G. C. E. Van Daalen – Nota Over Het Alas-Land – 1906
Bayangkan sebuah lembah hijau yang membentang luas di antara jajaran pegunungan tinggi. Itulah Tanah Alas. Lembah ini memanjang dari arah Barat Laut hingga Tenggara sepanjang 26 kilometer, dengan lebar mencapai 8 kilometer. Alam secara alami memagari wilayah ini: di utara berdiri tegak Gunung Menggurah, sementara di sisi timur, Gunung Sarbo Langet dan Dataran Tinggi Karo menjadi pembatasnya. Di selatan dan barat daya, pegunungan Kluet atau Gunung Sambarimau menjaga lembah ini dengan kokoh.
Secara geografis dan politik, Tanah Alas adalah titik temu yang unik. Wilayah ini bertetangga langsung dengan Tanah Gayo di utara, wilayah Langkat dan Karo di timur, serta Singkel dan Tapaktuan di sisi selatan dan barat.
Makna di Balik Nama “Alas”
Mengapa tempat ini disebut Alas? Jawabannya terletak pada bentuk buminya. Dalam bahasa setempat, Alas berarti “tikar”. Nama ini menggambarkan kondisi wilayahnya yang rata dan datar, layaknya tikar yang terbentang. Hampir seluruh area yang penduduk tanami berupa dataran yang landai, terutama di sisi kiri aliran sungai utama mereka, Lawe Alas.
Lembah besar ini terbagi menjadi tiga hamparan utama:
- Dataran Gorgor
- Dataran Batu Mbulon dan Bambel
- Dataran Ngkeran
Meski sebagian besar datar, ada sedikit area perbukitan tandus yang memisahkan dataran-dataran ini, namun hal itu tidak mengurangi keindahan lanskap “tikar” yang menjadi ciri khasnya.
Pembagian Wilayah dan Jejak Pemukim Pertama
Sejarah mencatat bahwa Tanah Alas terbagi menjadi dua wilayah kekuasaan besar atau Kejuronship. Bagian utara berada di bawah kendali Kejuron Batu Mbulon, sedangkan bagian tenggara dipimpin oleh Kejuron Bambel. Meski batas antara keduanya sering kali bersinggungan, garis antara Kuto Mbaru dan Pulo Lepang menjadi acuan utama pembatas wilayah mereka.
Siapakah penduduk aslinya? Tradisi lisan masyarakat setempat mengisahkan bahwa penghuni pertama lembah ini berasal dari wilayah Pase dan Kluet. Saat itu, jumlah mereka masih sangat sedikit. Kelompok dari Kluet memilih bermukim di Kampung Kepala Deso (yang kini kita kenal sebagai Terutong Pedi), sementara kelompok dari Pase mendirikan Kampung Sinago, sebuah desa bersejarah yang masih tegak berdiri hingga hari ini.