Laporan 1893: Geofagia di Residen Tapanoeli: Catatan Tradisi Mengonsumsi/Memakan Tanah

Laporan 1893 Penulis tidak di ketahui

Praktik geofagia atau kebiasaan memakan tanah di Kepulauan Hindia Belanda merupakan fenomena unik yang pernah dibahas oleh Profesor Dr. G. A. Wilken. Di wilayah Residen Tapanoeli, tradisi ini tercatat cukup umum dijumpai, mulai dari Baros, Siboga, Batang-Taroe, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, Mandailing Besar dan Kecil, Batang-Natal, Ulu dan Pakanten, Natal, Toba, hingga Silindoeng. Sementara di Nias, praktik ini hanya ditemukan di pedalaman bagian selatan, itu pun terbatas pada masa kelaparan.

Asal-Usul dan Karakteristik Tanah

Di Sipirok, sebuah tradisi lisan mengaitkan kebiasaan ini dengan masa peperangan antar-kampung yang memicu kelaparan hebat. Dalam kondisi darurat, penduduk menemukan jenis tanah liat tertentu yang ternyata dapat dimakan dan memiliki rasa yang dianggap enak. Sejak saat itu, penggunaan tanah yang disebut sebagai bange, bangei, tanah, atau tano bange terus berlanjut secara turun-temurun.

Tanah ini biasanya ditemukan di lapisan tanah liat sepanjang lereng gunung, tepi sungai, hingga dataran yang cenderung tidak subur dan hanya ditumbuhi vegetasi jarang seperti ilalang. Varietasnya beragam:

  • Warna: Cokelat atau abu-abu kemerahan (dari lereng gunung), serta abu-abu muda atau putih kekuningan dengan urat merah/kuning (dari tepi sungai).
  • Kualitas: Varietas merah yang halus dan kering adalah yang paling dicari.
  • Rasa & Aroma: Memiliki rasa asam dan kadang asin, dengan aroma khas yang disebut haroem.

Proses Pengolahan dan Perdagangan

Sebagian besar konsumen mengumpulkan sendiri tanah tersebut, meski di beberapa tempat sudah menjadi komoditas perdagangan kecil. Di Toba, tanah ini diperdagangkan dengan sistem barter padi di pasar (onan).

Sebelum dikonsumsi, tanah menjalani persiapan sederhana: dipotong menjadi kue-kue kecil atau dibentuk bola, dicampur sedikit garam, atau disimpan dalam kantong bekas garam yang terbuat dari alang-alang. Proses pengeringan dilakukan di bawah sinar matahari atau di atas api unggun menggunakan keranjang pandan maupun rak bambu. Di Mandailing Raya dan Batang Taroe, rak bambu ini disebut raga-raga atau salajam, sedangkan di Mandailing dan Batang Natal proses pengeringannya dikenal dengan istilah disaleh.

Fungsi Sosial dan Medis

Konsumen utama tano bange adalah wanita hamil yang mengonsumsi satu hingga dua butir setiap hari sebagai agen perangsang dan penguat saraf. Mereka percaya tanah ini dapat mengurangi mual, meredakan nyeri persalinan, serta membuat anak lahir lebih kuat. Namun, banyak wanita yang terus mengonsumsinya hingga menjadi kecanduan bahkan setelah masa kehamilan usai.

Bagi pria dan anak-anak, tanah ini lebih berfungsi sebagai camilan atau sekadar meniru. Secara medis lokal, konsumsi dalam jumlah kecil setelah makan dipercaya meningkatkan pencernaan. Di Sipirok, tanah ini juga digunakan sebagai obat diare (baramoenji) dengan cara merendamnya dalam air, lalu mencampurnya dengan kunyit, garam, dan asam buah.

Dampak Kesehatan

Meski banyak yang mengklaim konsumsi dalam jumlah sedang tidak berbahaya, penggunaan berlebihan diketahui dapat menyebabkan sembelit parah dan penurunan berat badan secara perlahan. Selain itu, terdapat efek psikologis bagi mereka yang sudah kecanduan; penghentian konsumsi secara mendadak dapat menyebabkan seseorang jatuh ke dalam kondisi kesedihan yang mendalam.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.