Franz Junghuhn – Die Battaländer auf Sumatra – 1847
Dari pelabuhan sibuk Malaka, bangsa Melayu—yang akar leluhurnya berasal dari dataran tinggi Minangkabau atau wilayah Agam kuno—mengepakkan sayapnya ke seluruh penjuru Nusantara dan mencapai puncak kejayaan. Namun, roda sejarah berputar tajam ketika armada Portugis di bawah komando Afonso de Albuquerque menyerang dan merebut Malaka pada tahun 1511. Terdesak oleh invasi asing ini, Sultan Mahmud Shah membawa rakyatnya melarikan diri ke arah timur Semenanjung Malaya, tempat mereka kemudian membangun pusat kekuasaan baru yang tangguh bernama Kesultanan Johor.
Benteng Alam di Pesisir Timur Sumatra
Melihat rentetan pelarian dari Singapura pada 1252 hingga kejatuhan Malaka, muncul sebuah pertanyaan menarik: Apakah orang-orang Melayu yang melarikan diri, atau pasukan Jawa yang mengejar mereka, sempat mendarat di pantai timur Sumatra dan berinteraksi dengan bangsa Batak?
Catatan sejarah menunjukkan hal ini sangat mustahil terjadi. Pesisir timur Sumatra yang membentang di antara Sungai Siak dan Sungai Bilah merupakan benteng alam yang sangat tidak ramah. Kawasan tersebut ditutupi oleh hutan rawa purba yang luas dan nyaris tidak bisa ditembus oleh pejalan kaki. Interaksi dan komunikasi hanya bisa menembus pedalaman jika mereka menggunakan perahu menyusuri sungai-sungai utama. Kondisi geografis inilah yang menjaga wilayah pedalaman dari kerusuhan yang terjadi di pesisir.
Bukti Peradaban Batak yang Telah Maju
Dari pola migrasi masyarakat Minangkabau pada tahun 1160, kita justru bisa menarik satu kesimpulan emas mengenai sejarah Sumatra: Pada masa itu, tanah leluhur bangsa Batak sudah memiliki tingkat budaya dan peradaban yang sangat maju. Wilayah Angkola dan Mandailing pada abad ke-12 sudah ramai dihuni oleh perantau dari pusat peradaban Toba, yang tentu saja menjalin pertalian darah dan budaya dengan kerabat mereka di wilayah lain seperti Batak Karo, Batak Pakpak, dan Batak Dairi.
Mengapa kita bisa sangat yakin akan hal ini? Logikanya sangat sederhana dan kuat. Masyarakat Minangkabau kuno adalah petani tangguh yang terbiasa hidup di dataran dan lembah pegunungan yang sejuk. Ketika wilayah mereka kelebihan penduduk dan mengharuskan mereka beremigrasi, mengapa mereka memilih berlayar ke pesisir laut yang panas terik dan mengubah jalan hidup menjadi pelaut?
Mengapa mereka tidak sekadar berjalan kaki menyusuri jalur pegunungan ke arah utara? Padahal, ada rute dataran tinggi yang menyajikan iklim sejuk yang sama: membentang mulus dari dataran tinggi Agam, melintasi lembah Bonjol, Lubuk Sikaping, Rao, melaju ke lembah Mandailing dan Angkola, naik ke dataran tinggi Sipirok yang indah, melewati Silantom, hingga akhirnya bermuara di pesona bentang alam Toba yang megah.
Jawabannya hanya satu: Mereka tidak melakukan ekspansi ke arah utara karena lembah-lembah sejuk tersebut sudah didiami dan dijaga oleh bangsa Batak—sebuah bangsa berdaulat yang telah membangun peradaban kuat di sepanjang punggung Bukit Barisan jauh sebelum bangsa Eropa menginjakkan kaki di Nusantara.