Van Alkemade 1887: 9. Kisah Pulau Bengkalis: Ambisi Singapura Kedua dan Emas Berlian di Perut Ikan Terubuk

Di sudut Teluk Batil, kita akan menemukan sebuah permukiman kecil yang dihuni sekitar dua puluh orang Tionghoa. Mereka bertahan hidup dengan mengumpulkan hasil hutan dan menebang kayu. Kayu-kayu ini kemudian mereka jual sebagai bahan bakar kepada kapal-kapal uap yang singgah melintas.

J. A. Van Rijn Van Alkemade: Perjalanan dari Siak ke Pulaulawan – 1887

Bergeser ke muara Sungai Siak, alam menyajikan rintangan yang cukup merepotkan. Saat air laut surut, gundukan pasir besar sering muncul dan menutupi muara. Akibatnya, kapal-kapal hanya bisa keluar dari sungai melalui jalur air atau saluran tertentu. Arus sungai yang sangat kuat juga kerap mengancam keselamatan kapal-kapal kecil yang mencoba menerobos masuk.

Jika kita menyusuri Brouwerstraat (Selat Bengkalis) dari muara Siak dan melewati Tanjung Balei, lanskap Pulau Bengkalis akan segera menyambut pandangan kita. Pada masa lalu, para pejabat pemerintah Hindia Belanda memiliki ambisi yang sangat besar. Mereka membayangkan Bengkalis kelak akan tumbuh menjadi pusat perdagangan raksasa yang bisa menyaingi pesona Singapura.

Namun, realita sering kali tidak seindah angan-angan. Pemerintah kolonial sudah mencoba berbagai strategi, termasuk membeli pulau ini dari Sultan Siak seharga 8.000 gulden pada tahun 1872 dan menyulapnya menjadi pelabuhan bebas. Sayangnya, semua upaya itu gagal mengangkat derajat Bengkalis seperti yang mereka impikan.

Denyut Kemakmuran Masyarakat Melayu

Meskipun gagal menjadi “Singapura Kedua,” kita tidak bisa menyangkal bahwa Bengkalis terus menggeliat maju. Jika kita membandingkan catatan lama Bapak Netscher—yang menyebut daerah ini hanya sebagai “hutan dan semak belukar yang dibersihkan”—dengan kondisi pada masa itu, Bengkalis telah menunjukkan denyut kemakmuran yang jauh lebih baik.

Pulau Bengkalis, yang dahulu masyarakat sebut sebagai Mangkalis, membentang seluas kurang lebih 84 mil persegi. Sekitar 3.000 penduduk Melayu mendiami pulau ini. Mereka menyebar dan membangun kehidupan di berbagai kampung utama, seperti Kampung Baru (Bengkalis), Kelapapati, Pangkalan Batang, Sebauk, Sendrak, Meskom, Bantan Belakang, Kebun Dalem, Tanjung Penebal, Penampi, Sekodi, Sungai Alam, dan Singgoro.

Seorang Penghulu memimpin jalannya pemerintahan di setiap kampung, dan seorang Imam atau ulama selalu setia mendampingi tugasnya. Sementara itu, sebagian kecil penduduk lokal—yang saat itu sering disebut “Orang Utan” atau orang rimba—memilih menyepi di pedalaman hutan. Mereka menyambung hidup secara mandiri dengan menanam padi dan mencari hasil hutan.

Cahaya Rembulan dan Perburuan Ikan Terubuk

Kehidupan ekonomi mayoritas penduduk Melayu sangat bergantung pada kemurahan laut. Mereka berprofesi sebagai nelayan dengan satu target utama: memburu ikan terubuk. Telur ikan terubuk yang asin menjadi komoditas ekspor andalan yang bernilai sangat tinggi, sedangkan daging ikannya mereka jual dalam keadaan kering.

Masyarakat pesisir memiliki tradisi yang memukau saat menangkap ikan terubuk. Mereka selalu berburu di bawah pendar cahaya rembulan. Pada malam hari, perairan Selat Bengkalis akan tampak hidup dan bercahaya karena dipenuhi sampan-sampan pukat yang masing-masing menyalakan lampu penangkap ikan.

Kehadiran kapal-kapal uap belakangan membuat kawanan ikan terubuk menyingkir dan bermigrasi ke arah laut lepas pulau Bengkalis. Meski begitu, para nelayan masih sering mendapat tangkapan yang luar biasa melimpah. Saking melimpahnya, nelayan terkadang hanya membelah perut ikan untuk mengambil telurnya saja, lalu membuang sisa tubuh ikan tersebut begitu saja.

Runtuhnya Ambisi Perkebunan

Beralih ke daratan, hutan Bengkalis menyimpan kekayaan alam berupa getah, lilin, rotan, dan berbagai jenis kayu berkualitas tinggi. Pemerintah Hindia Belanda sempat merayu para pengusaha perkebunan untuk membuka lahan pertanian di pulau ini dengan mempermudah urusan perizinan.

Tragisnya, rencana besar ini berujung buntu. Satu-satunya jejak industri pertanian yang tersisa hanyalah sebuah perkebunan singkong yang hidup segan mati tak mau di dekat daerah Sungai Alam.

Untuk menghubungkan antarwilayah, masyarakat memiliki akses jalan darat selebar lima meter yang membentang dari Sungai Alam, melewati Bengkalis, hingga bermuara di Meskom. Sebuah jalan setapak kecil juga membelah jantung pulau, menghubungkan Bengkalis langsung menuju Bantan Belakang. Selain jalur darat, penduduk mengandalkan sungai-sungai kecil untuk saling mengunjungi menggunakan sampan mungil.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.