yang dapat dilayari), sejumlah jalan setapak dan jalan raya menghubungkan wilayah pedalaman ke pantai. Akibatnya, perdagangan meningkat sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir setelah aneksasi lanskap-lanskap tersebut.

Sama halnya dengan Kesultanan Asahan, bahkan seperti halnya wilayah Toba sendiri, Si Balungun kini dikenal sebagai Simalungun mengandalkan Pesisir Timur**** sebagai satu-satunya tempat pemasaran produk-produknya. Pegunungan perbatasan, terutama puncak dan lereng Si Manuk-Manuk, Batu Loteng, dan Dolok Bubungan, tertutup rapat oleh vegetasi hutan yang lebat, seperti halnya dataran. Di sisi Toba, vegetasi tersebut sedikit berkurang, hanya lebat di bagian atas lereng gunung Dolok Simbolon (Raya) juga tertutup rapat oleh hutan yang lebat.

**** Secara jarak maka Wilayah Simalungun lebih dekat berdagang ke arah Pantai Timur, seperti juga wialayah Toba Uluan yang bisa berdagang lewat Asahah, dan Juga Karo Gunung kearah Deli atau Langkat, dan daerah lainya di Danau Toba ke arah Pantai Barat, disamping keterikatan jarak ada juga keterikatan Marga, karena memang sejah awal tradisi memperluas wilayah atau merambah wilayah Baru cukup teratur dan terkait. Sehingga di luar Toba, mudah mendapat daerah koloni-koloni marga yang Luas.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.