Junghuhn 1847: 10. Menguak Jejak Peradaban Kuno: Dari Candi di Sumatra Hingga Lahirnya Singapura dan Malaka

Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847

Jauh sebelum para perantau Minangkabau membangun peradaban baru di Singapura pada tahun 1160, dan jauh sebelum Malaka berdiri pada tahun 1252, Nusantara telah menyimpan jejak koloni Hindu-Buddha yang jauh lebih tua. Para peneliti menemukan petunjuk kuat bahwa para pedagang dan pelaut kuno telah membangun permukiman di Pulau Singapura, pantai barat Semenanjung Malaya, hingga menyusuri pedalaman pesisir timur Sumatra di antara muara Sungai Siak dan Asahan.

Bukti Bisu Reruntuhan Suci

Keberadaan koloni-koloni kuno ini bukanlah sekadar isapan jempol. Bumi Nusantara menyimpan bukti-bukti bisu yang perlahan terungkap:

  • Singapura: Saat membuka lahan untuk pembangunan kota modern, para pekerja menggali sisa-sisa batu bata dari sebuah kuil Buddha kuno beserta prasasti beraksara Buddha.
  • Malaka: Pada tahun 1511, pimpinan Portugis, Afonso de Albuquerque, membongkar sebuah bukit untuk mencari batu guna membangun benteng. Ia justru menemukan tumpukan batu nisan berukir. Karena tradisi Melayu kuno jarang menggunakan makam dari batu pahat, para sejarawan meyakini batu-batu itu berasal dari makam Hindu kuno, peninggalan peradaban yang hidup jauh sebelum abad ke-12.

Kemegahan Candi di Tepi Sungai Barumun

Bergeser ke pesisir timur Sumatra, tepatnya di tepi Sungai Barumun dekat daerah Portibi (Pertiebie), kita bisa menemukan fondasi dan sisa-sisa dinding candi bata merah yang masih terawat baik, sangat mirip dengan reruntuhan di Singapura.

Daerah Portibi ini berbatasan langsung dengan tanah luhur Batak. Menariknya, ketika para penjelajah memasuki jantung Tanah Batak itu sendiri—wilayah luas yang menjadi rumah bagi kebudayaan Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, hingga Batak Dairi—mereka sama sekali tidak menemukan jejak monumen batu kuno semacam ini. Berbeda dengan masyarakat pedalaman Minangkabau yang sempat memeluk ajaran Buddha sebelum masuknya Islam pada abad ke-15, masyarakat Batak pedalaman tampaknya menjaga kemurnian tradisi leluhur mereka tanpa membangun candi-candi besar.

Eksodus Besar Minangkabau: Kisah Dua Kota

Sejarah Semenanjung Malaya mulai berubah drastis memasuki abad ke-12. Catatan William Marsden menceritakan bahwa dataran tinggi Padang (pusat kerajaan Minangkabau kuno) menjadi sangat padat penduduk.

Pada tahun 1160, di bawah pimpinan Sri Turi Buwana, sekelompok besar perantau Minangkabau bermigrasi ke arah timur menyusuri Sungai Siak dan Indragiri. Mereka menyeberang dan membangun sebuah kota baru di Tana Ujung. Mereka menamai kota itu “Singha Pura” (Singapura), yang berarti Kota Singa.

Namun, kejayaan dan kekayaan Singapura yang tumbuh pesat memancing kecemburuan Kerajaan Majapahit. Pada tahun 1252, armada perang Jawa menggempur dan mengusir orang-orang Melayu dari pulau tersebut.

Raja kelima mereka, Sri Iskandar Shah, memimpin rakyatnya melarikan diri ke pantai barat Semenanjung Malaya. Di sana, pada tahun 1253, mereka mendirikan sebuah kota pelabuhan baru yang kita kenal sebagai Malaka. Di kota baru inilah, pada tahun 1276—jauh lebih awal dari saudara-saudara mereka di Minangkabau—masyarakat Malaka memeluk agama Islam. Pemimpin mereka menanggalkan gelar Raya dan mulai menggunakan gelar Sultan, membuka babak baru dalam sejarah kejayaan Islam di Asia Tenggara.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.