C de Haan 1870: 9. Geopolitik dan Demografi Konfederasi Desa Batak

Bagian 9: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C De Haan 1870)

Selain mengatur urusan internalnya, sebuah kampung (desa utama) juga memiliki wewenang hukum untuk mengadili perselisihan antar-dusun (desa bawahan) yang ada di bawahnya. Konsep pemerintahan berjenjang ini terlihat jelas pada tata kelola beberapa konfederasi dan kerajaan kecil Batak yang memiliki dinamika politik serta demografi yang unik pada tahun 1870.

1. Konfederasi Sitělukuru (Tiga Bersatu) Berbatasan dengan Tran, Sitělukuru adalah kerajaan Batak paling barat. Meski merdeka, mereka memiliki ikatan erat dengan Děli dan kerap mengandalkan bantuan raja Děli serta kepala suku tetangganya untuk menyelesaikan sengketa. Wilayah ini dikenal tunduk atau “mendengarkan Sunggal”. Pemerintahan dipegang oleh tiga pemimpin bersaudara: Sibayak dari Lingga, Penghulu Surbakti, dan Penghulu Gajah. Populasi dihitung berdasarkan “tangga” (satu rumah dihuni sekitar 8 keluarga), dengan total populasi mencapai 2.632 tangga:

Baca Selengkapnya

C. De Haan 1870: 5. Penyambutan, Tata Ruang Desa, dan Arsitektur Rumah Batak

Bagian 5: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Kejutan di Tongging dan Tradisi Menari Rombongan ekspedisi tiba di Tongging lebih cepat dari jadwal, yang sempat menimbulkan kebingungan soal akomodasi karena ketidakhadiran pangeran. Namun, ketika sang Raja akhirnya tiba, suasana canggung segera berubah menjadi perayaan riuh yang penuh kegembiraan. Berbeda dengan formalitas Melayu, sambutan orang Batak sangat tulus dan ekspresif—sebagian didorong oleh ikatan historis pernikahan mantan pangeran Deli dengan wanita Tongging.

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.