Kapal utusan menteri Tiongkok akhirnya tiba di Tamsak. Kabar kedatangan kapal asing ini segera sampai ke telinga Raja Suran. Penasaran dengan jarak menuju negeri Tiongkok, sang raja mengirim utusan untuk bertanya kepada para pelaut tersebut.
Sumber: Dr. John Leyden: Malay Annals – 1821 – Sejarah Melayu
Saat ditanya, para pelaut tua itu menjalankan siasat cerdik mereka. Dengan wajah lelah, mereka menjawab, “Saat kami berangkat dari Tiongkok, kami semua masih muda, baru berusia sekitar dua belas tahun. Kami menanam benih pohon-pohon ini di atas kapal, tapi lihatlah sekarang, kami sudah tua renta dan ompong. Benih yang kami tanam pun telah tumbuh menjadi pohon besar dan berbuah berkali-kali sebelum kami sampai di sini.”
Untuk meyakinkan utusan Raja Suran, mereka mengeluarkan beberapa jarum yang sudah berkarat parah. “Dahulu, saat kami berangkat, batang besi ini setebal lengan manusia. Namun karena perjalanan yang sangat lama, besi ini terkikis karat hingga hanya tersisa sekecil jarum,” tambah mereka.
Mendengar laporan itu, Raja Suran tertegun. Ia berpikir, jika perjalanan ke Tiongkok memakan waktu seumur hidup, maka ia tidak akan pernah sampai ke sana. “Jika cerita itu benar, Tiongkok pasti berada di ujung dunia yang sangat jauh. Sebaiknya kita menghentikan ekspedisi ini dan kembali,” ujar sang raja. Para pahlawannya pun menyetujui keputusan tersebut.
Mengarungi Keajaiban di Dasar Samudra
Meski batal ke Tiongkok, rasa penasaran Raja Suran tidak padam. Kali ini ia ingin mengetahui rahasia di balik luasnya lautan. Ia memerintahkan pengrajin untuk membuat sebuah peti kaca besar yang dilengkapi kunci dari dalam dan diikat dengan rantai emas yang kuat. Raja Suran kemudian mengunci diri di dalam peti itu dan meminta pasukannya menurunkan dirinya ke dasar laut demi melihat keajaiban ciptaan Tuhan.
Peti itu akhirnya mendarat di sebuah negeri bawah laut yang disebut Zeya. Raja Suran keluar dari peti dan terpesona melihat negeri yang sangat luas. Di sana tinggal bangsa Barsam yang jumlahnya tak terhitung. Sebagian dari mereka adalah orang-orang beriman, dan sebagian lainnya adalah kaum kafir.
Warga Barsam yang heran melihat pakaian Raja Suran membawanya menghadap raja mereka, Aktab-al-Arz. Sang raja bawah laut itu bertanya dengan takjub, “Siapa Anda dan dari mana Anda berasal?”
Raja Suran menjawab dengan tegas, “Saya berasal dari dunia atas. Saya adalah Raja Suran, penguasa umat manusia.”
Raja Aktab-al-Arz terkejut mendengar ada dunia lain selain negerinya. Raja Suran menjelaskan betapa agung dan beragamnya dunia atas, yang membuat Raja Aktab-al-Arz semakin kagum hingga ia mendudukkan Raja Suran di atas singgasananya. Di sana, Raja Suran menikahi putri sang raja yang sangat cantik bernama Putri Mahtab-al-Bahri, dan dikaruniai tiga orang putra.
Kembali ke Dunia Atas dan Monumen Abadi
Setelah sekian lama tinggal di bawah laut, Raja Suran mulai merindukan dunianya. Ia merasa garis keturunan ayahnya, Secander Zulkarneini, tidak boleh terputus dan menghilang di dasar samudra. Ia pun memohon kepada ayah mertuanya untuk membantunya kembali ke atas.
Raja Aktab-al-Arz memberikan seekor kuda laut ajaib bernama Sambrani yang bisa terbang di udara dan berenang di air. Dengan diiringi tangis haru istrinya, Raja Suran memacu kuda Sambrani menembus atmosfer bawah laut hingga muncul di permukaan samudra.
Rakyat Raja Suran yang sedang berjaga di pantai segera mengenali tuannya. Sang perdana menteri (Mantri) yang cerdas tahu cara menarik kuda laut itu ke daratan; ia memerintahkan pasukannya membawa seekor kuda betina ke tepi pantai. Tertarik dengan kehadiran kuda betina tersebut, kuda Sambrani segera berlari ke darat. Begitu kaki kuda menyentuh pantai, Raja Suran langsung melompat turun, sementara kuda Sambrani kembali menghilang ke dalam laut.
Sebagai penutup petualangannya, Raja Suran memanggil para ilmuwan dan pengrajin terbaik. Ia memerintahkan mereka untuk mencatat seluruh perjalanan luar biasanya dan membangun sebuah monumen batu yang akan bertahan hingga hari kiamat. Kisah itu diukir di atas batu dalam bahasa Hindustan, dihiasi dengan emas dan perak. Raja Suran pun berpesan bahwa kelak batu ini akan ditemukan oleh salah satu keturunannya yang akan menaklukkan dunia.