Junghuhn 1847: 11. Kejayaan Melayu dan Fakta Kedaulatan Kuno Bangsa Batak

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Dari pelabuhan sibuk Malaka, bangsa Melayu—yang akar leluhurnya berasal dari dataran tinggi Minangkabau atau wilayah Agam kuno—mengepakkan sayapnya ke seluruh penjuru Nusantara dan mencapai puncak kejayaan. Namun, roda sejarah berputar tajam ketika armada Portugis di bawah komando Afonso de Albuquerque menyerang dan merebut Malaka pada tahun 1511. Terdesak oleh invasi asing ini, Sultan Mahmud Shah membawa rakyatnya melarikan diri ke arah timur Semenanjung Malaya, tempat mereka kemudian membangun pusat kekuasaan baru yang tangguh bernama Kesultanan Johor.

Baca Selengkapnya

Junghuhn 1847: 10. Menguak Jejak Peradaban Kuno: Dari Candi di Sumatra Hingga Lahirnya Singapura dan Malaka

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Jauh sebelum para perantau Minangkabau membangun peradaban baru di Singapura pada tahun 1160, dan jauh sebelum Malaka berdiri pada tahun 1252, Nusantara telah menyimpan jejak koloni Hindu-Buddha yang jauh lebih tua. Para peneliti menemukan petunjuk kuat bahwa para pedagang dan pelaut kuno telah membangun permukiman di Pulau Singapura, pantai barat Semenanjung Malaya, hingga menyusuri pedalaman pesisir timur Sumatra di antara muara Sungai Siak dan Asahan.

Baca Selengkapnya

Van Alkemade 1887: 4. Taktik Monopoli dan Jatuhnya Benteng Pesisir Terakhir Sumatra

Menjelang akhir masa jabatannya, Residen Belanda di Pantai Timur Sumatra akhirnya meneruskan permohonan Tengku Besar ke pemerintah pusat. Langkah ini ia ambil meskipun kedua belah pihak belum menyepakati nilai ganti rugi terkait hak pungutan pajak dan sewa. Mengesampingkan urusan uang yang belum tuntas, Gubernur Jenderal Hindia Belanda tetap meratifikasi draf perjanjian tahun 1879 itu pada tanggal 18 Oktober 1881.

Baca Selengkapnya

Junghuhn 1847: 5. Jejak Suku Abung dan Rahasia Persaudaraan Batak-Nias

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Sejarah Sumatra menyimpan kisah-kisah yang terkadang terlupakan, salah satunya tentang Suku Abung. Dahulu, suku ini mendiami sepuluh desa di pegunungan Samangka, Lampung. Mereka memiliki tradisi yang serupa dengan suku Dayak di Kalimantan: seorang pemuda harus membawa pulang kepala musuh sebagai syarat untuk meminang pengantin.

Baca Selengkapnya

Junghuhn 1847: 4. Menyingkap Tetangga Misterius Bangsa Batak di Masa Lalu

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Siapakah tetangga terdekat orang Batak dalam peta sejarah kuno Nusantara? Jika kita melihat sekeliling, tanah Batak sebenarnya terkepung oleh bangsa-bangsa besar. Di satu sisi, kita mengenal orang Jawa dan orang Melayu sebagai tetangga utama. Jika kita menganggap orang Aceh sebagai bagian dari rumpun Melayu, maka praktis seluruh wilayah Batak dikelilingi oleh pengaruh Melayu yang sangat kuat.

Baca Selengkapnya

Junghuhn 1847: 3. Rahasia Fisik Orang Toba: Mencari Wajah Asli Leluhur Batak

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Menelusuri asal-usul sebuah bangsa tidak cukup hanya dengan melihat kesamaan budaya semata. Kita harus berani menatap langsung fitur wajah dan struktur tubuh mereka. Namun, tugas ini tidaklah mudah. Di wilayah pesisir, percampuran darah dengan suku Melayu, Aceh, Jawa, Bugis, hingga Kalingga telah mengaburkan ciri fisik asli mereka.

Baca Selengkapnya

Laporan 1893: Geofagia di Residen Tapanoeli: Catatan Tradisi Mengonsumsi/Memakan Tanah

Laporan 1893 Penulis tidak di ketahui

Praktik geofagia atau kebiasaan memakan tanah di Kepulauan Hindia Belanda merupakan fenomena unik yang pernah dibahas oleh Profesor Dr. G. A. Wilken. Di wilayah Residen Tapanoeli, tradisi ini tercatat cukup umum dijumpai, mulai dari Baros, Siboga, Batang-Taroe, Angkola, Sipirok, Padang Lawas, Mandailing Besar dan Kecil, Batang-Natal, Ulu dan Pakanten, Natal, Toba, hingga Silindoeng. Sementara di Nias, praktik ini hanya ditemukan di pedalaman bagian selatan, itu pun terbatas pada masa kelaparan.

Baca Selengkapnya

Van Vuuren 1910: 2. Tarik Ulur Penaklukan Sumatra hingga Aceh

Laporan L. Van Vuuren – Eerste Maatregelen In Pas Geannexeerd Gebied – 1910.

Setelah perdebatan sengit pada tahun 1840-an, kebijakan kolonial Belanda di Nusantara memasuki fase “kebingungan massal”. Di satu sisi, para jenderal di lapangan sudah gatal ingin menguasai seluruh wilayah, namun di sisi lain, para petinggi di Den Haag ketakutan membayangkan biaya perang dan teguran dari Inggris.

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.