C. De Haan 1870: 9. Struktur Sosial Batak: Legenda Lima Marga, Sanina, dan Anakberu

Bagian 10: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Filosofi Lima Marga dalam Masyarakat Batak Kehidupan sosial masyarakat Batak sangat lekat dengan pembagian suku (marga) serta peran Sanina dan Anakberu. Pada dasarnya, terdapat lima marga utama. Dalam kelompok Karo-karo (Karo), marga tersebut adalah Ginting, Perangin-angin, Sembiring, Tarigan, dan Karo-Karo. Sementara dalam kelompok Tébatebasch (Toba), namanya adalah Muntei, Sinaga, (Nai) Suanon, Girsang, dan Nébàgho (Naibaho).1

Ikuti kami di: Youtube Sejarah Batak

Bagi orang Batak, keberadaan lima marga2 ini adalah sebuah keniscayaan alamiah yang diabadikan dalam pepatah: “Sebagaimana makan membutuhkan lima hal (air, beras, cabai, garam, dan api), demikian pula marga harus berjumlah lima.” Lima suku asli ini disebut marga tua, sedangkan percabangannya yang menyebar dan mengambil nama tempat tinggal baru disebut marga sengudak3.

2. Kemunculan Pria Berukuran Satu Jengkal Dua Jari

Mengenai asal-usul kelima marga ini, terdapat sebuah legenda kuno. Pada mulanya, hanya ada dua manusia (sepasang suami istri) yang memiliki lima anak laki-laki. Suatu hari, muncul seorang pria misterius yang tingginya hanya “satu jengkal dan dua jari4“. Sosok ini mengaku sebagai Tuhan yang memberi nama pada segala hal.

Saat ia bertanya berapa jumlah mereka, keluarga tersebut belum bisa berhitung dan hanya menggunakan jari. Pria kecil itu kemudian mengajarkan bahwa jumlah mereka adalah “tujuh” (ayah, ibu, dan lima anak). Karena ada lima anak laki-laki, ia pun menetapkan pembentukan lima marga5.

3. Perjalanan ke Kupultakan dan Perjodohan

Pria kecil itu meminta kelima putra tersebut membawanya ke sebuah tempat bernama Kupultakan6. Ia dibawa di dalam cembul (cepuk/kotak kapur sirih) dan tetap bisa berbicara dari dalamnya. Setibanya di sana, ia meminta dilemparkan ke dalam benteng (kuta). Di dalam benteng itu, pria kecil tersebut bertemu dengan sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang orang tua dan lima anak perempuan yang tidak bisa berhitung. Ia pun mengajarkan mereka berhitung.

Ia kemudian keluar menemui kelima putra yang menunggu, dan memberitahu bahwa ada lima perempuan di dalam yang bisa mereka nikahi. Awalnya, ayah dari kelima putra itu menolak ide pernikahan tersebut. Sang ayah khawatir jika keluarga mereka bertambah banyak, mereka tidak akan tahu cara mencari makan selain mengandalkan embun dan angin.

4. Pengetahuan Bertani dan Penyebaran Marga Menanggapi kekhawatiran itu, sang pria kecil menenangkan mereka. Ia menunjukkan tangkai padi yang tumbuh liar di hutan, mengajarkan mereka cara menanam benihnya, merawat ladang, serta mengenalkan berbagai buah-buahan untuk makanan. Setelah orang tua dari kedua belah pihak diyakinkan dan diajari cara bertahan hidup, pria kecil itu menikahkan kelima putra dan kelima putri secara berurutan sesuai usia mereka (sulung dengan sulung, hingga bungsu dengan bungsu).

Setelah menikah, setiap pasangan bermigrasi ke wilayah yang berbeda:

  • Pasangan pertama (sulung) pindah ke Barat, ke kampung Pestima7.
  • Pasangan kedua ke Ngabbia8.
  • Pasangan ketiga ke Arisan9.
  • Pasangan keempat ke Purba10.
  • Pasangan kelima ke Aguni11.

5. Anak yang Bisu, Hadiah Gaib, dan Garis Keturunan (Braibrai/Brebre12) Pasangan sulung di Pestima kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang fisik dan organ tubuhnya sempurna, namun bisu. Sang ayah bertanya kepada pria kecil mengapa anaknya tidak bisa bicara. Pria itu menjelaskan bahwa anak tersebut lahir di hari yang buruk; jika ia langsung bisa berbicara, kedua orang tuanya akan mati.

Untuk menyembuhkannya, pria kecil itu menyuruh sang ayah memandikan anaknya di sungai dan memercikinya dengan getah serta daun obat-obatan. Keesokan harinya, anak itu pun bisa berbicara. Pria kecil itu kemudian memberikan hadiah dan menetapkan marga dari pihak ayah serta marga dari pihak ibu (brebre) kepada anak tersebut.

Kejadian serupa—anak lelaki yang terlahir bisu lalu disembuhkan—kemudian terjadi secara berurutan pada keempat pasangan lainnya. Setiap anak mendapatkan hadiah dan penetapan marga yang berbeda:

  • Anak Pasangan Pertama (Pestima): Meminta hadiah patung ayam jantan emas. Marganya adalah Ginting, dan brebre-nya adalah Perangin-angin.
  • Anak Pasangan Kedua (Ngabbia): Diberi hadiah pisau kalasan kanakkanak (pedang kecil). Marganya Perangin-angin, dan brebre-nya Sembiring.
  • Anak Pasangan Ketiga (Arisan): Diberi hadiah Kecapi (alat musik). Marganya Sembiring, dan brebre-nya Tarigan.
  • Anak Pasangan Keempat (Purba): Diberi hadiah sarunei (serunai/klarinet). Marganya Tarigan, dan brebre-nya Karo-karo.
  • Anak Pasangan Kelima (Aguni): Diberi hadiah pustaka (kitab pengobatan). Marganya Karo-karo, dan brebre-nya Ginting.

Siklus perjodohan ini terus berlanjut. Pada generasi berikutnya, semua pasangan melahirkan anak perempuan. Maka, putra dari pasangan pertama menikahi putri dari pasangan kedua; putra dari pasangan kedua menikahi putri dari pasangan ketiga, dan seterusnya. Begitulah marga-marga ini menyebar dan berbaur di seluruh negeri.

6. Konsep Senina dan Anakberu

Dalam tatanan sosial yang terbentuk dari marga-marga ini, dikenal istilah Sanina dan Anakberu. Senina (mirip dengan saninik dalam bahasa Melayu) merujuk pada kerabat sedarah yang berasal dari leluhur yang sama, atau dalam arti sempit berarti saudara laki-laki. Sementara itu, Anakberu merujuk pada menantu laki-laki atau saudara ipar laki-laki. Kedua kelompok ini memegang peranan yang sangat penting dalam sistem pemerintahan dan kehidupan adat masyarakat Batak.

  1. Sejak 1870 C De Haan sudah tercatat bagaiman Silima Merga punya persamaan atau hubungan dengan Marga-Marga di Toba dan Simalungun. Sementara W. M. Hutagalung baru menerbitkan Buku Tarombo tahun 1926, yakni 56 tahun kemudian.
    Sebenarnya penjabarannya lebih luas dari yang di tulis C. De Haan diatas:
    Ginting = Munthe (C. De Haan) => Kenyataan semua Marga dalam Parna (Parsadaan Marga Naimbaton masuk dalam Ginting jika Di Karo), Ginting asli sendiri adalah berasal dari Marga Tamba di Samosir ( Lihat buku M. Bukit).
    Perangin-angin: Sinaga (C. De Haan) => Kenyataan semua marga keturunan Guru Tatea Bulan masuk dalam Rumpun Perangin-angin di Karo.
    Sembiring: Suanon (C. De Haan) => Saat ini yang diketahui umum keturunan Silahi Sabungan-lah yang jika ke Karo menjadi Sembiring, sementar Nai Suanon adalah orang Tua dari Silahi Sabungan, Nai Suanon atau dikenal juga Tuan Sorba di Banua atau punya dua istri yakni:
    Boru Sariburaja
    Siboru Basopaet
    Dari Kedua istri itu lahir anak-anak (Inilah yang melahirkan ratusan marga Nai Suanon):
    1. Sibagot Ni Pohan
    2. Sipaettua
    3. Silahi Sabungan
    4. Raja Oloan (ini ke Karo-karo)
    5. Raja Hutalima
    6. Raja Sumba (umumnya Ini ke Tarigan)
    7. Raja Sobu
    8. Raja Toga Naipospos
    Tarigan: Girsang (C. De Haan) => Seluruh kelompok keturunan marga Keturunan Simamora (Purba, Debataraja, Manalu dan Rambe) juda ada Sihombing lumbantoruan di Karo masuk ke Tarigan.
    Karo-Karo: Naibaho (C. De Haan) => yang diketahui adalah semua keturunan Siraja Oloan yang menurunkan marga-marga besar masuk ke Rumpun Karo-karo.
    Catatan Penting: Ada juga yang tidak mengikuti pakem diatas, Contoh: Ada Karo-karo Purba berasal dari Purba (Pakpak) Simalungun (Peraturen Sukapiring), umumnya Purba Simalungun masuk ke klan Tarigan. ↩︎
  2. Dikanal Sebagai Merga Silima yaitu kelima marga diatas yaitu Marga Induk: Ginting, Perangin-angin, Sembiring, Tarigan dan Karo-karo. Dalam urutan penyebutan banyak sekali perbedaan. Kelima marga induk diatas menurukan marga-marga cabang yang jumlahnya belasan. ↩︎
  3. Belum saya temukan arti Sengudak sebenarnya, sepertinya ini mengarah kepada Sembuyak kini yakni yang masih dapat ditelusuri sebagai satu keturnan, bisa juga satu rahim. ↩︎
  4. Disebut yang sejengkal dua jari ini berada tepat di hidung kita jika terlihat, sehingga jika kita melihat keatas maka seolah mahluk ini setinggi langit, untuk menghilangkannya kita harus melihat kebawah. ↩︎
  5. Sepertinya jadinya merga silima ini masih tergolong baru, sehingga mitologi yang dibuat kurang dapat diterima umumnya, meski ini tertulis di buku P. Tambun dan M. Bukit tapi di tolak oleh M. Singarimbun.
    Asal usul cabang merga silima yang sangat beragam dan masih banyak yang mempertahankan juga faktor “kegagalan” kosmologi ini memengaruhi sendi-sendi kehidupan dan peradatan masyarakat.
    Terlihat kumpulan marga di Karo bernama Persadaan (Persatuan) bukan keturunan (seperti Toga di Toba). ↩︎
  6. Kamus M. Joustra 1907:
    pultak, terbitnya matahari, tumbuh gigi;
    munculnya tumor; terungkap; bocor sepenuhnya; berlubang.
    arah pultak matawari, di Timur.
    kepultakan, Timur, tempat terbitnya matahari. ↩︎
  7. Pastima : Barat   ↩︎
  8. Manabia (atau Manyabia) = Barat Laut  ↩︎
  9. Harusnya Irisanna yakni Timur Laut ↩︎
  10. Kamus M. Joustra 1907:
    Purba, nama salah satu wilayah Desa siwaloh, Timur (ketika meramal, dll., orang selalu mulai dari Purba); nama kerajaan Timur kecil; nama sub-merga Tarigan; demikian pula Karo-karo; lebih lanjut, muncul dalam banyak nama tempat. ↩︎
  11. Kamus M. Joustra 1907:
    Aguni, salah satu wilayah desa-na-uwaluh, bagian tenggara (kata ini pasti diadopsi dari Toba). ↩︎
  12. Kamus M. Joustra 1907:
    bère, mere, memberi sesuatu, memberi makan hewan (lalu juga, meskipun jarang: ‘mb ere); mengizinkan sesuatu: ma i-b erena, dia tidak mengizinkannya, tidak menginginkannya; mempersembahkan kepada beras, atau kepada roh (seringkali juga mere-mere). mereken, memberi sesuatu kepada seseorang, menganugerahkan. bebere, akar kata (merga) dari pihak ibu; anak dalam kaitannya dengan saudara laki-laki ibu (mama), demikian juga lihat sebelumnya kela-, sepupu (keponakan) dalam kaitannya dengan mama. berën, apa yang dibutuhkan untuk sesuatu: hadiah, bakat dalam ungkapan seperti: berëngegeh, berên pantas, dari suatu pekerjaan, jabatan, layanan, dll., yang masing-masing membutuhkan kekuatan, kecerdasan. pemere, hadiah, pemberian. ptmUrên dalam: s enina sipemeren, menjadi saudara laki-laki (perempuan) menurut bebere; memiliki bebere yang sama. bere-berên, tempat suci, tempat pengorbanan (lihat juga Tob. sombaori). ↩︎

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.