Van Alkemade 1887: 7. Menyusuri Batas Alam dan Gugusan Pulau Milik Kerajaan Pulau Lawan

Upaya para peneliti Hindia Belanda untuk memetakan pedalaman Sumatra sering kali menemui jalan buntu. Peneliti J.G. Schot rupanya menjadi orang pertama yang berani menembus dan mengulas kawasan perbatasan Sungai Danai secara terperinci.

Baca Selengkapnya

Van Alkemade 1887: 6. Mengurai Benang Kusut Perbatasan Pulau Lawan: Dari Pulau Penjaleian Hingga Sungai Kampar Kecil

Perdebatan mengenai nama-nama wilayah di sekitar Sungai Kampar juga terekam jelas pada berbagai peta masa itu. Mari kita ambil contoh sebuah pulau yang sempat membingungkan banyak pihak. Pada peta navigasi lama, pembuat peta mencatatnya sebagai Pulau Mendol atau Penjaleh. Sementara itu, dalam peta buatan Havenga dan tim Stemfoort, namanya tertulis sebagai Mendol atau Penjaleian. Dari semua versi ini, bentuk “Penjaleian” tampaknya menjadi ejaan yang paling akurat.

Baca Selengkapnya

Van Alkemade 1887: 5. Tebak-Tebakan Tapal Batas: Pusingnya Belanda Memetakan Pulau Lawan

Menentukan batas wilayah secara pasti di negeri-negeri Melayu pada masa lalu rupanya menjadi pekerjaan yang memusingkan bagi pemerintah kolonial Belanda. Mereka benar-benar tidak punya rujukan pasti untuk memetakan tapal batas selain mengandalkan klaim lisan dari Tengku Besar dan para pejabatnya. Masalahnya, para penguasa lokal ini sendiri sebenarnya tidak tahu persis di mana kekuasaan mereka bermula dan berakhir. Alhasil, mereka sering kali hanya mengira-ngira dan mengarang garis batas tersebut.

Baca Selengkapnya

Van Alkemade 1887: 4. Taktik Monopoli dan Jatuhnya Benteng Pesisir Terakhir Sumatra

Menjelang akhir masa jabatannya, Residen Belanda di Pantai Timur Sumatra akhirnya meneruskan permohonan Tengku Besar ke pemerintah pusat. Langkah ini ia ambil meskipun kedua belah pihak belum menyepakati nilai ganti rugi terkait hak pungutan pajak dan sewa. Mengesampingkan urusan uang yang belum tuntas, Gubernur Jenderal Hindia Belanda tetap meratifikasi draf perjanjian tahun 1879 itu pada tanggal 18 Oktober 1881.

Baca Selengkapnya

Van Alkemade 1887: 3. Jejak Minangkabau di Kampar Barat dan Jatuhnya Pulau Lawan ke Tangan Belanda

Aliran Sungai Kampar Kanan tidak hanya menghidupi wilayah pesisir, tetapi juga mengairi daerah pedalaman yang sejak lama dianggap sebagai bagian dari Dataran Tinggi Padang. Wilayah pedalaman ini meliputi Kampar Hulu (Kampar di Oeloe), Kampar Tengah, Kampar Hilir (Kampar di Ilir), serta Pangkalan Kota Baru yang berlokasi di Sungai Mahat (cabang dari Kampar Kanan). Masyarakat secara kolektif sering menyebut kawasan ini sebagai wilayah Kampar Barat.

Baca Selengkapnya

Van Alkemade 1887: 2. Melacak Jejak Kerajaan Kampar: Dari Pulau Lawan Hingga Filosofi Perbatasan “Belut”


Sejarawan Van Rijn van Alkemade bersikeras menulis nama daerah ini sebagai “Poeloe Lawan”. Namun, bagi mereka yang lebih mahir berbahasa Melayu, ejaan yang paling tepat sebenarnya adalah “Pulau Lawan”. Meski begitu, dalam menelaah catatan sejarah, kita sering kali membiarkan perbedaan ejaan ini karena maknanya tetap merujuk pada tempat yang sama.

Baca Selengkapnya

Van Alkemade 1887: 1. Misteri di Balik Nama Pelalawan: Antara “Pulau Musuh” dan “Titik Penghalang”

J. A. Van Rijn Van Alkemade: Perjalanan dari Siak ke Pulaulawan – 1887

Menentukan nama yang tepat untuk sebuah wilayah sering kali membuat para sejarawan pusing kepala, apalagi jika mereka tidak benar-benar memahami akar sejarah wilayah tersebut. Prof. P.J. Veth pernah menyoroti kebingungan ini saat mengkaji sebuah daerah di tepian Sungai Kampar. Masalahnya berpusat pada satu pertanyaan sederhana: apakah nama daerah itu Pulau Lawan atau Pelalawan?

Baca Selengkapnya

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.