Upaya para peneliti Hindia Belanda untuk memetakan pedalaman Sumatra sering kali menemui jalan buntu. Peneliti J.G. Schot rupanya menjadi orang pertama yang berani menembus dan mengulas kawasan perbatasan Sungai Danai secara terperinci.
Saat mencoba menyusuri muara sungai ini, Schot mendapati kapalnya tidak bisa melintas ketika air surut karena terhalang oleh tanggul lumpur yang tebal. Namun, pantang menyerah, ia berhasil mendayung sampannya jauh ke pedalaman setelah melewati rintangan alam tersebut. Sepanjang tepian sungai, ia melihat deretan rumah penduduk yang berdiri berdampingan dengan rimbunnya perkebunan sagu.
J. A. Van Rijn Van Alkemade: Perjalanan dari Siak ke Pulaulawan – 1887
Sungai Danai ini ternyata sempit dan berkelok-kelok, tetapi memiliki kedalaman yang cukup aman untuk berlayar. Aliran airnya mengalir tenang membelah daratan ke arah selatan, tenggara, dan barat daya. Perjalanan Schot akhirnya terhenti setelah melewati permukiman terakhir, karena batang-batang pohon tumbang memblokir total jalur hulu sungai.
Sayangnya, meskipun Schot dan para peneliti lain telah melakukan observasi lapangan dengan sangat teliti, mereka tetap gagal menemukan bukti kuat mengenai batas timur dan selatan daratan Pulau Lawan. Mengingat minimnya data alam, para ahli akhirnya memilih untuk tidak memperdebatkan garis perbatasan tersembunyi tersebut.
Membagi Gugusan Kepulauan: Dari Pulau Tiga hingga Topang
Lalu, bagaimana dengan peta kepulauannya? Jika kita berlayar ke arah selatan dari muara Sungai Siak melintasi Selat Panjang, kita akan langsung disambut oleh tiga pulau kecil tepat di seberang ujung selatan kawasan Rantau. Masyarakat secara harfiah menamainya Pulau Tiga. Gugusan kecil ini merupakan wilayah kepulauan pertama yang secara sah jatuh ke tangan Pulau Lawan.
Bergeser ke sisi lain Rantau, membentang daratan yang jauh lebih besar bernama Pulau Topang. Sebuah selat sempit memisahkan pulau ini dari pulau lain di utaranya yang bernama Menggung. Karena posisinya yang saling menempel, pelaut sering kali kesulitan membedakan kedua pulau ini. Akibatnya, Kerajaan Siak dan Kerajaan Pulau Lawan sempat bersitegang memperebutkan hak kepemilikan atas Topang.
Untuk mengakhiri perselisihan, masyarakat pesisir mulai membedakan keduanya dengan istilah lokal. Mereka menyebut Menggung sebagai Topang Dalem (Topang Bagian Dalam), sedangkan pulau Topang aslinya mereka juluki Topang Luar. Dari hasil kesepakatan damai, Siak resmi menguasai Topang Dalem (Menggung), sementara Pulau Lawan mendapatkan kendali penuh atas Topang Luar.
Menelusuri Pulau Terbesar yang Hilang dari Peta
Bergerak lebih jauh ke selatan mendekati teluk sebelum muara Sungai Kampar, kita akan menemukan tiga pulau penting yang letaknya berbaris sejajar:
- Serapung: Pulau ini bersandar paling dekat dengan garis pantai Sumatra. Menariknya, meskipun bukan pulau terbesar, Serapung memegang urat nadi perekonomian paling penting dan memiliki jumlah penduduk yang paling padat.
- Labu: Sebuah pulau tetangga yang ukurannya jauh lebih mungil dari Serapung.
- Penjaleian (Mendol): Terletak di ujung paling timur, pulau ini sebenarnya menyandang status sebagai pulau terbesar di seluruh wilayah Pulau Lawan. Uniknya, pamor pulau ini justru tertutup oleh keramaian Serapung. Peta-peta kuno pelaut selalu menyebutnya Pulau Mendol. Nama ini juga melekat pada selat dangkal penuh terumbu karang di dekatnya, yakni Selat Mendol. Anehnya, para pembuat peta topografi Pantai Timur Sumatra di Batavia justru lupa menggambar atau mencantumkan pulau sebesar ini ke dalam peta resmi mereka.
Selain deretan pulau utama tersebut, wilayah Pulau Lawan juga menaungi daratan-daratan kecil lainnya. Di antara ujung selatan Serapung dan daratan Sumatra, menyempil sebuah pulau memanjang bernama Kaluang (Si-Kaluang). Kontrak perbatasan Belanda juga menyebut nama Pulau Panjang dan Pulau Si-Kaladi. Namun, karena ukurannya mungkin sangat tidak signifikan, pulau-pulau ini bak hilang ditelan bumi dan tidak pernah tercatat di lembar peta mana pun.
Dedikasi Van Rijn dan Prof. Veth Mengungkap Sejarah
Pengetahuan tentang seluk-beluk pesisir timur Sumatra mengalami kemajuan pesat pada dekade tersebut. Tentu saja, panggung sejarah ini tidak lepas dari peran Residen Van Rijn van Alkemade. Setelah sukses menyumbangkan tulisan tentang Palembang, ia mempersembahkan mahakarya lapangan berjudul “Deskripsi Perjalanan dari Siak ke Pulau Lawan”.
Sebagai akademisi, Prof. P.J. Veth menerima tugas kehormatan untuk membedah naskah Van Rijn tersebut. Veth merasa perlu membingkai catatan perjalanan itu dengan pengantar politik yang tajam, merapikan tata bahasanya, dan menyisipkan peta visual agar pembaca tidak tersesat dalam lautan nama tempat. Setelah sempat terhenti selama tiga tahun akibat badai urusan pribadi, Prof. Veth akhirnya berhasil menuntaskan komitmennya dan menyajikan catatan sejarah berharga ini kepada dunia.