Junghuhn 1847: 5. Jejak Suku Abung dan Rahasia Persaudaraan Batak-Nias

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Sejarah Sumatra menyimpan kisah-kisah yang terkadang terlupakan, salah satunya tentang Suku Abung. Dahulu, suku ini mendiami sepuluh desa di pegunungan Samangka, Lampung. Mereka memiliki tradisi yang serupa dengan suku Dayak di Kalimantan: seorang pemuda harus membawa pulang kepala musuh sebagai syarat untuk meminang pengantin.

Praktik ekstrem ini tentu membuat mereka tidak populer di mata penduduk Muslim di sekitarnya. Akibatnya, sebuah serangan besar direncanakan untuk memusnahkan mereka. Desa-desa suku Abung dibakar habis, memaksa mereka melarikan diri ke dataran sepanjang Sungai Palembang. Peristiwa ini terjadi saat Lampung masih berada di bawah kekuasaan Sultan Banten. Setelah pelarian itu, nama suku Abung seolah lenyap ditelan bumi. Muncul dugaan menarik: mungkinkah Suku Kubu yang kita kenal sekarang sebenarnya adalah keturunan dari pengungsi suku Abung ini?

Memetakan Bangsa-Bangsa Besar di Sumatra

Jika kita menyederhanakan peta kependudukan Sumatra di masa lalu, kita sebenarnya hanya berhadapan dengan beberapa kelompok besar:

  • Bangsa Batak
  • Bangsa Melayu (termasuk Aceh dan penduduk Korinchi)
  • Bangsa Lampung
  • Suku Kubu
  • Serta keturunan Jawa yang menetap di beberapa wilayah.

Nias: Saudara Dekat yang Terpisah Samudra

Namun, pencarian tetangga terdekat bangsa Batak membawa kita ke arah barat, menuju Pulau Nias dan Kepulauan Batu. Di Kepulauan Batu saja, tercatat ada ribuan orang Nias yang mendiami wilayah tersebut.

Hal yang paling mengejutkan adalah tingkat kemiripan antara orang Nias dan orang Batak. Para peneliti menemukan kesamaan yang begitu mendalam pada aspek-aspek paling penting dalam kehidupan mereka. Kedekatan ini memicu sebuah klaim berani: Bangsa Nias kemungkinan besar berasal dari keturunan orang Batak yang melakukan kolonisasi ke pulau tersebut.

Meskipun wilayah pedalaman Nias saat itu masih sangat tertutup bagi dunia luar, bukti-bukti awal menunjukkan bahwa kedua bangsa ini memiliki akar yang sama. Hubungan darah dan budaya antara pegunungan Toba dan pesisir Nias menjadi salah satu bab paling menarik dalam sejarah migrasi nenek moyang kita di Nusantara.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.