Dr. J. Leyden 1821: 7. Kota Megah Bijnagar dan Cahaya Misterius di Gunung Mahameru

Setelah menyelesaikan petualangan luar biasanya di bawah laut, Raja Suran kembali ke negeri Kling. Di sana, ia mendirikan sebuah kota besar yang sangat megah bernama Bijnagar. Ia membangun benteng kota itu dari batu hitam dengan tembok yang luar biasa tebal dan tinggi. Teknik penyambungan batunya begitu ahli hingga tidak ada celah sedikit pun; dinding itu tampak mulus seperti logam cair yang membeku. Gerbangnya pun tak kalah mewah, terbuat dari baja yang bertahtakan emas dan permata.

Sumber: Dr. John Leyden: Malay  Annals – 1821 – Sejarah Melayu

Di dalam kota itu, terdapat tujuh bukit dan sebuah danau raksasa seluas samudra. Saking luasnya danau itu, seekor gajah yang berdiri di satu sisi tidak akan terlihat dari sisi lainnya. Danau ini menjadi rumah bagi segala jenis ikan. Di tengahnya, berdiri sebuah pulau tinggi yang selalu diselimuti kabut, penuh dengan pepohonan buah dan bunga-bunga indah tempat sang raja bersantai. Tak jauh dari sana, terbentang hutan luas tempat Raja Suran biasa berburu binatang liar dengan menunggangi gajahnya.

Pecahnya Garis Keturunan Raja Suran

Waktu berlalu, Raja Suran dikaruniai beberapa anak. Dari Putri Onangkiu, ia memiliki seorang putri cantik tiada banding bernama Chanduwani Wasias. Sementara dari Putri Gangga, ia memiliki tiga putra: Bichitram Shah, Palidutani, dan Nilumanam.

Raja Suran membagi kekuasaannya; Palidutani memerintah di Amdan Nagara, dan Nilumanam di negeri Chandukani. Namun, sang raja hanya memberikan wilayah kecil kepada putra sulungnya, Bichitram Shah. Karena tidak puas, pangeran muda yang ambisius ini memutuskan untuk pergi. Ia berlayar dengan armada dua puluh kapal perang untuk menaklukkan wilayah maritim. Namun, saat mencapai Laut Silbou, badai dahsyat menghantam armadanya hingga tercerai-berai. Nasib Bichitram Shah pun menjadi misteri bagi dunia luar saat itu.

Keajaiban di Gunung Sagantang Maha Miru

Kisah berpindah ke tanah Andala, tepatnya di sebuah negeri bernama Paralembang (Palembang). Saat itu, Palembang dipimpin oleh seorang penguasa bernama Damang Lebar Daun, yang masih memiliki garis keturunan dari Raja Sulan. Di wilayah tersebut, mengalir sungai Muartatang yang bermuara ke Sungai Melayu, dekat dengan Gunung Sagantang Maha Miru.

Di gunung tersebut, hidup dua wanita muda bernama Wan Ampu dan Wan Malin yang bekerja menanam padi di sawah yang luas. Suatu malam, mereka terkejut melihat pemandangan aneh: sawah mereka berkilauan dan gemerlap seperti kobaran api. Mereka ketakutan, mengira ada naga atau ular besar yang datang.

Saat fajar tiba, mereka memberanikan diri untuk memeriksa sumber cahaya tersebut. Betapa kagetnya mereka ketika menemukan bulir-bulir padi telah berubah menjadi emas, daunnya menjadi perak, dan tangkainya menjadi kuningan. Bahkan, seluruh tanah di gunung itu berubah warna menjadi keemasan.

Di tengah hamparan emas itu, mereka melihat tiga pemuda tampan yang mengenakan pakaian elegan. Pemuda yang di tengah mengenakan pakaian kebesaran raja dan menunggangi seekor banteng putih bersih seputih perak. Dua pemuda lainnya berdiri di sisinya, masing-masing memegang pedang dan tombak.

Dengan gemetar, kedua wanita itu bertanya apakah mereka Jin atau Peri. Pemuda di tengah menjawab dengan tenang, “Kami bukan Jin atau Peri, melainkan manusia. Kami adalah keturunan Raja Secander Zulkarneini dan keturunan Raja Suran, penguasa Timur dan Barat. Silsilah kami pun tersambung hingga Raja Suleiman.”

Pemuda itu memperkenalkan dirinya sebagai Bichitram Shah, didampingi oleh Nila Pahlawan dan Carna Pandita. Ia juga menunjukkan benda-benda kebesaran mereka: pedang Chora Sa Mendang Kian, tombak Limbuar, dan stempel Cayu Gampit. Nila Pahlawan kemudian menceritakan seluruh sejarah perjalanan leluhur mereka, mulai dari pernikahan Raja Secander hingga petualangan Raja Suran di bawah laut, yang membawa mereka sampai ke puncak gunung tersebut.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.