C. De Haan 1870: 13. Sistem Pertanian, Kerajinan, dan Rute Perdagangan Masyarakat Batak

Bagian 13: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Teknik Pertanian Padi dan Palawija Bagi masyarakat Batak, bertani adalah mata pencaharian utama sekaligus landasan kekayaan. Proses menanam padi di ladang kering dimulai dengan meratakan tanah menggunakan rokan (garu bergigi dua) untuk membuat alur. Selanjutnya, sebuah tongkat pelubang bernama përlěběng digunakan untuk membuat lubang tanah, yang kemudian diisi 8-10 butir benih padi menggunakan tangan dan ditutup dengan daun pakis.

Selama masa pertumbuhan, padi disiangi dua kali: pertama menggunakan bajak, lalu dengan cangkul (tjangkoel), dan terakhir dengan tangan. Masa tanam padi ladang biasanya jatuh pada awal Desember, dengan panen di bulan Juni atau Juli. Sementara untuk padi sawah (lahan basah), masa tanam dilakukan sebulan lebih awal dan dipanen pada bulan April atau Mei.

Padi yang menguning dipanen menggunakan sabiet, yakni pisau yang disisipkan ke dalam bambu dengan mata pisau menghadap ke dalam untuk memotong batang padi. Bulir padi kemudian diirik (diinjak-injak dengan kaki) di atas tikar, lalu disimpan di dalam lumbung atau sapaw di dekat rumah. Untuk mengonsumsinya, padi ditumbuk di lesung (lesoeng).

Secara umum, kualitas beras yang dihasilkan sangat kasar dan hasil panennya tergolong rendah. Meskipun ladang telah dipupuk menggunakan tanah dari kolong rumah (tempat ternak dikandangkan pada malam hari), hasil panen ladang rata-rata hanya 15 kali lipat dari benih. Di daerah yang lebih subur seperti Siberaya, hasilnya bisa mencapai 30 kali lipat. Sementara itu, hasil panen sawah berkisar antara 15 kali lipat di lahan tandus, 90 kali lipat di Siberaya, hingga mencapai 100-150 kali lipat di wilayah subur seperti Soeka dan Boekit.

Jika panen padi gagal, masyarakat akan beralih mengonsumsi sagu yang diekstrak dari pohon anaw (aren). Pohon aren ini tumbuh terpencar di sekitar desa dan tidak ditanam secara khusus; pohon ini juga dimanfaatkan untuk menghasilkan tuak (anggur palem) yang sangat digemari. Selain itu, jagung (Jagoeng) sering ditanam di sela-sela barisan padi ladang, memberikan warna yang semarak pada ladang, atau ditanam di petak lahan tersendiri. Masyarakat juga membudidayakan tanaman nila (indigo) di dalam area kampoeng untuk pewarna kain. Ada dua jenis nila yang ditanam: parak (berdaun kecil yang tumbuh berpasangan) dan tilawan (berdaun lebih besar).

2. Peternakan dan Perikanan yang Terbatas Peternakan menjadi penopang ekonomi penting lainnya. Sebaliknya, perikanan tidak terlalu berkembang karena sungai dan Danau Toba tidak kaya akan ikan. Alat tangkap yang digunakan sangat sederhana, seperti kail, serok kecil, jaring angkat (doeroeng), jaring yang lebih besar (soejoek), totebel, salangat, jaring rentang di sungai (doelak), dan bubu (boeboe) dari bambu.

3. Keterampilan Kerajinan dan Pandai Besi Meskipun bertani adalah pekerjaan utama, masyarakat Batak memiliki keterampilan kriya yang mumpuni. Para tukang kayu mampu membangun rumah-rumah adat yang kokoh hanya dengan alat seadanya: kapak, beliung, pahat, bor (untuk pasak kayu, karena mereka tidak menggunakan paku besi), dan pisau raut (raut). Mereka tidak mengenal gergaji maupun gunting.

Pengrajin emas dan perak (pandai) mengambil bahan baku emas dari Bahoeroe (di atas wilayah Langkat) dan dari perdagangan Děli. Untuk perak, mereka melebur koin dolar. Pandai besi mendatangkan bahan baku dari Děli untuk membuat senjata perang, senjata hias, alat pertanian, perkakas tukang, hingga tali kekang kuda. Mereka juga mahir mengukir gagang senjata dari kayu dan gading. Di NagaSaribu, ekspedisi mencatat keberadaan sebuah pisau (pisaw) milik raja yang bersarung perak sederhana namun memiliki gagang gading yang lebar dan diukir sangat indah.

Terdapat pula pengrajin tembikar di BoeloeJahei, serta ahli potong gigi (meratakan gigi) yang menggunakan pahat, kikir, dan pisau raut.

4. Tradisi Menenun dan Pewarnaan Alam Pakaian diproduksi sendiri oleh masyarakat Batak. Kapas mentah didatangkan dari wilayah doesoen yang tunduk pada kerajaan Melayu. Kapas tersebut dipintal menggunakan roda kecil atau langsung dengan tangan; sebuah pemandangan unik tercatat ketika Raja Tenggieng terlihat berjalan-jalan santai sambil memintal kapas dengan tangan.

Menenun adalah tugas eksklusif perempuan dan menjadi bagian dari rutinitas harian di setiap rumah. Menenun selembar kain (kain) membutuhkan waktu sekitar sepuluh hari dan bernilai sekitar satu dolar. Proses pewarnaan menggunakan daun nila (indigo). Daun hijau direndam bersama kapur sirih dan tumbukan buah loenang selama dua hari dalam sebuah pot air. Di pot lain, air abu disiapkan. Cairan dari kedua pot ini kemudian dicampur untuk merendam benang. Benang diremas, diperas, lalu dijemur. Untuk mendapatkan gradasi warna gelap hingga corak tertentu, proses pewarnaan ini bisa diulang hingga sepuluh kali. Benang merah yang digunakan untuk menenun motif figuratif didatangkan khusus dari wilayah Goenoenggoenoeng.

5. Komoditas dan Jalur Perdagangan Lintas Wilayah Perdagangan utama dilakukan dengan Kesultanan Děli dan wilayah doesoen. Perdagangan antar-wilayah Batak lebih bersifat transit dan terpusat di pasar-pasar lokal.

  • Impor dari Děli: Garam, ikan asin, kain linen Eropa, pernak-pernik, tembikar, perkakas besi, periuk, senapan, mesiu, timah, batu api, dan kapur barus (kamper) yang digunakan sebagai obat, bumbu daging, dan pengawet jenazah.
  • Ekspor ke Děli: Kuda, kerbau, sedikit sapi, kambing, babi, ayam, serta sedikit kain dan benang lokal.
  • Impor dari Doesoen: Kapas, sirih, gambir, pinang, tembakau, kelapa, buah-buahan, dan gula aren (meski pohon aren melimpah, orang Batak jarang membuat gula sendiri).
  • Ekspor ke Doesoen: Kain, benang merah, kapur sirih, kuda muda, kerbau, sapi, ayam, dan kambing.
  • Perdagangan dari wilayah Tebatěba (Toba): Daerah ini menjadi pemasok utama anak kuda (yang nantinya dibesarkan dan dijual mahal ke Děli), emas dari pulau Toba, ikan segar dari danau, kain khas Toba (berkualitas lebih kasar dan berongga), besi, gong, senapan, dan kapur barus dari Barus, sirih, kapur, serta balok logam kecil berbahan besi, tembaga, dan timah.

6. Sistem Pasar, Pajak, dan Nilai Tukar Garam Perdagangan berlangsung bebas tanpa tarif pajak yang mengikat, kecuali hak istimewa para Pengulu untuk membeli barang di bawah harga pasar, serta retribusi pasar bagi penjual. Retribusi ini biasanya ditaksir berdasarkan kelayakan, namun untuk hewan besar seperti kuda dan kerbau tarifnya ditetapkan sebesar $1, sedangkan untuk kambing dikenakan retribusi 50 keping kue gambir. Sapi tidak pernah dijual di pasar karena mereka mudah panik dan sulit dikendalikan di tengah keramaian.

Mata uang resmi yang digunakan adalah koin dolar, namun untuk transaksi kecil (uang receh), mereka menggunakan garam. Sistem takaran garam Batak memiliki nilai konversi tetap: 2 lajap = 1 tjoepak; 2 tjoepak = 1 gantang; 4 gantang = 1 toembak; dan 9 toembak = 1 dolar. Namun, konversi dolar terhadap toembak bisa naik-turun mengikuti fluktuasi harga garam di pasaran.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.