Van Den Bor 1893: Legenda Goa Liang Namuap Bagian 4

Sang ibu, pada gilirannya, dijaga oleh roh-roh yang tidak terlihat; dengan cara yang teka-teki, makanan-makanan pilihan dan penganan lezat disajikan di hadapannya, dan setelah dia menikmatinya, makanan-makanan itu menghilang lagi secara misterius.

Lihat kami di youtube: https://www.youtube.com/@SejarahBatakID/

Suami Si Adatua sama sekali tidak menyukai semua ini, terlebih lagi karena roh-roh telah memberitahukan kepadanya bahwa wanita yang baru melahirkan itu tidak boleh melakukan pekerjaan yang melelahkan, itulah sebabnya dia sendiri yang harus mengerjakan pekerjaan rumah tangga sehari-hari.

Menjelang waktu di mana anak itu dianggap dapat ditinggalkan dari perawatan ibu yang pertama, Si Adatua kembali dirasuki oleh seorang roh, yang memberitahukan kepada suaminya (Nama lamanya Ja Mangadang1 kemudian diubah menjadi Bayo Rajo Mangadang Bayo Angin Si Pekpengan2) bahwa, karena anak roh pertama, Datu Bosar, lahir di Liang Na Muap, anak roh kedua akan melihat cahaya kehidupan di tengah-tengah manusia biasa, tetapi harus diperlakukan dengan hormat yang pantas, dan harus dihormati dengan cara yang khidmat.

Ja Mangadang tidak terlalu peduli dengan hal ini; dia khawatir roh-roh leluhurnya tidak akan senang karena harus menerima makhluk asing di antara keturunan mereka. Karena itu, dia terus menunda-nunda jawabannya, dan kemudian roh itu menyatakan bahwa, karena Ja Mangadang jelas-jelas tidak senang dengan hal itu, anak itu juga akan dilahirkan di Liang saja, dan bahwa dentangan “Sarindo3” (suara guntur jauh, tinggi di udara) akan memberitahukan peristiwa itu kepadanya.

Tiga hari setelah roh itu menyatakan diri demikian, terdengarlah sarindo dan Datu Sarindo pun lahir, sementara itu kejadiannya kembali berlangsung secara misterius dan penuh teka-teki seperti setelah kelahiran Datu Bosar. Dua kali lagi Si Adatua melahirkan dengan cara yang sama, melahirkan Si Dayang4 Ale Bulan dan Datu Hobal Balutan.

Si Adatua meninggal dunia pada usia lanjut. Ketika mayatnya diusung keluar dari rumah, terdengarlah dentuman meriam yang berat dan pukulan gordang yang nyaring di Liang Na Muap, terdengar sampai di kampung (yaitu pada jarak tiga palen)/Beberapa orang tua menyatakan masih teringat mendengar suara-suara tersebut.

Dia dimakamkan di sebuah bukit dekat kampung, di mana juga saat ini masih menjadi pemakaman. Akan tetapi kemudian roh-roh menyatakan, bahwa Halak Bunian telah membawanya pergi dan membawanya ke Liang Na Muap, di mana dia bersama suami dan anak-anaknya tinggal sejak saat itu. Dan dengan ini berakhirlah legenda tentang Liang Na Muap.

Catatan Van Den Bor:
Hal ini terjadi ketika orang-orang Parapat terkena wabah (bala), mereka memanggil roh-roh; seorang putri duniawi dari Si Adatua, bernama Si Rumia, saat itu bertindak sebagai perantara. Memanggil roh-roh itu disebut ‘Parahon’ dan dilakukan dengan memukul gordang dengan cara tertentu, cara mana disebut ‘Gordang ni Begu Siyar’ atau juga ‘Gordang Sampuara Batu Magulang’, dan menurut iramanya perantara, Hasiyaran, pergi ‘Manortor’ (menari). Jika perantara itu kemudian masuk dalam keadaan ‘Siyar-Siyaran’, maka orang dapat mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang ingin diajukan kepada roh-roh, dan yang kemudian dijawab oleh roh-roh dengan berbicara melalui perantara yang dirasuki tersebut.

Sumber: R. C. Van Den Bor: De Liang Na Muap En De Legende Daaraan Verbonden – 1893

Catatan tambahan (lihat Daftar Pustaka ) oleh: KHaS.

  1. Kamus H. J. Eggink 1936:
    ADANG, mangadang, bersembunyi dan menunggu seseorang, menyergap, menguntit; keluar dengan senapan untuk melihat apakah seseorang dapat membidik buruan; adang djolo motor, menghentikan mobil! pangadangan, tempat di mana seseorang memiliki peluang terbaik untuk bertemu buruan; mangadangi, berjalan ke mana-mana; madang-adarig, berjalan-jalan tanpa tujuan; horbo simaradang toea, nama hias untuk kerbau (bdk. adam).
    ↩︎
  2. Kamus H. J. Eggink 1936:
    BAYO, orang asing, tidak dikenal; pria yang memiliki hubungan kekerabatan sedemikian rupa sehingga seorang wanita tidak boleh berbicara dengannya; juga sebaliknya; marbayo, menerima tamu; mambayo, menampung seseorang; parbayo, seseorang yang dengan senang hati menerima tamu, ramah; bayo ni abit, menstruasi; bayo pangoli, mempelai pria.
    BAYO-BAYO, bayo-bayo na godang, kepala marga tempat raja sebuah kampung mengambil istrinya; kepala marga selain marga milik raja; orang ini memberikan segala macam jasa penting dalam urusan adat.
    Pekpengan tidak ditemukan yang terdekat adalah kata PEKPEK, mamekpehi, mengikis sebagian gigi dengan pahat saat mengikir gigi.
    ↩︎
  3. Kamus H. J. Eggink 1936 :
    SARINDO, deru angin topan atau angin yang sangat kencang.
    ↩︎
  4. Kamus H. J. Eggink 1936 :
    DAYANG, gelar atau nama roh perempuan, terkadang juga merupakan nama depan benda mati.
    ↩︎

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.