Van Vuuren 1910: 13.Menelusuri Tiga Jantung Pakpak Silima Suak: Jejak Alam Pegagan, Kepas, dan Simsim

Laporan L. Van Vuuren – Eerste Maatregelen In Pas Geannexeerd Gebied – 1910.

Wilayah Tanah Pakpak secara tradisional terbagi ke dalam pembagian wilayah adat yang dikenal luas, meski pada rute penjelajahan ini, kita akan membedah tiga bentang alam utamanya terlebih dahulu: Pegagan, Kepas, dan Simsim. Masing-masing wilayah ini tidak dipisahkan oleh tembok buatan manusia, melainkan oleh aliran sungai yang buas, jurang yang menganga, dan punggung gunung yang menjulang tinggi.

Mari kita telusuri bagaimana alam membentuk kehidupan masyarakat di ketiga wilayah ini.

1. Pegagan: Tanah di Tepi Kanan Lae Renun

Perjalanan kita dimulai dari arah hulu sungai. Di sepanjang tepi kanan sungai, kita akan terlebih dahulu melewati pemukiman murni masyarakat Toba, yakni Perbuluan dan Si Bira. Setelah melewati batas wilayah tersebut, barulah kita resmi menginjakkan kaki di tanah orang-orang Pakpak Pegagan. Sementara itu, tepat di seberang mereka (di tepi kiri sungai), berdiamlah kelompok Pakpak Kepas.

Menyusuri wilayah Pegagan ke arah hilir (khususnya di aliran bawah Sungai Lao Renun), kita akan menemukan pemukiman yang sering disebut sebagai “Kampung-Kampung Karo”. Namun, jangan terkecoh oleh namanya. Pemukiman-pemukiman tersebut sebenarnya didiami oleh orang-orang Pakpak secara turun-temurun.

Medan di wilayah Pegagan sangat menantang. Daratannya dibelah oleh banyak aliran sungai pegunungan liar yang menciptakan jurang-jurang dalam dan celah berbatu yang curam, sama seperti karakter Sungai Lao Renun. Di antara banyaknya sungai tersebut, dua aliran yang paling menonjol di tanah Pegagan adalah Lai Kombi dan Lai Luhung.

2. Kepas: Satu-satunya Dataran Datar di Celah Pegunungan

Beralih ke wilayah Pakpak Kepas, wilayah ini banyak menerima aliran air dari Dataran Tinggi Karo, seperti Sungai Lao Reun, Lai Belulus, dan Lai Gunung.

Kawasan utama Pakpak Kepas terletak di tepi kiri Sungai Lao Reun dan membentang menutupi daerah aliran sungai Lai Simbelen (Sungai Besar). Lai Simbelen ini bermula dari pantai barat danau, lalu mengukir jalurnya membelah bumi ke arah barat laut, melewati ngarai-ngarai berbatu yang curam hingga akhirnya bersatu dengan Lae Alas di titik Muara Simbelen.

Di antara jepitan Sungai Simbelen dan Lae Reun, dataran tanahnya semakin meninggi ke arah barat laut. Di sinilah tersembunyi sebuah keunikan geografis: Dataran Tinggi Kepas. Dataran tinggi ini sangat istimewa karena praktis menjadi satu-satunya lahan datar yang bisa ditemukan di seluruh penjuru wilayah Pakpak yang umumnya sangat terjal.

Wilayah Kepas dijaga oleh dua puncak gunung yang menjadi penanda alam: Deleng Tanduk yang berdiri menyendiri di tepi timur, dan Deleng Pandiangan yang menjadi puncak pembatas di ufuk barat. Sebagai penanda perbatasan antar-wilayah, kampung terluar Kepas di pinggir Sungai Simbelen adalah Gemuntur, sedangkan kampung terluar Pegagan di pinggir Lao Renun adalah Kuta Raja. Dari Kuta Raja ke arah hilir, barulah berderet kampung-kampung Karo hingga mencapai Lao Njuhar, yang menjadi titik awal jalan setapak menuju wilayah Alas dan Singkel.

3. Simsim: Negeri Jurang dan Jembatan Langit

Jika Kepas memiliki daratan datar, maka wilayah Pakpak Simsim (Siem Siem) adalah kebalikannya. Bentang alam pegunungan di Simsim sangat ekstrem dan terjal, nyaris tidak memiliki sejengkal pun tanah yang benar-benar datar.

Tanah Simsim dibelah dari timur ke barat oleh dua sungai utama: Sungai Kumbi dan Sungai Sulampi. Kedua sungai ini bermata air di dekat pesisir barat danau dan mengalir nyaris berdampingan—terkadang jarak antar sungainya hanya memakan beberapa jam berjalan kaki. Namun, jangan bayangkan di antara kedua sungai ini terdapat lembah yang landai. Keduanya dipisahkan oleh jurang-jurang yang sangat dalam dan sebuah punggung bukit raksasa yang puncak tertingginya bernama Si Bahu Langit (Bahu Langit). Di punggung bukit inilah membentang sebuah jalan setapak yang menghubungkan daerah Gapuk di Sulampi menuju kompleks Pegegean di hulu Kumbi.

Bumi Simsim benar-benar dikoyak oleh aliran air. Sungai-sungai pegunungan mengukir ngarai sedalam puluhan meter ke dalam batuan bumi. Di tengah kondisi alam yang kejam ini, masyarakat lokal menunjukkan kemampuan rekayasa yang luar biasa.

Di atas aliran Lai Salsalan (salah satu anak sungai Sulampi), tepatnya di dekat wilayah Kutjapi, penduduk lokal membangun sebuah mahakarya: jembatan gantung dari rotan yang dirajut dengan sangat artistik. Jembatan sepanjang 40 hingga 50 meter ini dibentangkan melayang melintasi jurang pada ketinggian yang memusingkan, yakni 80 hingga 100 meter di atas permukaan air yang mengamuk di bawahnya.

Akhir perjalanan dari sungai-sungai ini bermuara ke arah pantai. Sungai Kumbi terus mengalir ke barat menuju Simpang Kiri di dekat daerah Rundeng. Sementara itu, Sungai Sulampi (yang di bagian hulunya disebut Lai Ordi) akan membelok ke barat daya saat mencapai batas barat Simsim di Gapuk. Di sana, ia bergabung dengan Sungai Tjenendang (yang mengalir dari wilayah Pakpak Kelasan) untuk membentuk aliran besar yang dikenal sebagai Simpang Kanan.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.