C. De Haan 1870: 10. Struktur Sosial Batak: Legenda Lima Marga, Sanina, dan Anakběru

Bagian 10: Ekspedisi Hindia Belanda ke Pedalaman Batak (C. De Haan 1870)

1. Filosofi Lima Marga dalam Masyarakat Batak Kehidupan sosial masyarakat Batak sangat lekat dengan pembagian suku (marga) serta peran Sanina dan Anakběru. Pada dasarnya, terdapat lima marga utama. Dalam kelompok Karo-karo (Karo), marga tersebut adalah Ginting, Perangin-angin, Sembiring, Tarigan, dan Karo-Karo. Sementara dalam kelompok Tébatěbasch (Toba), namanya adalah Muntei, Sinaga, (Nai) Suanon, Girsang, dan Nébàgho (Naibaho).

Bagi orang Batak, keberadaan lima marga ini adalah sebuah keniscayaan alamiah yang diabadikan dalam pepatah: “Sebagaimana makan membutuhkan lima hal (air, beras, cabai, garam, dan api), demikian pula marga harus berjumlah lima.” Lima suku asli ini disebut marga tua, sedangkan percabangannya yang menyebar dan mengambil nama tempat tinggal baru disebut marga sengudak.

2. Kemunculan Pria Berukuran Satu Jengkal Dua Jari Mengenai asal-usul kelima marga ini, terdapat sebuah legenda kuno. Pada mulanya, hanya ada dua manusia (sepasang suami istri) yang memiliki lima anak laki-laki. Suatu hari, muncul seorang pria misterius yang tingginya hanya “satu jengkal dan dua jari”. Sosok ini mengaku sebagai Tuhan yang memberi nama pada segala hal.

Saat ia bertanya berapa jumlah mereka, keluarga tersebut belum bisa berhitung dan hanya menggunakan jari. Pria kecil itu kemudian mengajarkan bahwa jumlah mereka adalah “tujuh” (ayah, ibu, dan lima anak). Karena ada lima anak laki-laki, ia pun menetapkan pembentukan lima marga.

3. Perjalanan ke Kupultakan dan Perjodohan Pria kecil itu meminta kelima putra tersebut membawanya ke sebuah tempat bernama Kupultakan. Ia dibawa di dalam cěmbul (cepuk/kotak kapur sirih) dan tetap bisa berbicara dari dalamnya. Setibanya di sana, ia meminta dilemparkan ke dalam benteng (kuta). Di dalam benteng itu, pria kecil tersebut bertemu dengan sebuah keluarga yang terdiri dari sepasang orang tua dan lima anak perempuan yang tidak bisa berhitung. Ia pun mengajarkan mereka berhitung.

Ia kemudian keluar menemui kelima putra yang menunggu, dan memberitahu bahwa ada lima perempuan di dalam yang bisa mereka nikahi. Awalnya, ayah dari kelima putra itu menolak ide pernikahan tersebut. Sang ayah khawatir jika keluarga mereka bertambah banyak, mereka tidak akan tahu cara mencari makan selain mengandalkan embun dan angin.

4. Pengetahuan Bertani dan Penyebaran Marga Menanggapi kekhawatiran itu, sang pria kecil menenangkan mereka. Ia menunjukkan tangkai padi yang tumbuh liar di hutan, mengajarkan mereka cara menanam benihnya, merawat ladang, serta mengenalkan berbagai buah-buahan untuk makanan. Setelah orang tua dari kedua belah pihak diyakinkan dan diajari cara bertahan hidup, pria kecil itu menikahkan kelima putra dan kelima putri secara berurutan sesuai usia mereka (sulung dengan sulung, hingga bungsu dengan bungsu).

Setelah menikah, setiap pasangan bermigrasi ke wilayah yang berbeda:

  • Pasangan pertama (sulung) pindah ke Barat, ke kampung Pestima.
  • Pasangan kedua ke Ngabbia.
  • Pasangan ketiga ke Arisan.
  • Pasangan keempat ke Purba.
  • Pasangan kelima ke Agoeni.

5. Anak yang Bisu, Hadiah Gaib, dan Garis Keturunan (Braibrai/Brebre) Pasangan sulung di Pestima kemudian melahirkan seorang anak laki-laki yang fisik dan organ tubuhnya sempurna, namun bisu. Sang ayah bertanya kepada pria kecil mengapa anaknya tidak bisa bicara. Pria itu menjelaskan bahwa anak tersebut lahir di hari yang buruk; jika ia langsung bisa berbicara, kedua orang tuanya akan mati.

Untuk menyembuhkannya, pria kecil itu menyuruh sang ayah memandikan anaknya di sungai dan memercikinya dengan getah serta daun obat-obatan. Keesokan harinya, anak itu pun bisa berbicara. Pria kecil itu kemudian memberikan hadiah dan menetapkan marga dari pihak ayah serta marga dari pihak ibu (brebre) kepada anak tersebut.

Kejadian serupa—anak lelaki yang terlahir bisu lalu disembuhkan—kemudian terjadi secara berurutan pada keempat pasangan lainnya. Setiap anak mendapatkan hadiah dan penetapan marga yang berbeda:

  • Anak Pasangan Pertama (Pestima): Meminta hadiah patung ayam jantan emas. Marganya adalah Genting, dan brebre-nya adalah Perangin-angin.
  • Anak Pasangan Kedua (Ngabbia): Diberi hadiah pisaw kalasan kanakkanak (pedang kecil). Marganya Perangin-angin, dan brebre-nya Sembiring.
  • Anak Pasangan Ketiga (Arisan): Diberi hadiah Kecapi (alat musik). Marganya Sembiring, dan brebre-nya Tarigan.
  • Anak Pasangan Keempat (Purba): Diberi hadiah sarunei (serunai/klarinet). Marganya Tarigan, dan brebre-nya Karo-karo.
  • Anak Pasangan Kelima (Agoeni): Diberi hadiah pustaka (kitab pengobatan). Marganya Karo-karo, dan brebre-nya Ginting.

Siklus perjodohan ini terus berlanjut. Pada generasi berikutnya, semua pasangan melahirkan anak perempuan. Maka, putra dari pasangan pertama menikahi putri dari pasangan kedua; putra dari pasangan kedua menikahi putri dari pasangan ketiga, dan seterusnya. Begitulah marga-marga ini menyebar dan berbaur di seluruh negeri.

6. Konsep Senina dan Anakberu Dalam tatanan sosial yang terbentuk dari marga-marga ini, dikenal istilah Sanina dan Anakběru. Senina (mirip dengan saninik dalam bahasa Melayu) merujuk pada kerabat sedarah yang berasal dari leluhur yang sama, atau dalam arti sempit berarti saudara laki-laki. Sementara itu, Anakběru merujuk pada menantu laki-laki atau saudara ipar laki-laki. Kedua kelompok ini memegang peranan yang sangat penting dalam sistem pemerintahan dan kehidupan adat masyarakat Batak.

Tinggalkan komentar

Anda tidak dapat menyalin isi halaman ini | You cannot copy content of this page.