Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847
Jejak sejarah pelayaran dunia mencatat bahwa para pelaut Arab telah membangun permukiman di pesisir Malabar pada akhir abad ke-1 (sekitar tahun 812 M). Di sana, Raja Sarama Perimal dari Calicut sangat menghormati komunitas Arab ini. Penduduk setempat menjuluki mereka sebagai kaum “Rumi” karena mereka datang dari arah barat. Menariknya, beberapa tokoh masyarakat Batak kuno juga sering menyebut “Rum” sebagai tanah asal usul leluhur mereka.
Menelusuri Jejak Pelayaran ke Timur
Bagaimana orang-orang Arab bisa sampai ke Sumatra? Catatan maritim menunjukkan bahwa para saudagar Arab berlayar dengan kapal mereka sendiri hingga ke Pantai Malabar. Di sana, mereka bertemu dengan kapal-kapal jung dari Tiongkok. Mengikuti rute kapal Tiongkok tersebut, pelaut-pelaut Arab ini menyeberangi Teluk Benggala menuju Kepulauan Nikobar, melintasi perairan Nusantara, hingga berlayar ke Tiongkok.
Dalam perjalanan laut yang panjang ini, sangat mungkin sebagian pelaut Arab singgah dan menetap di daratan Sumatra. Namun, teori bahwa mereka adalah nenek moyang bangsa Batak memiliki satu kelemahan besar: masyarakat Batak di masa lalu sama sekali tidak mengenal ajaran maupun hukum Islam.
Kemungkinan Pengaruh Arab Pra-Islam
Lalu, bagaimana jika yang singgah adalah para pelaut Arab pagan—mereka yang mengarungi samudra jauh sebelum agama Islam lahir dan menyebar di Makkah? Meskipun belum ada bukti tertulis yang memastikan mereka memasuki perairan Nusantara pada masa itu, kemungkinan ini tetap terbuka lebar.
Para penulis Arab paling awal bahkan sudah mengenal Semenanjung Malaya dengan sebutan “Zyrbad” (tanah di bawah angin). Bahkan, sarjana kolonial seperti Thomas Stamford Raffles meyakini bahwa hampir seluruh legenda, roman, dan kisah epik Melayu sebenarnya berakar dari tradisi Arab kuno.
Jika memang ada ikatan keturunan dengan bangsa Arab kuno masa lalu, fitur fisik masyarakat Batak—yang merangkum keberagaman sub-etnis luhur seperti Batak Toba, Batak Karo, Batak Pakpak, dan Batak Dairi—sebenarnya selaras dengan teori ini. Fisik mereka terbukti sangat berbeda dari ras Mongolia, dan lebih memancarkan ciri khas ras Hindu-Kaukasia atau Oseanik kuno.
Toba: Jantung dan Rahim Peradaban Batak
Meski perbandingan dengan bangsa luar sangat memikat, kita tidak bisa gegabah menarik kesimpulan tanpa bukti linguistik dan arkeologis yang kuat.
Terlepas dari berbagai teori migrasi benua tersebut, seluruh kepala adat dan tokoh masyarakat Batak yang memahami sejarah kaumnya menyepakati satu kebenaran mutlak: Dataran tinggi Toba yang megah di jantung Sumatra adalah wilayah yang pertama kali mereka huni. Ketika seluruh pesisir dan wilayah sekitar masih berupa hutan belantara yang belum tersentuh, dataran tinggi Toba telah berdenyut sebagai pusat peradaban yang padat penduduk, menjadi rahim yang melahirkan ketangguhan dan kekayaan budaya bangsa Batak yang kita kenal hingga hari ini.