Residen Van Rijn terus memperkaya literatur sejarah Hindia Belanda dengan karya-karyanya. Ia menulis laporan perjalanan yang sangat detail dari Siak menuju Paya Kumbuh, serta menyusun risalah mendalam tentang Kerajaan Kuno Gassip di Siak. Kedua karya ini berhasil terbit dalam jurnal Perhimpunan Geografis.
J. A. Van Rijn Van Alkemade: Perjalanan dari Siak ke Pulaulawan – 1887
Tidak berhenti di situ, Van Rijn juga menulis catatan perjalanan menyusuri Sungai Rokan dari Bengkalis menuju Rantau Binuang. Menariknya, ia menerbitkan karya ini di jurnal yang berbeda. Walaupun para pembaca mungkin lebih senang jika seluruh tulisan tentang Sumatra terkumpul dalam satu jurnal, kita tidak bisa menyalahkan Van Rijn. Setiap penulis tentu ingin menyebarkan hasil laporannya secepat mungkin agar informasinya tidak basi, apalagi saat itu penerbitan sering kali tertunda lama.
Membelah Jalur Emas Perdagangan Sumatra
Pada tanggal 3 Maret, Van Rijn memulai ekspedisinya meninggalkan Siak. Ia menumpang salah satu kapal uap yang rutin berlayar mengarungi rute sibuk antara Singapura, Malaka, Bengkalis, Siak, hingga Pakan Baroe (Pekanbaru).
Lalu lintas pelayaran uap di jalur ini menyimpan sejarah bisnis yang manis. Pada tahun 1876, seorang pengusaha bernama Tuan Burlingham pertama kali merintis layanan kapal uap bernama Moear. Kapal ini secara rutin menghubungkan Siak, Pakan Baroe, dan Singapura, serta mendatangkan keuntungan yang luar biasa besar bagi pemiliknya.
Melihat kesuksesan Moear, pengusaha lain ikut tergiur. Saat Van Rijn berlayar, sudah ada tiga kapal uap yang beroperasi memperebutkan penumpang di jalur tersebut. Namun, persaingan bisnis ini begitu ketat sehingga dua di antaranya diperkirakan akan segera gulung tikar.
Gelombang Eksodus di Bawah Bayang-Bayang Kesultanan
Selain membawa barang dagangan, kapal-kapal uap ini juga menjadi saksi bisu gelombang eksodus besar-besaran masyarakat Sumatra. Pada masa lalu, di bawah pemerintahan Kesultanan yang kejam dan sewenang-wenang, ribuan penduduk melarikan diri ke Malaka. Mereka rela menyeberangi lautan demi menghindari siksaan penguasa setempat.
Meskipun zaman telah berubah, arus migrasi ini tidak pernah benar-benar berhenti. Setiap bulannya, kapal-kapal uap mengangkut sekitar 150 hingga 200 orang menuju Malaka dan Singapura. Sebagian besar dari mereka berasal dari daerah V Kota di pedalaman Kampar Hulu dan dari Kuantan di sepanjang Sungai Indragiri. Tujuan mereka satu: mencari penghidupan yang lebih baik sebagai pekerja di perusahaan-perusahaan di kawasan Selat Malaka. Banyak juga perantau dari Pantai Barat Sumatra yang turun gunung melintasi Teratak Buluh dan Pakan Baroe untuk mencari pekerjaan di pesisir Timur.
Urat Nadi Ekonomi: Dari Rotan Semambu hingga Telur Ikan Terubuk
Jalur Siak-Singapura adalah urat nadi ekonomi yang sangat vital. Dari pedalaman tanah Tapung dan Kampar, para pedagang mengekspor hasil bumi bernilai tinggi ke Singapura. Komoditas andalan mereka meliputi tembakau, gambir, lilin, kopi, rotan semambu (rotan berkualitas tinggi yang paling dicari perajin), pinang, getah perca, kelapa, hingga kulit kerbau.
Sebagai gantinya, kapal-kapal dari Singapura membawa masuk barang-barang kebutuhan pokok seperti garam, beras, minyak tanah, dan pakaian. Namun, ada satu komoditas impor yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat dataran tinggi: telur ikan terubuk kering dan ikan asin. Makanan ini menjadi lauk favorit yang menggerakkan roda ekonomi pesisir.
Perputaran uang di jalur ini tidak main-main. Kantor pabean di Siak mencatat pendapatan bea cukai sebesar £20.471 pada tahun 1881, dan £15.623 pada tahun 1882. Angka yang sangat fantastis untuk ukuran masa itu.
Menyusuri Sunyinya Sungai Siak
Setelah berlayar selama tujuh jam, Van Rijn akhirnya merapat di pelabuhan Bengkalis tepat pukul lima sore. Menariknya, pemandangan sepanjang aliran Sungai Siak rupanya sangat monoton.
Hutan lebat memagari sisi kiri dan kanan sungai. Sesekali, rimbunnya hutan ini terputus oleh bukaan lahan tempat penduduk asli bermukim dan membuka ladang (sawah kering). Para bawahan kepala suku biasanya membangun gubuk kecil di tengah hutan, menebang pohon, membakar semak belukar, lalu menaburkan benih padi di atas abu sisa pembakaran. Sangat sulit menemukan sistem pertanian skala besar di kawasan dataran rendah ini, seperti perkebunan tebu yang seharusnya bisa tumbuh subur di sana.