Waktu terus bergulir hingga akhirnya Putri Shaher-ul Beriah melahirkan seorang putra. Raja Kida Hindi memberi bayi itu nama Araston Shah. Anak ini tumbuh menjadi pemuda yang sangat mirip dengan ayahnya, sang penguasa dunia, Raja Secander Zulkarneini. Kelak, Raja Araston Shah menikahi putri dari raja Turkestan dan dikaruniai putra bernama Raja Aftas.
Sumber: Dr. John Leyden: Malay Annals – 1821 – Sejarah Melayu
Setelah empat puluh lima tahun berlalu, Raja Secander memutuskan untuk kembali ke Makedonia. Tak lama kemudian, Raja Kida Hindi wafat dan mewariskan takhta Hindostan kepada Raja Araston Shah. Ia memimpin kerajaan dengan gagah berani selama 350 tahun sebelum akhirnya berpulang. Estafet kepemimpinan kemudian berlanjut kepada putranya, Raja Aftas, yang memerintah selama 120 tahun.
Garis keturunan agung ini terus bersambung melalui deretan raja-raja besar: mulai dari Ascayinat, Casidas, Amatubusu, hingga Raja Zamzeyus. Silsilah ini kemudian melahirkan tokoh-tokoh kuat seperti Kharus Cainat, Raja Arhat Sacayinat, dan Raja Cudarzuguhan. Kekuasaan pun berpindah kepada Raja Nicabus yang memerintah selama empat puluh tahun, lalu kepada Raja Ardasir Migan yang memperkuat posisinya dengan menikahi putri dari Nashirwan Adel, sang penguasa Timur dan Barat.
Puncak dari silsilah panjang ini membawa kita pada sosok Raja Narsi Barderas. Ia menikahi putri dari Raja Sulan, penguasa Amdan Nagara yang sangat berkuasa di tanah Hind dan Sind. Raja Sulan diakui sebagai pangeran terkuat di antara seluruh “raja-raja di bawah angin”. Dari pernikahan mulia ini, lahir tiga orang putra: Raja Heiran yang memimpin Hindostan, Raja Panden yang memimpin Turkestan, dan Raja Suran yang diangkat oleh kakeknya untuk mewarisi takhta Amdan Nagara.
Ekspedisi Raksasa Menuju Cina
Setelah Raja Sulan wafat, Raja Suran naik takhta dengan otoritas yang jauh lebih besar dari para pendahulunya. Hampir seluruh raja di dunia mengakui kekuasaannya, kecuali satu negeri yang masih berdiri tegak: Cina. Merasa tertantang, Raja Suran merencanakan penaklukan besar-besaran terhadap negeri tersebut.
Ia mengumpulkan pasukan raksasa berjumlah satu juta dua ratus ribu prajurit dari segala penjuru. Gerakan pasukan ini begitu dahsyat hingga mengubah wajah bumi yang mereka lalui. Hutan-hutan lebat seketika berubah menjadi dataran terbuka, bumi bergetar hebat di bawah derap langkah mereka, dan bukit-bukit seolah bergeser. Tanah tinggi menjadi rata, bebatuan hancur berhamburan, bahkan sungai-sungai besar mengering menjadi lumpur karena airnya habis dikonsumsi atau teraduk oleh massa manusia yang luar biasa besar.
Selama dua bulan penuh mereka berbaris tanpa henti. Di tengah kegelapan malam, pantulan cahaya dari baju zirah mereka bersinar terang seperti bulan purnama. Suara guntur pun kalah riuh oleh pekikan para prajurit, ringkikan kuda, dan derap gajah perang. Setiap negeri yang berada di jalur mereka takluk tanpa perlawanan berarti, hingga akhirnya mereka tiba di depan gerbang Gangga Nagara.
Gangga Nagara adalah kota benteng yang tangguh, berdiri kokoh di atas bukit curam di wilayah Perak, tepat di tepi sungai Dinding. Rajanya yang bernama Ganggi Shah Juana segera bersiaga begitu mendengar kedatangan badai pasukan Raja Suran. Ia memerintahkan seluruh gerbang benteng ditutup rapat, menyiagakan penjaga di setiap sudut dinding, dan mengisi parit-parit pertahanan dengan air. Pasukan Raja Suran segera mengepung dan melancarkan serangan bertubi-tubi dengan sangat gencar, namun untuk pertama kalinya, mereka menghadapi perlawanan yang sangat kuat dan berhasil dipukul mundur.