C. De Haan 1870: 5. Penyambutan, Tata Ruang Desa, dan Arsitektur Rumah Batak

Bagian 5: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Kejutan di Tongging dan Tradisi Menari Rombongan ekspedisi tiba di Tongging lebih cepat dari jadwal, yang sempat menimbulkan kebingungan soal akomodasi karena ketidakhadiran pangeran. Namun, ketika sang Raja akhirnya tiba, suasana canggung segera berubah menjadi perayaan riuh yang penuh kegembiraan. Berbeda dengan formalitas Melayu, sambutan orang Batak sangat tulus dan ekspresif—sebagian didorong oleh ikatan historis pernikahan mantan pangeran Deli dengan wanita Tongging.

Bagi masyarakat Batak, kegembiraan ini diekspresikan lewat tarian yang menjadi gairah dan ekstasi jiwa. Tarian mereka sangat terikat pada melodi musik; dimulai dengan kepala menunduk, pandangan ke tanah, dan lengan terentang. Seiring nada, tangan berputar dan tubuh bergerak naik-turun dengan posisi kaki yang rapat dan hanya bergeser perlahan. Ada pula tarian komikal yang lincah dengan gerakan mimikri, serta tarian teatrikal seperti di Nagasaribu yang mengisahkan perjuangan cinta, kekecewaan, hingga kesetiaan yang berbalas.

2. Tata Letak Kampoeng dan Jejak Leluhur Setiap kampung (desa) umumnya dipagari oleh bambu hidup. Di dalamnya, rumah-rumah tersebar di antara pohon buah, kebun nila, tembakau, hingga ladang padi dan jagung (seperti di Suka). Rumput di jalanan desa biasanya bersih dengan sendirinya akibat pijakan hewan ternak yang berkeliaran. Desa-desa ini dilengkapi rak kayu tinggi untuk menjemur jagung, gudang penumbuk padi (lesung), serta Balei. Bangunan Balei ini berfungsi ganda sebagai ruang sidang dan penginapan tamu asing. Uniknya, di antara langit-langit dan atap balei (atau di bangunan khusus seperti di Suka), penduduk menyimpan kerangka mendiang panghulu (kepala desa) mereka.

Beberapa desa memiliki tata letak yang menawan dan strategis. Nagasaribu, Rakutbesi, dan Seribujandi menawarkan jalanan lebar dengan pemandangan pegunungan yang indah. Barus Jahei memiliki pertahanan alam yang kuat karena diapit jurang sungai dan bukit berbenteng. Sementara itu, Tongging adalah sebuah benteng pertahanan berlapis. Desa ini dikelilingi dinding batu ganda, pagar bambu tebal, serta lorong batu berpintu kayu solid untuk menahan serangan dari luar maupun dalam. Meski posisinya rentan dilempari batu dari atas bukit, pertahanan Tonggieng diperkuat oleh keberadaan Kubu (pos benteng) di puncak bukit tersebut.

3. Arsitektur Komunal Rumah Adat Rumah-rumah orang Batak dibangun tinggi dari tanah, ditopang balok batu atau tiang penyangga, dengan area kolong yang difungsikan sebagai kandang ternak. Dindingnya dibangun miring ke luar, menopang atap yang menghitam pekat akibat asap perapian.

Di bagian tengah lantai rumah yang membentang panjang, terdapat balok cekung selebar beberapa inci yang berfungsi sebagai lorong melintas sekaligus saluran untuk membuang air bekas dan kotoran. Ujung-ujung rumah besar dilengkapi pintu ganda dengan ambang yang sangat tinggi (sehingga menyulitkan jika ingin menyapu debu). Rumah ini adalah hunian komunal; ruang di dalamnya dibagi rata untuk dihuni oleh empat hingga dua belas keluarga lebih. Setiap keluarga memiliki area privatnya sendiri yang terdiri dari tempat tidur, perapian, dan sebuah jendela sempit.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.